Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
SETIAP demokrat sejati kiranya percaya oposisi merupakan syarat yang perlu bagi tegaknya demokrasi. Juga kiranya percaya oposisi yang terlembagakan merupakan manifestasi kemajuan demokrasi.
Akan tetapi, kian memanas suhu Pilpres 2019, sepertinya kian terbukti pula pandangan Robert Dahl bahwa oposisi terlembagakan hanya eksis di dalam sistem dua partai dan tidak di dalam sistem multipartai. Yang kini terjadi oposisi hantam kromo.
Hantam kromo itu juga merasuk kaum cerdik pandai yang tidak jelas partainya, tetapi mengambil posisi sebagai oposisi seperti partai oposisi.
Pemilu serentak ditengarai dapat membuat keterbelahan di tingkat warga menjadi menonjol karena parpol yang dipilih tidak lurus sejalan dengan pilihan capres yang diusung partai. Dalam hal ini rasanya partai tidak mampu mengelola konflik di tingkat warga bila konflik itu terjadi gara-gara split-ticket voting.
Dalam perspektif itulah kiranya larangan memasang atribut partai dalam bentuk apa pun yang terjadi di Dusun Rowosari, Desa Manggong, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, perlu dilihat dengan kaca pembesar.
Larangan memasang atribut parpol itu muncul sebagai sebuah berita kecil. Judul berita kecil itu mengekspresikan perkara besar, 'Cegah Konflik, Warga Tolak Spanduk Parpol'. Yang memberitakannya salah satu koran besar (Kompas, 30/1).
Larangan memasang atribut partai dalam bentuk apa pun itu diumumkan melalui spanduk. Dalam berita diinformasikan secara singkat bahwa di dusun tetangga ada empat calon anggota legislatif dari sejumlah parpol. Yang menjadi sumber berita ialah Ketua Karang Taruna Dusun Rowosari.
Karang Taruna organisasi orang muda. Organisasi orang muda itu membuat dusunnya tertutup terhadap sosialisasi parpol. Karang Taruna organisasi nonpartisan, tetapi melarang dusunnya tersosialisasikan parpol kiranya perbuatan melawan hak warga untuk mendapatkan informasi.
Tentu saja persoalan perlu ditegakkan dalam konteks lokal. Di dusun tetangga ada empat calon anggota legislatif dari sejumlah parpol. Bayangkanlah terjadi persaingan merebut suara warga di dusun tetangga itu yang rupanya dikhawatirkan dapat menimbulkan konflik dan berimbas ke Dusun Rowosari. Untuk mencegah efek domino di level dusun itu, warga Dusun Rowosari melarang pemasangan atribut partai dalam bentuk apa pun. Sebuah tindakan yang selintas terkesan antipartai.
Tindakan itu lokal sekali, tetapi sepertinya perlu dibaca dalam konteks besar. Kita sudah 20 tahun berdemokrasi multipartai secara nasional. Bahkan, demokrasi langsung di dusun lebih tua lagi. Pemilihan kepala desa lazimnya diikuti multicalon. Kenapa sekarang timbul kekhawatiran akan pecah konflik di tingkat dusun dan untuk menghindarinya warga melarang pemasangan atribut partai dalam bentuk apa pun?
Mungkin jawabannya karena dalam atribut partai bukan hanya ada potret diri caleg, melainkan juga ada atribut pasangan calon presiden-wakil presiden. Padahal secara umum atmosfer nasional sedang disesaki tajamnya kompetisi Jokowi-Ma'ruf Amin versus Prabowo-Sandiaga Uno, yang seakan membuat warga yang satu berada 'di sini' dan yang lain berada 'di sana'.
Bahkan, terjadi kekonyolan, katanya timbul konflik dalam rumah tangga karena perbedaan pilihan capres. Pilihan personal dapat merusak harmoni kebersamaan di tingkat ikatan yang paling kuat, yaitu keluarga.
Di sisi lain dalam pilpres, partai berkelakuan faksi, yaitu bagian yang melawan keseluruhan. Bukan bagian dari keseluruhan. Meminjam pandangan ahli partai Giovanni Sartori, kita masih berada di jalan panjang transisi dari 'part' ke 'party', dari 'bagian' ke 'keseluruhan'.
Hantam kromo dengan berita bohong demi memenangkan paslon presiden-wakil presiden, misalnya, bisa membuat bagian dari kita copot atau mencopotkan diri dari keseluruhan.
Rasanya kini perlu merasakan kembali suasana kebatinan nasional ketika Liberty Manik menciptakan lagu Satu Nusa Satu Bangsa yang pertama kali disiarkan radio pada 1947. 'Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Kita. Tanah air pasti jaya untuk selama-lamanya.'
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved