Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
SAYA suka mengamati jalan raya. Bukan karena hobi, tetapi karena di sanalah kita sering bertemu realita. Setiap hari, kita berhadapan dengan mobil-mobil yang beragam bentuk dan pengemudi yang lebih beragam lagi. Ada satu hal yang menarik perhatian saya: mobil dengan stiker kaligrafi Arab di kaca belakang. Sebuah potongan ayat suci Al-Qur'an yang biasanya mencolok di tengah deru kendaraan.
Yang membuat saya berpikir, apakah pengemudi sadar bahwa kaligrafi itu tidak sekadar hiasan? Bukan cuma untuk estetika. Itu ayat suci. Begitu suci, hingga ketika Anda memasangnya, ada tanggung jawab moral yang ikut melekat di setir Anda. Seperti mengemudi dengan sorotan mata tak kasat dari langit, tetapi Anda tetap saja mengebut. Lalu, menyalip sembarangan di tikungan tajam. Stiker religius di kaca belakang, tetapi perilaku di depan setir jauh dari apa yang diajarkan agama. Ironis? Iya. Saya tidak sedang bercanda.
Bayangkan, Anda sedang berkendara santai, tiba-tiba dari belakang ada mobil yang mendekat dengan kecepatan tinggi. Mobil itu menyalip dari kiri, hampir menyerempet Anda, lalu menghilang di depan sana dengan manuver yang bikin jantung berhenti sepersekian detik. Di kaca belakangnya, Anda sempat membaca sepotong ayat suci.
Baca juga : Global Auto Protection Gallery Hadir di Gading Serpong
"Apa hubungannya perilaku ugal-ugalan dengan ayat suci itu?" tanya Anda dalam hati. Hubungannya, stiker itu adalah simbol. Simbol agama yang dipajang di ruang publik. Itu mewakili Anda, pengemudi, dan ajaran yang Anda yakini.
Memasang kaligrafi Arab di mobil berarti Anda memutuskan membawa agama ke jalan raya. Itu semacam pernyataan terbuka--lihat, saya religius, saya taat. Tapi kalau perilaku Anda di jalan berbanding terbalik dengan pesan moral yang dibawa ayat itu, maaf, Anda sedang mencoreng agama sendiri.
Ini bukan soal benar atau salah memasang stiker religius di mobil. Ini soal tanggung jawab. Anda mungkin tidak sadar, tetapi ketika Anda memutuskan untuk memajang simbol-simbol keagamaan di tempat yang begitu terlihat oleh publik, Anda mengundang orang lain untuk menilai, melihat, bahkan menghakimi. Bukan hanya Anda sebagai individu, tetapi juga ajaran yang Anda representasikan.
Baca juga : Parkir 2 Tahun, Seperti Ini Kondisi Mobil Buron Harun Masiku
Nah, jika mobil itu melesat dengan cara yang tidak sepatutnya--mengabaikan rambu, menyerobot jalur, apalagi melanggar aturan--apa yang orang-orang lihat? Mereka melihat kontradiksi. Mereka melihat ketidaksesuaian antara simbol agama yang Anda pajang dan perilaku yang Anda tunjukkan. Padahal, semestinya simbol itu menjadi pengingat: hei, berkendaralah dengan baik, perlakukan orang lain dengan sopan di jalan, karena Anda membawa nama yang lebih besar daripada diri Anda sendiri.
Sebagian besar dari kita mungkin berpikir, "Ah, ini cuma stiker. Hanya dekorasi." Namun apakah benar hanya itu? Stiker kaligrafi atau ayat suci di kaca belakang bukan sekadar estetika, bukan sekadar identitas religius yang Anda pasang untuk menunjukkan siapa diri Anda. Itu pengingat, bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk diri Anda sendiri. Agar Anda sadar bahwa berkendara pun bagian dari ibadah. Setiap tindakan, baik itu sekecil mematuhi rambu lalu lintas atau memberi jalan untuk orang lain, adalah refleksi dari moralitas Anda.
Namun, sering kali yang kita lihat justru sebaliknya. Stiker ada, ayat suci ada, tetapi etika berkendara hilang entah ke mana. Ini membuat saya berpikir, apa gunanya simbol itu jika hanya jadi pajangan? Hanya jadi dekorasi yang kehilangan makna karena tidak sejalan dengan perilaku?
Baca juga : Didukung Produk SUV, Penjualan Honda Meningkat pada Agustus 2024
Mari kita jujur: jika Anda tidak siap mengemudi dengan hati-hati, tidak siap menghormati sesama pengguna jalan, mungkin Anda juga tidak siap memajang ayat suci di mobil Anda. Lebih baik tidak ada stiker sama sekali daripada simbol itu justru membuat orang lain berpikir buruk. Agama tidak butuh Anda pamerkan dalam bentuk stiker. Agama butuh Anda jalankan dalam setiap tindakan, termasuk di jalan raya.
Anda bisa memilih: apakah Anda ingin menjadi duta yang baik bagi agama Anda atau justru membuat agama terlihat buruk di mata orang lain?
Tindakan Anda di jalan bicara lebih keras daripada kaligrafi di kaca belakang. Ingat, apa yang Anda pajang bukan sekadar simbol, tetapi cerminan dari diri Anda. Jadi, apakah Anda siap mengemudi sesuai pesan moral yang Anda pajang atau stiker itu hanya jadi hiasan semata?
Ingin belajar seni Islam? Temukan inspirasi gambar kaligrafi mudah dan indah serta panduan teknis membuatnya untuk pemula dan pelajar di sini.
Pameran ini adalah ruang yang memperlihatkan bagaimana dua peradaban besar membangun harmoni melalui seni
Maestro kaligrafi Indonesia sekaligus Direktur Lembaga Kaligrafi Al Quran Lemka, Didin Sirajuddin, mengatakan seni kaligrafi di Indonesia mengalami perkembangan pesat.
Di Batam, kegiatan itu telah menjangkau sekitar 5.000 anggota, mulai dari pelajar hingga masyarakat umum yang tertarik untuk mendalami seni Shu Fa.
MOMENTUM libur sekolah akhir semester ganjil 2024 telah tiba, ini tentu menjadi momen yang mengasyikan bagi anak-anak. Para orangtua harus memanfaatkan momen libur sekolah ini dengan baik,
Kebiasaan melepas aki yang dulunya dianggap ampuh mencegah aki soak atau korsleting, justru berisiko menimbulkan masalah baru pada mobil modern.
Salah satu risiko yang paling sering diabaikan saat meninggalkan kendaraan untuk mudik adalah penurunan daya aki atau aki soak.
Kombinasi gerakan mengayun dan suara mesin kendaraan bekerja secara sinergis menenangkan sistem saraf anak.
Mobil bukan hanya alat transportasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup dan penunjang aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, memilih mobil yang tepat menjadi keputusan penting
Maung tidak hanya sekadar kendaraan militer, tetapi kini bertransformasi menjadi simbol kematangan rekayasa industri nasional.
Peningkatan target IIMS ini sejalan dengan bertambahnya jumlah merek peserta, baik dari kategori kendaraan penumpang, roda dua, hingga industri pendukung lainnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved