Jumat 08 April 2022, 21:15 WIB

Tantangan Besar Badan Pangan Nasional 

Gatot Irianto, Peneliti Badan Litbang Pertanian/Advisory Board IFRI, Pupuk Indonesia | Opini
Tantangan Besar Badan Pangan Nasional 

Ist
Gatot Irianto, Peneliti Badan Litbang Pertanian/Advisory Board IFRI, Pupuk Indonesia.

 

UNDANG -ndang Pangan Nomor 18 Tahun 2012, mengamanatkan pembentukan Badan Pangan Nasional. Pemerintah baru merealisasikan melalui Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2021. Delay waktu yang demikian lama (sekitar 9 Tahun) menyebabkan Indonesia kehilangan banyak opportunities dalam mengelola pangan nasional.

Terjadinya impor beras yang melebihi kebutuhan, sehingga ratusan ribu ton beras di Bulog tidak layak konsumsi dan harganya jatuh dan harus mengalami kerugian. Beberapa kali peternak unggas baik petelur maupun pedaging dan ruminansia terkapar dan tidak berdaya menghadapi dilemma harga pakan yang melambung tinggi tetapi harga jual ayam potong dan telur anjlok sampai ke titik nadir.

Peternak kecil mati dan tidak berdaya untuk bertahan menghadapi ganasnya harga bahan pakan impor. Belum lagi dengan tragedi minyak goreng yang menimbulkan polemic berkepanjangan tanpa ujung di negara produsen crude palm oil terbesar didunia.

Pantaskah harga minyak sawit kita melambung melebihi negara pengimpor minyak? Ataukah pemerintah akan memilih jalan tidak popular dengan mengimpor minyak goreng seperti Ketika kekurangan beras atau gula??? Ujian dan cobaan Badan Pangan Nasional berikutnya adalah Ramadhan dan Idulfitri 2022.
Uji Nyali Ramadhan dan Idul Fitri

Keberadaan dan peran Badan Pangan Nasional diuji langsung di lapangan saat masyarakat melaksanakan ibadah puasa  bulan Ramadhan dan Idul fitri. Selain butuh nyali ekstra, Badan Pangan Nasional juga harus memiliki terobosan dalam memitigasi gejolak harga bahan pokok yang dipastikan melambung sampai Idul Fitri.

Faktanya, awal Ramadhan 2 April 2022, harga komoditas pangan pokok beras, gula pasir, jagung, minyak goreng, daging sapi bergejolak takam. Beras naik dibandingkan minggu lalu naik 0,03% menjadi Rp 11 790 per Kg. Gula pasir naik 0,82% menjadi Rp 15 141/kg. Jagung naik 5,69% menjadi Rp 8 948/kg, minyak goreng naik 2,4% menjadi Rp 23 949/kg. Daging sapi naik 2,35% menjadi Rp 130 940/kg. yang ditandai harga minyak melambungm daging sapi.

Selain harganya terkerek naik secara konsisten dan berkelanjutan diperparah lagi dengan pasokan yang terbatas, bahkan beberapa tempat mengalami shortage/langka. Kondisi ini yang memicu panic buying di masyarakat, sehingga mereka melakukan pembelian yang berlebihan dan dipastikan akan memicu pergerakan harga semakin brutal.

Diperburuk lagi dengan aksi para mafia pangan yang tidak banyak tersentuh hukum, terus dan terus menimbun untuk mengeruk kepentingan sendiri, sesaat dan sesat demi mengeruk keuntungan tanpa batas. Turbulensi harga pangan ini diprediksi tidak akan berakhir pada Idul fitri, karena harga komoditan bahan pangan, bahan pakan dan pangan dunia juga melambung. Salah satu pemnyebabnya adalah inveasi Rusia terhadap Ukraina dan pandemic Covid yang belum kunjung menjadi endemic.

Invasi Rusia dan Pandemi Covid 19

Rusia dan Ukraina merupakan dua negara penghasil gandum nomor 3 (setelah Tiongkok dan India) dan nomor 8 dunia. Produksi gandung Tiongkok dan India dipastikan lebih banyak untuk konsumsi dalam negeri, sehingga a priori Rusialah pemilik gandum terbesar di dunia, karena siap diekspor. Demikian halnya Ukraina, surplusnya sangat besar, sehingga turbulensi pasokan gandung Ukraina akan mendistorsi pasokan pangan dan pakan berbahan baku gandung di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Bergejolaknya harga gandung dunia secara langsung akan mengguncang dua sendi bisnis yaitu pangan dan pakan. Pakan akan berdampak terhadap meningkatnya biaya produksi pangan berbahan protein.

