Sabtu 07 November 2020, 03:10 WIB

Beragam Latar Kandidat di Gunungkidul

Ardi Teristi Hardi | Pilkada
Beragam Latar Kandidat di Gunungkidul

MI/ARDI TERISTI
Calon Bupati dan Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi (kedua dari kanan) dan Martanty Soenar Dewi saat mendaftar pilkada Gunungkidul.

 

KONTESTASI pilkada di Kabupaten Gunungkidul paling meriah jika dibandingkan dengan pesta rakyat di dua kabupaten lain di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Apabila pilkada di Bantul hanya diramaikan dua pasangan calon (paslon) dan di Sleman tiga paslon, di Gunungkidul terdapat empat paslon.

Keempat paslon pilkada Gunungkidul, yakni Sutrisna Wibawa-Mahmud Ardi Widanto (nomor 1), Immawan Wahyudi-Martanty Soenar Dewi (nomor 2), Bambang Wisnu Handoyo-Benyamin Sudarmadi (nomor 3), dan Sunaryanta-Heri Susanto (nomor 4) (lihat grafik).

Seorang petahana ikut pilkada Gunungkidul, yaitu Immawan Wahyudi yang kini menjabat Wakil Bupati Gunungkidul. Adapun Bupati Gunungkidul periode ini, Badingah, tidak ikut berlaga karena sudah menjabat dua periode.

Menurut sosiolog UGM Arie Sujito, pilkada Gunungkidul paling menarik dari sisi kontestasi para kandidat.

“Mereka memiliki latar belakang beragam dari politisi, birokrasi, akademisi, hingga militer,” kata Arie di sela-sela debat pilkada Gunungkidul di Gedung TVRI Yogyakarta, Selasa (27/8).

Tantangan kepala daerah di Gunungkidul, lanjut Arie, masih terkait dengan kemiskinan akibat pandemi covid-19. Sebelumnya, angka kemiskinan di Gunungkidul mulai menurun dari sekitar 139 ribu pada 2016 menjadi sekitar 123 ribu pada 2019.

“Gunungkidul ketika mulai tumbuh dengan ekonomi, pariwisata, dan desa, sekarang terpuruk gara-gara covid-19,” tutur Arie.

Oleh karena itu, kepala daerah terpilih di Gunungkidul kelak memiliki tugas memulihkan perekonomian dalam waktu sekitar 3,5 tahun. Mereka dituntut kreatif, cerdas, dan bisa membuat terobosan.

“Pariwisata, pertanian, desa, air, hingga lapangan kerja jadi isu serius bagi warga Gunungkidul dan harus dijawab para kandidat,” ujar Arie.

Ketua KPU Gunungkidul, Ahmad Ruslan Hani, menyebutkan debat publik dalam pilkada amat penting untuk menyebarluaskan profil, visi-misi, dan program kerja kandidat kepada pemilih.

“Tema yang diangkat pun dapat digali secara dalam oleh kandidat sehingga dapat memberi informasi menyeluruh kepada pemilih sebagai pertimbangan menentukan pilihan pada pemungutan suara 9 Desember. Semoga pilkada menjadi pemilihan yang sehat, sejuk aman, dan damai,” jelas Ahmad Ruslan.

 

MI/ARDI TERISTI

Calon Bupati Gunungkidul nomor urut 1 Sutrisna Wibawa bersama nomor urut 2 Immawan Wahyudi, nomor urut 3 Bambang Wisnu Handoyo, dan nomor urut 4 Sunaryanta memaparkan visi dan misi mereka dalam Debat Publik Pilkada 2020 Kabupaten Gunungkidul, yang disiarkan langsung dari stasiun TVRI Yogyakarta, Selasa (27/10/2020).

 

 

Multiaspek

Debat pertama, Selasa (27/10), mengangkat tema Mengatasi kemiskinan menuju kesejahteraan sosial ekonomi dan kemandirian desa. Cabup nomor urut 1, Sutrisna Wibawa, mengangkat misi Gunungkidul tanggap dan kreatif.

“Gunungkidul tanggap adalah mengedepankan persoalan masyarakat dan perkembangan zaman dengan menitikberatkan kemampuan dan tantangan yang dihadapi,” terang Sutrisna yang diusung PAN, PKS, Demokrat, dan Gerindra tersebut.

Calon bupati nomor urut 2, Immawan Wahyudi, menyampaikan program prioritas bila menjabat Bupati Gunungkidul dengan menyelesaikan persoalan pascapandemi covid-19 yang multiaspek.

“Pada masa pandemi covid-19, kesehatan dan ekonomi bukanlah kontradiktif, tetapi menjadi kesatuan. Jika pascapandemi bisa ditata, pemulihan ekonomi dapat lebih baik,” terang Immawan yang diusung Partai NasDem.

Dua sektor yang menjadi modal dalam menyelesaikan persoalan pascapandemi di Gunungkidul, yaitu pertanian dan pariwisata dengan ditopang sektor lain. Immawan bersyukur di kedua sektor tersebut belum ditemukan klaster covid-19.

Pertanian Gunungkidul menjadi modal karena menyumbang 25% terhadap PDRB Gunungkidul. Sektor pariwisata pun memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi di Gunungkidul.

Sementara itu, cabup nomor urut 3, Bambang Wisnu Handoyo, berpendapat sinergi antara UU Desa dan UU Keistimewaan DIY menjadi solusi untuk mengatasi persoalan kemiskinan di Gunungkidul.

Terakhir, cabup nomor urut 4, Sunaryanta, dalam debat menyoroti UMKM di Gunungkidul yang belum didorong maksimal. (X-3)

 

Sumber: KPU/Tim Riset MI-NRC

Baca Juga

dok.medcom

Mulyadi : Masyarakat Harus Bersatu Melawan Kejahatan Demokrasi

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 29 Januari 2021, 14:15 WIB
SIDANG gugatan Mulyadi terhadap Pilkada Sumbar 2020 baru berlansung satu kali di Mahkamah Konstitusi, namun menjadi perhatian masyarakat...
DOK. MI/PIUS ERLANGGA

90% Kepala Daerah Korupsi karena Utang ke Sponsor

👤Cahya Mulyana 🕔Rabu 23 Desember 2020, 01:55 WIB
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) sering dibuat gerah oleh ulah sejumlah kepala daerah, baik gubernur, wali kota, maupun bupati, yang...
Sumber: KPK/PP Nomor 109 Tahun 2000 tentang Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah/Riset MI-NRC

Berharap Langit Cerah di Daerah

👤THEOFILUS IFAN SUCIPTO 🕔Rabu 23 Desember 2020, 00:19 WIB
PASANGAN calon (paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Metro, Provinsi Lampung, nomor urut 1, Wahdi Sirajudin dan Qomaru Zaman,...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya