Elan Berdikari Indra Sjafri

Penulis: Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group Pada: Selasa, 05 Mar 2019, 05:30 WIB podium
Elan Berdikari Indra Sjafri

"IA bukan pelatih biasa," kata seorang teman wartawan. Ia yang dimaksud ialah Indra Sjafri, pelatih timnas U-22 yang pekan lalu berjaya di Piala AFF 2019 di Kamboja. 'Garuda Muda' membungkam juara bertahan Thailand 2-1.

Terasa ada oasis di situ. Tubuh dan pikiran kita pun terasa segar kembali. Rupanya Indra, selain pelatih, juga motivator, guru, dan orangtua tempat pemain bertanya. Ia selalu menanamkan rasa bangga pada negerinya. Pantaslah para pemain selalu berlaga serupa para patriot demi 'Merah Putih'.

Kemenangan itu di luar ekspektasi. Target PSSI kali ini berjaya di SEA Games 2019 di Filipina dan lolos putaran final Piala Asia U-23 pada 2020. Indonesia menjadi satu-satunya tim tak terkalahkan sejak babak penyisihan. Meskipun di Grup B hanya menjadi runner-up, 'Garuda Muda' mampu menjungkalkan Kamboja 2-0 sebagai juara grup.

Di semifinal, pasukan Indra Sjafri membenamkan Vietnam 1-0, negara yang peringkat sepak bolanya bertengger di posisi 99 Federasi Asosiasi Sepak Bola Dunia (FIFA). Adapun Indonesia di peringkat 159 FIFA. Terlihat ada jarak yang jauh. Namun, anak-anak muda kita tak gentar. Di final, skuat 'Merah Putih' mengandaskan juara bertahan Thailand 2-1. Paripurna pencapaian itu.

Indra Sjafri nama yang saya dengar 'bunyinya' ketika timnas U-19 berlaga dan juara di Piala AFF pada 2013 di Sidoarjo, Jawa Timur. Kita menyaksikan permainan tim yang impresif; kompak, pantang menyerah, punya kecepatan, skill memadai, fisik prima, dan kesantunan yang terus dijaga.

 Indra Sjafri membawa U-19 menjadi tim yang 'enak ditonton dan perlu'. Penonton selalu meruah setiap kali 'Garuda Muda' berlaga. Di mana-mana orang bicara Indra Sjafri dan timnas U-19. Kini untuk kali kedua Indra mengukir prestasi level Asia Tenggara di kelompok usia lebih tinggi. Tahun lalu timnas U-16 asuhan Fachri Khusaini juga berjaya di Piala AFF. Enam tahun tiga kali juara Asia Tenggara di kelompok usia muda sungguh capaian yang menghidupkan asa pada sepak bola kita.

Pelatih kelahiran Lubuk Nyiur, Sumatra Barat, pada 1963 ini pula yang mengantarkan timnas U-19 lolos ke putaran final Piala Asia 2014 dengan membungkam Korea Selatan, sang juara bertahan, dengan skor 3-2. Terasa muskil. Justru inilah yang dilawan Indra. Selama ini para pemain seperti dibiarkan pikirannya dikuasai kemustahilan ketika melawan tim-tim kuat.

"Saya berusaha menanamkan mental dan kepercayaan diri yang kuat kepada anak-anak. Karena selama ini, mental yang dibangun selalu memosisikan kita berada di bawah. Jadinya, kita kalah terus," kata Indra.

"Jangan sampai otak atau pikiran mengatakan tak bisa karena jika begitu, niscaya otot-otot tubuh akan sepakat dan mematuhi otak. Kami percaya kekuatan pikiran sangat efektif dan hebat untuk meningkatkan kapasitas perjuangan para pemain," kata Indra lagi seperti tertulis dalam buku Indra Sjafri: Menolak Menyerah (2014) karya FX Rudy Gunawan di halaman 117.

Indra memang bukan pelatih yang berjejak dari pemain ternama. Ia pernah merumput membela PSP Padang 1986-1991. Itu sebabnya ada yang menjuluki Indra pelatih kampung. Ia mencari pemain dengan blusukan dari 'kampung ke kampung' meski ada yang mencibirnya. Namun, cara Indra justru terasa lebih membumi. Ia melihat fakta di lapangan, bukan dari laporan 'orang-orang suruhan'.

Sekadar menyebut beberapa nama seperti Evan Dimas Darmono (Jawa Timur) Maldini Pali (Sulawesi Barat), dan Yabes Roni Malaifani (Alor, NTT). Mereka ialah hasil blusukan Indra. Sebenarnya blusukan Indra karena kompetisi usia muda tak berjalan baik, sementara rekrutmen timnas mestinya dari kompetisi usia muda yang teratur.

 Indonesia, kata Indra, negara besar yang harus berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) dan betanding sampai titik darah penghabisan. Ia tak bosan memompakan elan vital pantang menyerah. Bagi Indra, ketika para pemain memasuki lapangan, tak ada yg dipikirkan kecuali memainkan bola dengan segala kehormatan untuk menang. Demi bangsa, yang pasti akan mematrikan rasa bangga. Kebanggan juga akan melahirkan kepercayaan.

Di dalam buku itu, Indra berusaha mendidik para pemain menjadi orang-orang besar, bukan manusia kerdil yang mau dipermainkan bangsa lain. Terasa motivasi itu.

Tanpa harus menunggu Indra mengangkat trofi tinggi-tinggi timnas senior di Piala AFF, bolehlah negara memberi penghargaan khusus kepada Indra Sjafri. Pelatih yang dua kali juara Asia Tenggara. Kontras dengan dunia politik yang tak sudah membuat publik terbelah. Dengan bola Indra membuat kita bersatu dan berdiri di atas kaki sendiri. Kita beberapa kali juara tanpa harus dengan pelatih asing.
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More