Secara simultan, juga berdampak pada bangkrutnya usaha ternak unggas (petelur dan pedaging), ruminansia (besar maupun kecil). Ambruknya peternak rakyat, mahalnya biaya produksi protein akan memperburuk tumbuh dan kembang anak Indonesia. Dalam jangka Panjang akan menurunkan daya saing bangsa Indonesia di kancah internasional.

Sisi ekonominya, biaya produksi protein yang tinggi dan harga komoditas pangan yang tidak terkendali akan memicu terjadinya Inflasi yang tinggi, melemahnya daya beli rakyat miskin, gizi buruk, penyakit dan penyakit yang mempengaruhi tingkat kecerdasan anak.

Rusia juga merupakan eksportir pupuk terbesar dunia, sehingga penghentian ekspor ammonium nitrat dari Rusia dipastiakn akan mendongkrak harga urea di pasar internasional. Belarusia yang juga produsen bahan baku pupuk potassium (Kalium) papan atas dunia juga akan mendongkrak harganya sejalan dengan meluasnya invasi Rusia ke Ukraina.

Pupuk yang mahal dan pasokannya yang terbatas akan menurunkan akses dan daya beli petani untuk berproduksi. Ambruknya sector pertanian dipastiakn berimplikasi ambrukmya pemerintahan, karena rakyat akan bergolak. Sejarah menunjukkan bahwa jatuhnya rezim pemerintahan di Indonesia terjadi bersamaan dengan harga pangan mahal dan pasokan terbatas. Pertanyaannya, bagaimana pemecahan masalahnya. 

Domestikasi produksi pupuk, pakan dan pangan

Pemerintah perlu melakukan perubahan fundamental dari mulai produksi pupuk, pakan maupun pangan berbasis produk dalam negeri. Selain menggerakan ekonomi masyarakat, juga menekan pengeluaran devisa, sehingga kemandirian ekonomi sebagaimana salah satu Nawacita Bung Karno untuk mandiri/berdaulat di Bidang Ekonomi.

Kelapa sawit dengan varian produk turunannya harus diberdayakan untuk produksi pupuk, pakan dan pangan yang murah. Komoditas tersebut tidak ada tandingannya di dunia setidaknya sampai saat ini. Produksi pupuk dan pakan sudah dibuktikan oleh anak bangsa bahwa dengan Bungkil Inti Sawit (BIS), Indonesia mampu mandiri dalam produksi pupuk dan pangan.

Tugas pemerintah dalam hal ini Badan Pangan Nasional untuk melakukan pengendalian ekspor BIS dan mendorong pengolahan lanjutan BIS menjadi produk pupuk dan pakan. Lompatan ini telah terbukti mampu memandirikan peternak kecil dan besar di dalam negeri lolos dari terjangan badai pakan mahal.  

Jika pemerintah mengatur ketersediaan BIS melalui domestic market obligation dan pajak ekspor, maka industri pupuk, pakan dan pangan nasional akan berkembang dahsyat, bahkan mampu betrtempur dan melumat konglomerasi multi nasional yang bekerja dengan teknologi yang sudah disruptive yaitu berbahan baku bungkil kedelai, tepung tulang dan jagung. Saatnya rakyat indonesia menunggu kiprah dan kinerja Badan Pangan Nasional yang dikomandamni Pak Arief Prasetyo Adi. Semoga Mimpi Bangsa Indonesia Berdaulat Dan Mandiri Di Bidang Pangan Menjadi Nyata. (OL-09)

Baca Juga

MI/RM Zen

Menanti Langkah Lanjutan Luhut Pandjaitan Bereskan Sengkarut Minyak Goreng

👤Soelistijono, Editor Media Indonesia 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 16:37 WIB
Ayo wani ngalah, luhur wekasane.  Kita berani mengalah demi kepentingan bersama adalah sikap yang luhur....
MI/SUMARYANTO BRONTO

Cinta Buya Syafii kepada Bangsa

👤Hajriyanto Y Thohari Ketua PP Muhammadiyah 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 05:10 WIB
BUYA Syafii, panggilan akrab Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif, adalah pengagum berat Mohammad Hatta, wakil presiden pertama kita. Keduanya...
MI/Duta

Thinking of no Box Mengenang Kesederhanaan Buya Syafii Maarif

👤Ahmad Baidhowi AR Direktur Eksekutif Yayasan Sukma, Jakarta 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 05:05 WIB
JUMAT (27/5), di hari yang penuh berkah, Buya Syafii Maarif mengembuskan napas terakhir dan menghadap Allah dengan penuh...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya