Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Geliat Desa

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
23/2/2019 05:30
Geliat Desa
()

STEREOTIP yang sering muncul ketika kita berbicara desa ialah wilayah yang paling tertinggal dari pembangunan. Kita selalu membayangkan desa sebagai kumpulan anggota masyarakat yang terjebak dalam rutinitas dan tidak memiliki inisiatif untuk bergerak maju. Tidak usah heran apalagi kita mengolok-olok orang yang ketinggalan zaman dengan sebutan ‘ndeso’.

Itu sebenarnya merupakan stereotip yang terbentuk pada zaman kolonial. Tekanan yang dilakukan penguasa membuat masyarakat menjadi apatis. Mereka tidak berani untuk mengambil inisiatif karena kalau keliru mereka akan terkena hukuman berat.

Sekarang zaman sudah berubah. Generasi masyarakat di perdesaan pun sudah berganti. Informasi sangat mudah untuk didapatkan. Masyarakat desa pun telah menjadi kelompok yang melek kepada perubahan zaman dan kemajuan.

Itulah yang terlihat saat mengikuti perjalanan Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Mariani Soemarno ke Jawa Timur akhir pekan lalu.

Masyarakat desa hutan di Lumajang, misalnya, mampu memanfaatkan kredit usaha rakyat untuk kegiatan usaha mereka. Omzet kegiatan usaha di Lembaga Masyarakat Desa Hutan Wono Lestari sekarang ini setiap tahunnya sudah bisa mencapai Rp14 miliar.

Yang mencengangkan, seorang ibu di Desa Kendeng Lembu mampu mengembangkan talas di sela-sela pohon damar milik Inhutani. Produk talas yang ia hasilkan tidak lagi dijual di desa, tetapi sudah dia ekspor ke Jepang.

Oleh karena itu, keliru kalau kita meremehkan kemampuan masyarakat desa. Di zaman yang terbuka seperti sekarang ini, mereka mampu menjadi entrepreneur yang andal. Apabila mereka diberikan kesempatan dan pendampingan yang benar, mereka akan menjadi kekuatan yang luar biasa.

Tugas dari pemerintah sekarang tinggal menjaga momentum tersebut. Pertama yang harus dibangun ialah akses jalan desa agar produk yang mereka hasilkan bisa cepat sampai ke pasar. Peternak sapi perah di Lumajang perlu jalan yang baik agar 5.000 liter produk susu yang mereka hasilkan setiap harinya bisa cepat sampai ke Pabrik Nestle.

Pembangunan 191 ribu km jalan desa yang dilakukan pemerintah dalam tiga tahun terakhir ini dirasakan betul manfaatnya oleh masyarakat desa.

Memang bukan jalan raya yang mereka bangun secara swadaya, melainkan itu sudah memadai bagi lalu lintas barang maupun manusia yang ada di desa.

Hukum besi ‘trade follow the road, perdagangan mengikuti infrastruktur jalan’ memang terbukti. Seperti infrastruktur yang dulu dibangun di zaman orde Baru, sangat bermanfaat untuk meningkatkan efisiensi ekonomi. Pergerakan orang maupun barang menjadi lebih mudah dan lancar.

Apalagi, pemerintah kemudian menggelontorkan KUR melalui perbankan. Masyarakat bukan hanya diajarkan untuk paham tentang bisnis, melainkan juga bertanggung jawab atas kredit yang didapatkan. Ini berbeda dengan pendekatan program yang membuat masyarakat merasa tidak perlu bertanggung jawab terhadap dana yang diterima untuk kegiatan usahanya.

Selanjutnya yang perlu dipikirkan bagaimana membuat masyarakat desa mengerti cara menjaga kualitas produk dan standardisasi. Kemudian cara pengemasan yang baik sehingga produknya bisa terlihat lebih menarik dan konsumen tahu apa saja kandungan dari produk yang ditawarkan.

Pendampingan oleh orang-orang kreatif akan membuat masyarakat desa akan semakin bersemangat. Kita sudah lihat bagaimana masyarakat di Nusa Tenggara Timur bisa menghasilkan produk anyaman yang lebih baik dan mulai mendunia ketika desainnya dibuat lebih bagus dan diberi merek yang lebih populer seperti Du’anyam.

Kita pantas optimistis akan masa depan bangsa ini apabila semua orang dipacu untuk melihat peluang yang ada. Jangan bangsa ini terus ditakut-takuti dan bahkan distereotipkan sebagai bangsa yang tidak bisa maju. Desa akan bisa menjadi kekuatan yang hebat kalau kita terus dorong untuk mengoptimalkan kekayaan dan keunikan yang ada di desanya.

Dengan produk domestik bruto lebih dari US$600 miliar, kekuatan ekonomi di Jawa ini lebih besar daripada Argentina. Bahkan kalau kita lihat Jabodetabek yang PDB-nya mencapai US$250 miliar, kekuatan ekonomi di wilayah ini sudah lebih besar daripada Vietnam.

Negara kita tercinta ini mempunyai potensi yang besar untuk menjadi negara yang besar. Sayang, masih ada warga bangsa ini yang tidak menyadari kekuatan dari bangsanya. Mereka bahkan mengolok-olok dirinya sendiri. Kita perlu mengubah paradigma tentang kemampuan bangsa ini, termasuk tentang desa yang geliatnya akan bisa membawa Indonesia ke arah kemajuan yang lebih hebat.

 



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.