Selasa 10 Mei 2022, 05:05 WIB

Ramadan dan Lebaran di Ranah Gurindam

David Krisna Alka Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah, Alumnus INS Kayutanam, Pariaman, Sumatra Barat | Opini
Ramadan dan Lebaran di Ranah Gurindam

MI/Rudi Kurniawansyah
Rumah milik Tan Malaka, salah satu tokoh Sumatra Barat.

 

AGNES Monica (Agnez Mo) dalam sebuah wawancara yang diunggah di kanal Youtube Recording Academy/Grammys pada Selasa, 8 Maret 2022, menyebut masakan Padang sebagai makanan favoritnya. Dalam video itu, dengan penuh semangat Agnez Mo menjelaskan nasi Padang ialah makanan tradisional dari Indonesia yang menjadi makanan favoritnya sejak kecil. “Saya tidak percaya bahwa saya merasa sangat bersemangat tentang nasi Padang, tetapi itulah yang saya rasakan. Saya tumbuh dengan makanan itu,” seloroh Agnez.

Ya, Agnez hanya satu contoh dari sekian banyak selebritas, figur publik, pejabat, agamawan, dan manusia dari berbagai golongan di pelosok bumi ini yang menyukai masakan Padang.

Pada bulan Ramadan, saat momen makan sahur atau pun berbuka puasa, tak terkira jumlah rumah makan Padang di penjuru negeri menjadi tempat favorit. Tak jarang, kedai makanan Padang dijadikan tempat berbuka puasa bersama. Banyak pula orang yang memesan masakan Padang melalui pesanan daring, baik selama Ramadan maupun di bulan-bulan lain.

Hal itu penulis alami sendiri setiap kali berada di Ranah Gurindam, negeri Minangkabau. Ketika berburu makan menjelang saat berbuka puasa, hampir semua kedai masakan Padang ramai pengunjung. Cukup beruntung apabila tak harus mengantre untuk mendapatkan satu porsi masakan Padang pilihan.

Pendeknya, penulis selalu mendapatkan kesan amat mendalam selama menjalankan ibadah puasa ataupun Lebaran di negeri Minangkabau. Seperti tahun yang sudah-sudah, kemewahan menjalankan ibadah puasa dan Lebaran di negeri ini memang tidak hanya soal nikmatnya berbuka puasa di rumah makan Padang, tetapi juga ada hal lain. Sebut saja budaya mandi balimau yang sudah menjadi tradisi sebelum melakukan ibadah di bulan Ramadan. Ada pula tradisi barayo yang biasanya diadakan setelah melaksanakan salat Idul Fitri.

Tradisi barayo pada dasarnya sama dengan yang dilakukan komunitas muslim lain di Tanah Air. Selama beberapa hari, orang saling berkunjung ke rumah sanak keluarga dari pintu ke pintu. Bersalaman. Melepas rindu. Memohon maaf dan memaafkan satu sama lain. Dalam momen itu, tak jarang air mata ikut tumpah seiring dengan rasa plong di dada karena merasa ‘menerima’ atau ‘diterima’, terlebih kepada orang yang sebelumnya tersalah.

 

Ramadan dan ironi Ranah Gurindam

Kesan mendalam ketika berpuasa dan berhari raya di Ranah Gurindam beberapa hari belakangan ini agak terganggu, setelah tersiar kabar menggegerkan terkait kemunculan jaringan Negara Islam Indonesia (NII) di negeri yang terkenal dengan mamangan Adaik Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Konon, banyak masyarakat Minangkabau yang ikut bergabung dengan gerakan bawah tanah ini. Jumlahnya tak tanggung-tanggung. Telah mencapai ribuan.

Sesuai dengan berita yang beredar, diketahui jumlah anggota yang tergabung dalam jaringan NII di Sumatra Barat berjumlah 1.125 orang. Dari jumlah itu, patut disyukuri, sebanyak 909 orang (391 orang asal Dharmasraya dan 518 orang di Tanah Datar) telah mencabut baiatnya atau bertobat dan bersumpah setia kembali mengakui Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai satu-satunya negara yang sah di Tanah Air.

Fakta ribuan masyarakat Padang di hari ini banyak yang tergiur dengan ide negara utopis ala NII ialah hal yang sungguh ironi. Mereka yang terlibat itu harus mendapatkan perhatian dan dirangkul. Ormas-ormas Islam moderat, seperti Muhammadiyah, dapat memainkan perannya dengan memberikan suatu pencerahan bahwa membela NKRI sebenarnya sama saja dengan membela Islam itu sendiri.

