Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Ujian Geopolitik Indonesia di Pusaran Stabilitas Gaza

Mohsen Hasan Alhinduan, Direktur Studi Islam dan Ilmu Filsafat, Pemerhati Sosial, Politik, Budaya dan Isu Global, Dewan Pakar DPP Partai NasDem.
22/2/2026 15:45
Ujian Geopolitik Indonesia di Pusaran Stabilitas Gaza
Mohsen Hasan AlHinduan Koordinator Bidang Sosial, Budaya, Politik dan Agama Dewan Pakar DPP Partai NasDem(Dok Istimewa)

PENGUMUMAN Indonesia ditunjuk sebagai Wakil Komandan International Stabilization Force (ISF) dalam pertemuan perdana Board of Peace (BoP) di Washington, D.C. menempatkan Jakarta pada titik strategis sekaligus dilematis dalam konstelasi politik global. ISF dibentuk untuk menciptakan stabilitas di Gaza dengan partisipasi sejumlah negara seperti Maroko, Albania, Kosovo, Kazakstan, Mesir, dan Jordania. Pertanyaannya: apakah ini peluang strategis bagi Indonesia atau justru jebakan dalam permainan geopolitik lebih besar?

Stabilitas dan Bahasa Realisme

Dalam perspektif geopolitik realis, perdamaian bukan sekadar ideal moral, melainkan instrumen untuk mengelola kepentingan dan keseimbangan kekuatan (balance of power). Konsep stabilisasi dalam konteks pascakonflik biasanya mengandung dua tujuan utama: mencegah kekosongan kekuasaan dan memastikan keamanan regional tidak meluas menjadi konflik terbuka. 

Kekuatan besar dunia seringkali menggunakan kerangka stabilisasi untuk:
1. Mengendalikan dinamika keamanan kawasan,
2. Menata ulang struktur politik lokal,
3. Mengamankan kepentingan strategis jangka panjang.
Oleh karena itu, absennya representasi resmi Palestina dalam forum awal BoP menjadi variabel krusial yang patut dicermati. Dalam geopolitik realis, siapa yang duduk di meja perundingan sama pentingnya dengan siapa yang tidak diundang.

Mengapa Indonesia?

Penunjukan Indonesia bukan tanpa kalkulasi. Jakarta memiliki sejumlah modal strategis:
1. Citra konsisten mendukung kemerdekaan Palestina.
2. Posisi sebagai negara Muslim terbesar.
3. Pengalaman panjang dalam misi perdamaian internasional.

Doktrin politik luar negeri bebas aktif yang relatif independen dari blok besar. Dalam logika kekuatan global, Indonesia dapat berfungsi sebagai legitimizing actor —aktor yang memberi kredibilitas moral pada suatu inisiatif yang sensitif di dunia Islam. Dengan kehadiran Indonesia, ISF dapat dipersepsikan bukan sebagai proyek sepihak, melainkan upaya multilateral.

Namun, di sinilah ujian strategisnya: apakah posisi Wakil Komandan memberi pengaruh nyata dalam perumusan kebijakan atau sekadar simbol partisipasi?

Risiko Reframing Status Gaza

Dalam konteks konflik berkepanjangan, istilah stabilisasi kadang menjadi pintu masuk bagi penataan administratif baru. Jika ISF memiliki mandat kabur atau berjangka panjang tanpa roadmap politik jelas menuju kedaulatan Palestina, maka risiko yang muncul adalah:
1. Normalisasi administrasi internasional permanen,
2. Marginalisasi aktor lokal Palestina,
3. Pergeseran isu dari kemerdekaan menjadi sekadar manajemen keamanan.

Dalam kacamata realis, stabilitas yang tidak disertai legitimasi politik hanya akan melahirkan siklus konflik baru.

Antara Moral dan Kepentingan Nasional

Indonesia berada dalam posisi unik. Secara moral dan historis, dukungan terhadap Palestina adalah bagian dari identitas diplomasi Indonesia. Namun, sebagai negara berdaulat dengan kepentingan global yang semakin luas, Jakarta juga harus mempertimbangkan:
1. Hubungan dengan kekuatan besar dunia,
2. Stabilitas kawasan Timur Tengah,
3. Posisi Indonesia sebagai aktor global menengah (middle power). 

Keputusan menerima posisi Wakil Komandan ISF bisa dibaca sebagai langkah realistis: masuk ke dalam struktur agar memiliki ruang pengaruh daripada berada di luar dan kehilangan kendali narasi.

Namun strategi ini hanya efektif jika Indonesia mampu:
1. Memastikan mandat ISF transparan dan berbasis hukum internasional,
2. Menuntut keterlibatan aktor Palestina dalam desain politik pascakonflik,
3. Membatasi durasi dan lingkup operasi agar tidak menjadi mekanisme permanen.

Momentum atau Perangkap?

Sejarah menunjukkan dalam politik internasional tidak ada ruang kosong. Jika Indonesia tidak hadir, aktor lain akan mengisi. Namun, kehadiran tanpa strategi sama berbahayanya dengan ketidakhadiran.
ISF bisa menjadi:
1. Instrumen transisi menuju perdamaian berkeadilan, atau
2. Mekanisme pembekuan konflik dengan wajah baru.
Semua bergantung pada detail mandat, struktur komando, dan keberanian diplomasi Indonesia dalam menjaga garis prinsip.

Ujian Politik Bebas Aktif

Momentum ini menjadi ujian konkret bagi politik luar negeri bebas aktif. Apakah Indonesia mampu memainkan peran sebagai penyeimbang moral sekaligus aktor strategis yang rasional? Atau justru terjebak dalam arsitektur keamanan yang dirancang pihak lain?
Dalam geopolitik realis, idealisme harus disertai kalkulasi. Perdamaian bukan sekadar niat baik, tetapi hasil dari keseimbangan kekuatan dan kepentingan yang dikelola secara cermat.
Gaza hari ini bukan hanya soal stabilitas wilayah kecil di Timur Tengah. Ia adalah panggung ujian bagi konsistensi prinsip, kecermatan strategi, dan ketegasan diplomasi Indonesia di tengah pusaran kekuatan global.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya