Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Pintu Masuk bagi AHY

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
04/3/2019 05:10
Pintu Masuk bagi AHY
()

PEMILU serentak kiranya membawa kerisauan bercabang dua. Cabang pertama ialah kerisauan apakah partai bakal meraih kursi DPR yang ditargetkan.

Tentu ada partai yang diam-diam mengalami kerisauan yang lebih dalam, apakah lolos ambang batas parlemen. Jangan-jangan Pemilu 2019 ini merupakan ajang penyembelihan partai masuk ke lubang kubur.

Cabang kedua ialah kerisauan apakah presiden yang diusung bakal menang pilpres. Partai dalam kelompok kerisauan ini terbagi dalam tiga jenis. Jenis yang pertama partai yang mendapat efek elektoral terbesar berkat partainya mencalonkan kadernya menjadi capres. Partai jenis ini hanya ada dua, yaitu PDI Perjuangan dan Gerindra.

Jenis yang kedua partai yang tidak mendapat efek elektoral pencapresan, tetapi mati-matian memenangkan capres-cawapres yang turut diusungnya. Partai konsisten memikul tanggung jawab. Partai jenis ini yang saya tahu betul ialah Partai NasDem yang sejak dini telah menyatakan mengusung kembali Jokowi untuk menjadi presiden dua periode.

Jenis yang ketiga partai yang tidak mendapat efek elektoral dari pencapresan, lalu mengambil sikap mengerahkan energi untuk mengurus diri sendiri dalam pemilihan legislatif. Inilah jenis kerisauan yang dialami Partai Demokrat, yang terbaca dalam pidato politik yang disampaikan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), anak SBY, Jumat (1/3).

AHY tidak sebatas mengungkapkan bahwa hanya partai pengusung utama calon presidenlah yang paling berpotensi mendapatkan efek elektoral terbesar. Lebih dari itu, ia mengekspresikan kerisauan yang amat dramatis ketika AHY bilang, jika kondisi ini berlanjut di masa depan, bukan tidak mungkin era multipartai akan berakhir, dan menyisakan hanya dua partai besar, seperti di Amerika Serikat.

Partai Demokrat formal mencalonkan Prabowo-Sandiaga, tetapi dalam pidato politik itu nama capres-cawapres itu tidak disebut sama sekali. Pidato itu pun dibahasakan sebagai rekomendasi untuk presiden mendatang, yang mengandung makna juga ditujukan kepada Jokowi, bila Jokowi yang menang.

Kata AHY, “Kami menyadari, Demokrat tidak memiliki kader utama yang menjadi calon presiden dan calon wakil presiden 2019-2024. Karenanya, tidaklah berlebihan jika melalui forum ini, kami menyampaikan rekomendasi kepada presiden mendatang, sebagai wujud kontribusi Partai Demokrat dalam memperjuangkan harapan rakyat Indonesia.”

Sikap itu menunjukkan bahwa dalam pilpres Partai Demokrat kembali berada di tengah, tidak di sini, tidak pula di sana. Inilah sikap asli SBY, yang disebutnya sebagai penyeimbang.

Kembali ke watak asli itu kiranya publik tahu hal itu terutama karena AHY gagal diplot menjadi cawapres. SBY berhasil menjadikan AHY sebagai calon gubernur Jakarta, tetapi gagal menjadikannya cawapres. Kiranya skenario alih generasi untuk AHY terhenti sementara karena pilpres memang berbeda dengan pilgub. Sampai kapan terhenti?

Apa pun alasannya AHY tidak dikontestasikan/dikompetisikan dalam pemilu legislatif. Kancah legislatif itu untuk Edhie Baskoro Yudhoyono, anak SBY yang kedua. AHY kiranya diekspos untuk menjadi penyelenggara negara di ranah eksekutif.

Hemat saya, pintu masuk tercepat bagi AHY melalui jalur political appointee. Untuk itu yang terdekat ialah duduk di kabinet dalam pemerintahan hasil Pemilihan Presiden 2019. Maka dari itu, bacalah pidato politik AHY yang berisi rekomendasi kepada presiden mendatang sebagai pernyataan politik bahwa SBY dan partainya, Partai Demokrat, sekalipun resminya mencalonkan Prabowo, siap berkoalisi dengan kubu Jokowi bila Jokowi yang terpilih menjadi presiden masa jabatan kedua.

Saya yakin syaratnya yang terpokok AHY menjadi menteri. Apakah untuk itu mereka berkeringat? Sebaik-baiknya perkara pertanyaan itu disimpan saja di dalam hati.



Berita Lainnya
  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.