Sabtu 02 Februari 2019, 05:10 WIB

Investasi

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | podium
Investasi

PEMAPARAN Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada acara Mandiri Investment Forum wajar apabila membuat para investor merasa yakin akan keuletan perekonomian Indonesia.

Indonesia tetap mampu bertumbuh di tengah kondisi perekonomian global yang bergejolak secara tidak menentu. Walaupun tingkat pertumbuhannya tipis, pertumbuhan dari tahun ke tahun maupun dari kuartal ke kuartal tetap menunjukkan peningkatan. Sementara itu, negara lain harus berjuang keras sekadar untuk bisa mempertahankan tingkat pertumbuhan.

Artinya, Indonesia tidak sedang dalam kondisi krisis. Meski juga bukan sedang berada dalam kondisi yang ideal, kebijakan yang diambil pemerintah tidaklah keliru. Yang perlu terus dilakukan ialah menarik lebih banyak lagi investasi asing langsung ke Indonesia.
Kondisi ini berbeda jika dibandingkan dengan negara-negara maju sekalipun. Italia sekarang sedang menjadi sorotan dunia karena secara ‘teknis’ mereka sedang mengalami resesi. Sudah dua kuartal berturut-turut pertumbuhan ekonomi mereka mengalami kontraksi.

AS yang menggembar-gemborkan untuk ‘great again’ juga terancam resesi. Kalau Presiden Donald Trump tidak banting setir dengan kebijakan proteksionismenya, tahun depan negara dengan kekuatan ekonomi nomor satu dunia itu diperkirakan akan memasuki resesi.

Kunci dari semua itu ialah koordinasi yang intens antara otoritas fiskal dan moneter. Menurut Sri Mulyani, tugas yang dilakukan pemerintah ialah bagaimana anggaran yang ada dipakai untuk menjaga stabilitas perekonomian dari konjungtur ekonomi global.

Pada tahun ini pemerintah memberi perhatian utama kepada empat bidang, yaitu peningkatan kualitas sumber daya manusia, kesehatan, jaminan sosial, dan infrastruktur. Untuk perbaikan SDM disiapkan anggaran sebesar Rp492,5 triliun. Untuk kesehatan sebesar Rp123 triliun, sedangkan untuk menjaga daya beli masyarakat miskin disediakan anggaran Rp385 triliun.

Infrastruktur dasar, seperti jalan, rel kereta, perumahan, bendungan, dan elektrifikasi, terus mendapat perhatian. Pemerintah untuk tahun ini menyediakan anggaran Rp415 triliun bagi perbaikan berbagai infrastruktur dasar tersebut.

Menurut Menkeu, kalau dirinya mengajak para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia sekarang, itu bukan didasarkan kepentingan promosi pribadi. Berbagai lembaga pemeringkat dunia baik dari AS maupun Jepang memberikan penilaian lebih baik mengenai Indonesia.

Kementerian Keuangan juga terus memberikan tax holiday yang lebih menarik kepada mereka yang ingin melakukan usaha di Indonesia. Pembiayaan investasi yang ditujukan untuk memperkuat riset, pengadaan lahan, penguatan ekspor, hingga badan usaha milik negara tahun ini juga disiapkan anggaran hampir Rp76 triliun.

Namun, seperti diingatkan mantan Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri, bukan berarti tahun ini perekonomian Indonesia akan melewati jalan yang mulus. Defisit neraca transaksi berjalan akan menjadi sumber masalah apabila perang dagang terus berlanjut. Penyebabnya, penerimaan negara akan tertekan dalam akibat penurunan ekspor minyak kelapa sawit dan batu bara.

Belum lagi surat utang negara yang lebih dari 50% dipegang investor asing. Sedikit saja terjadi gejolak pada perekonomian dunia, maka mereka akan segera memindahkan portofolio mereka ke tempat yang lebih aman.

Pekerjaan rumah kita bersama bagaimana membuat kondisi di dalam negeri tetap kondusif. Tahun pemilu yang sedang kita jalani tidak boleh sampai ‘membakar’ rumah kita bersama.

Tentu yang paling penting ialah menjaga sikap optimistis terhadap perekonomian negara ini. Kita tentu harus kritik kelemahan yang ada, tetapi jangan juga kita apriori terhadap kemajuan yang ada.

Kunci untuk menarik investasi ialah bagaimana membuat aturan yang menarik dan sesuai dengan praktik yang umum berlaku di dunia. Kita tidak boleh seperti ‘katak dalam tempurung’. Kita asyik dengan bayang-bayang bahwa Indonesia tempat yang menarik untuk investasi, tetapi kenyataannya tidak membuat orang nyaman untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More