Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Relawan untuk Pengungsi

FX Wikan Indrarto Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, alumnus S-3 UGM
17/12/2025 05:10
Relawan untuk Pengungsi
(Dok. Instagram)

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus menggerakkan barisan relawan untuk mempercepat penanganan darurat bencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Desk relawan BNPB mencatat sudah ribuan relawan dari ratusan lembaga turun langsung ke lapangan. Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Para relawan itu tersebar di berbagai titik yang membutuhkan penanganan segera. Mereka terlibat dalam distribusi logistik, pengelolaan dapur umum, operasi pencarian dan pertolongan, pembukaan serta perbaikan jalur yang terputus, pemulihan psikososial, hingga pelayanan kesehatan.

The Global Foreign Medical Teams (FMT) menetapkan standar minimum dan registrasi untuk relawan kesehatan internasional. Kegiatan yang bertema Building a global emergency workforce ready to go itu telah diluncurkan pada Jumat, 10 April 2015. Sistem ini memungkinkan adanya respon yang lebih efektif dan koordinasi dengan lebih baik, antara negara penyedia dan penerima bantuan relawan kesehatan.

 

TANGGAP DARURAT

Dalam gerakan tanggap darurat sebelumnya, termasuk bencana gempa bumi di Haiti dan tsunami Asia Selatan dan Tenggara, termasuk Aceh pada 2004, beberapa tim relawan kesehatan asing datang ke lokasi, tanpa memberi tahu pihak berwenang lokal dan tidak berkoordinasi dengan tim kesehatan internasional lainnya.

Meskipun mereka sebenarnya memiliki niat baik, kadang para relawan tersebut tidak memiliki pengetahuan yang memadai, keterampilan yang tepat, tidak terbiasa dengan standar sistem internasional, atau membawa peralatan yang tidak pantas, serta tidak sesuai atau tidak layak dengan kebutuhan kesehatan masyarakat setempat.

Sistem yang dikembangkan oleh WHO selama masa tanggap darurat sebelumnya ialah untuk bencana wabah ebola di Afrika Barat yang melibatkan hampir 60 tim relawan kesehatan asing, yang dikirim oleh 40 organisasi. Negara yang mengirim relawan di 72 pusat pengobatan ebola di 3 negara di Afrika Barat, meliputi Australia, Tiongkok, Kuba, Republik Demokratik Kongo, Denmark, Ethiopia, Perancis, Jerman, Kenya, Korea, Selandia Baru, Nigeria, Norwegia, Rusia, Afrika Selatan, Swedia, Uganda, Inggris, dan Amerika Serikat.

Perawatan pasien ebola di berbagai negara ini mengingatkan kita semua akan perlunya pengetahuan medis yang harus selalu diperbaharui dan peralatan kesehatan yang modern karena para relawan kesehatan juga memiliki risiko besar tertular wabah.

Setiap dokter, perawat, atau paramedis yang datang dari negara lain dalam keadaan darurat medis wajib datang sebagai sebuah tim relawan. Tim itu harus memiliki kualitas, pelatihan, dan peralatan atau perlengkapan yang memadai sehingga dapat merespons masalah dengan baik, bukan malahan menjadi beban bagi sistem kesehatan nasional setempat. Tim harus bekerja secara swasembada, memberikan perawatan kesehatan yang berkualitas dan memenuhi standar minimum yang dapat diterima secara internasional.

Tim relawan kesehatan dapat berasal dari instansi pemerintah, LSM, militer, dan organisasi nirlaba internasional seperti Palang Merah Internasional atau Bulan Sabit Merah. Relawan wajib terlatih, bekerja sesuai dengan standar minimum internasional, datang dan bekerja secara mandiri sehingga tidak membebani sistem kesehatan nasional setempat.

Tujuan registrasi tim relawan kesehatan ialah meningkatkan kualitas pelayanan yang disediakan, meningkatkan koordinasi, dan memberikan respons tepat waktu kepada negara yang terkena dampak bencana. Selain itu, sebagai forum peningkatan kualitas, dengan mengembangkan standar minimum dan bimbingan praktik terbaik, juga menciptakan sebuah forum untuk interaksi antara penyedia tim dan negara penerima, termasuk memungkinkan negara untuk menginformasikan kepada tim, tentang standar pelayanan (SOP) dan persyaratan untuk akses ke negara mereka dalam keadaan darurat, misalnya aturan tentang impor obat dan alat kesehatan, pendaftaran dokter, dan lainnya.

Sejarah tim relawan kesehatan memang berhubungan dengan kasus trauma atau luka dan berfokus pada tindakan bedah. Namun, wabah ebola telah membuktikan bahwa diperlukan juga ketrampilan medis dalam penanggulangan wabah penyakit nonbedah. Wabah ebola merupakan kegiatan penyebaran tim terbesar untuk sebuah wabah penyakit, yaitu mencapai 58 tim, bandingkan dengan 151 tim saat terjadi topan Haiyan di Filipina pada November 2013 dan hampir 300 tim saat terjadi gempa bumi di Haiti.

Dengan kasus bencana wabah ebola, persyaratan tim relawan kesehatan untuk tanggap darurat kesehatan meningkat lebih luas dari yang dibutuhkan selama ini, yaitu keterampilan dalam kasus trauma dan bedah. Ke depan, keterampilan relawan medis juga harus mencakup kemampuan untuk merawat korban penyakit seperti kolera, shigella dan ebola, serta tim untuk mendukung masyarakat yang terkena dampak banjir, konflik bersenjata, dan krisis kemanusiaan berkepanjangan seperti kelaparan.

 

BEKERJA SESUAI DENGAN PEDOMAN

Tim relawan bekerja sesuai dengan pedoman dalam Classification and Minimum Standards for Foreign Medical Teams. Klasifikasi dan standar minimum ini diterbitkan pada pertengahan 2013 yang untuk pertama kalinya digunakan pada November 2013 saat bencana topan Haiyan di Filipina. Kementerian Kesehatan Filipina telah mengoordinasikan penyebaran 151 tim relawan dengan baik dan bahkan mampu menemukan sistem dan klasifikasi yang baru sesuai dengan tujuan pengerahan relawan kesehatan.

Tercatat sudah ribuan relawan dari ratusan organisasi sudah berada di di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Jumlah tersebut terus meningkat. Setiap orang diingatkan untuk tergerak menjadi relawan bagi para pengungsi, tetapi seharusnya terkoordinasi dengan baik. Sudahkah kita siap?

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik