Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Berita Kecil dari Sebuah Dusun

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
31/1/2019 05:30
Berita Kecil dari Sebuah Dusun
()

SETIAP demokrat sejati kiranya percaya oposisi merupakan syarat yang perlu bagi tegaknya demokrasi. Juga kiranya percaya oposisi yang terlembagakan merupakan manifestasi kemajuan demokrasi.

Akan tetapi, kian memanas suhu Pilpres 2019, sepertinya kian terbukti pula pandangan Robert Dahl bahwa oposisi terlembagakan hanya eksis di dalam sistem dua partai dan tidak di dalam sistem multipartai. Yang kini terjadi oposisi hantam kromo.

Hantam kromo itu juga merasuk kaum cerdik pandai yang tidak jelas partainya, tetapi mengambil posisi sebagai oposisi seperti partai oposisi.

Pemilu serentak ditengarai dapat membuat keterbelahan di tingkat warga menjadi menonjol karena parpol yang dipilih tidak lurus sejalan dengan pilihan capres yang diusung partai. Dalam hal ini rasanya partai tidak mampu mengelola konflik di tingkat warga bila konflik itu terjadi gara-gara split-ticket voting.

Dalam perspektif itulah kiranya larangan memasang atribut partai dalam bentuk apa pun yang terjadi di Dusun Rowosari, Desa Manggong, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, perlu dilihat dengan kaca pembesar.

Larangan memasang atribut parpol itu muncul sebagai sebuah berita kecil. Judul berita kecil itu mengekspresikan perkara besar, 'Cegah Konflik, Warga Tolak Spanduk Parpol'. Yang memberitakannya salah satu koran besar (Kompas, 30/1).

Larangan memasang atribut partai dalam bentuk apa pun itu diumumkan melalui spanduk. Dalam berita diinformasikan secara singkat bahwa di dusun tetangga ada empat calon anggota legislatif dari sejumlah parpol. Yang menjadi sumber berita ialah Ketua Karang Taruna Dusun Rowosari.

Karang Taruna organisasi orang muda. Organisasi orang muda itu membuat dusunnya tertutup terhadap sosialisasi parpol. Karang Taruna organisasi nonpartisan, tetapi melarang dusunnya tersosialisasikan parpol kiranya perbuatan melawan hak warga untuk mendapatkan informasi.

Tentu saja persoalan perlu ditegakkan dalam konteks lokal. Di dusun tetangga ada empat calon anggota legislatif dari sejumlah parpol. Bayangkanlah terjadi persaingan merebut suara warga di dusun tetangga itu yang rupanya dikhawatirkan dapat menimbulkan konflik dan berimbas ke Dusun Rowosari. Untuk mencegah efek domino di level dusun itu, warga Dusun Rowosari melarang pemasangan atribut partai dalam bentuk apa pun. Sebuah tindakan yang selintas terkesan antipartai.

Tindakan itu lokal sekali, tetapi sepertinya perlu dibaca dalam konteks besar. Kita sudah 20 tahun berdemokrasi multipartai secara nasional. Bahkan, demokrasi langsung di dusun lebih tua lagi. Pemilihan kepala desa lazimnya diikuti multicalon. Kenapa sekarang timbul kekhawatiran akan pecah konflik di tingkat dusun dan untuk menghindarinya warga melarang pemasangan atribut partai dalam bentuk apa pun?

Mungkin jawabannya karena dalam atribut partai bukan hanya ada potret diri caleg, melainkan juga ada atribut pasangan calon presiden-wakil presiden. Padahal secara umum atmosfer nasional sedang disesaki tajamnya kompetisi Jokowi-Ma'ruf Amin versus Prabowo-Sandiaga Uno, yang seakan membuat warga yang satu berada 'di sini' dan yang lain berada 'di sana'.

Bahkan, terjadi kekonyolan, katanya timbul konflik dalam rumah tangga karena perbedaan pilihan capres. Pilihan personal dapat merusak harmoni kebersamaan di tingkat ikatan yang paling kuat, yaitu keluarga.

Di sisi lain dalam pilpres, partai berkelakuan faksi, yaitu bagian yang melawan keseluruhan. Bukan bagian dari keseluruhan. Meminjam pandangan ahli partai Giovanni Sartori, kita masih berada di jalan panjang transisi dari 'part' ke 'party', dari 'bagian' ke 'keseluruhan'.

Hantam kromo dengan berita bohong demi memenangkan paslon presiden-wakil presiden, misalnya, bisa membuat bagian dari kita copot atau mencopotkan diri dari keseluruhan.

Rasanya kini perlu merasakan kembali suasana kebatinan nasional ketika Liberty Manik menciptakan lagu Satu Nusa Satu Bangsa yang pertama kali disiarkan radio pada 1947. 'Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Kita. Tanah air pasti jaya untuk selama-lamanya.'

 



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.