Hal-hal yang semakin aneh didengar yang terjadi di ranah Minangkabau, umumnya Sumatra Barat, sebenarnya sudah berkali-kali diingatkan Muazin Bangsa Buya Ahmad Syafii Maarif. Cukup sering Buya Maarif menyoroti problematik kemasyarakatan yang dihadapi masyarakat Minang kontemporer. Dalam bukunya berjudul Ranah Gurindam dalam Sorotan: Pabrik Kearifan Kata dan Industri Otak di Tiang Gantung Sejarah, Buya Maarif sangat mengkhawatirkan masyarakat Minangkabau saat ini yang seolah semakin kehilangan cara bertutur lewat kearifan kata dan cara berpikir yang berbasiskan logika canggih.

Kehilangan akan dua pusaka, yang biasanya dimiliki masyarakat Minang itu pun dimanfaatkan betul oleh ‘gerakan-gerakan yang aneh-aneh’ seperti keterlibatan orang Minang dalam NII. Tentu, keanehan-keanehan semacam itu masih akan terus terjadi apabila masyarakat Minang tidak segera menemukan dan menggunakan kembali dua pusakanya itu.

Seperti diungkapkan Jeffrie Geovanie, buku Buya Maarif tersebut ‘tak ampun (akan) menyentak alam pikir dan laku penghuni Rumah Gadang’. Meskipun terdengar pedas, nada tegas Buya Maarif menggambarkan kecintaannya yang mendalam kepada tanah kelahirannya yang lama ditinggalkan karena beliau ‘merantau Cina’ di bumi Yogyakarta.

 

Minang: kembali ke fitrah

Idul Fitri menjadi penanda bahwa bulan Ramadan telah usai. Saat Idul Fitri kita juga sering mendengar istilah kembali ke fitrah. Secara umum, kembali ke fitrah memiliki makna kembali ke jati diri yang asli dan autentik. Selain itu, fitrah dapat diartikan sebagai mudik ke kampung halaman biologis setelah selama satu bulan penuh berpuasa serta juga dapat dimaknai sebagai mudik, kembali ke kampung halaman masing-masing setelah melakukan perantauan.

Bagi orang Minang, merantau sudah menjadi suatu hal yang mandarah daging. Menurut Taufik Abdullah (2018) dalam bukunya, Sekolah & Politik: Pergerakan Kaum Muda di Sumatra Barat (1927-1933), pergi ke rantau atau merantau ialah sebuah jalan untuk memenuhi hukum dasar yang menuntut agar individu menundukkan diri terhadap kebesaran dunia.

Tak mengherankan jika pada Idul Fitri tahun ini sebanyak 1,8 juta orang akan mudik ke Sumatra Barat (CNN Indonesia, 30/4). Karena itu, momen Ramadan yang kemudian disusul Idul Fitri mestinya menjadi bahan renungan dan penyegaran kembali tentang identitas Minang yang genuine atau autentik.

Di antara keautentikan orang Minang ialah tak punya syarat apa pun untuk mencintai Tanah Air dan NKRI. Hal itu tecermin dari tokoh-tokoh Minang autentik, seperti Tan Malaka, Mohammad Hatta, atau Bung Syahrir. Jika berkaca saja kepada ketiga tokoh Minang yang turut mendirikan Indonesia itu, tentulah angan dan tindakan yang hendak mengganti NKRI mestinya tidak akan pernah terjadi di Ranah Gurindam. Itu karena mencintai NKRI dapat dikatakan sudah menjadi fitrahnya orang Minang. Selamat ber-Lebaran, mohon maaf lahir dan batin.

Baca Juga

MI/Duta

Asas Legalitas dalam Sistem Hukum di Indonesia, Relevankah?

👤Romli Atmasasmita Guru Besar (Em) Universitas Padjadjaran 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:10 WIB
Ketentuan itu cocok dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang bersifat heterogen; berbeda-beda kultur daerah adat satu dan...
Dok. Pribadi

Waisak, Momentum Introspeksi Diri

👤Maha Pandita Utama Suhadi Sendjaja Ketua Umum Parisadha Buddha Dhrama Niciren Syosyu Indonesia (NSI) 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:05 WIB
HARI raya Waisak merupakan sebuah momentum untuk semakin mendalami makna perjuangan Buddha Sakyamuni dalam menghayati darma dan...
MI/Duta

Pemimpin ASEAN: Saatnya Belajar pada Angsa Hitam Ukraina

👤Hary Prabowo Analis Internasional dan Geopolitik Asia-Pasifi k 🕔Kamis 19 Mei 2022, 05:00 WIB
UKRAINA kini telah menjadi bara api paling membara. Pelan, tapi pasti. Sumbu api merembet ke negeri-negeri Balkan, Eropa Timur, hingga...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya