Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
SENIN (4/10) malam, layanan Facebook, Instagram, dan Whatsapp, kolaps. Tiga platform media sosial milik Mark Zuckerberg itu tidak dapat diakses selama kurang lebih 6 jam, sekira mulai pukul 23.00 WIB. ‘Huru-hara’ itu baru saya ketahui pagi harinya lewat pemberitaan di sejumlah media online dan ternyata berdampak ‘dahsyat’.
Di Twitter, banyak warganet panik dan sibuk menanyakan kabar lumpuhnya ketiga aplikasi tersebut. Bahkan, tidak sedikit yang misuh-misuh. Mereka seperti ingin menyatakan bahwa dunia serasa ‘kiamat’ tanpa kehadiran sejumlah platform tersebut. Entah, apakah para netizen, terutama yang ada di Indonesia, betul-betul urgen butuh ketiga aplikasi tersebut menjelang tengah malam buta itu? Kalau saya pribadi kebetulan saat itu tengah dalam perjalanan dari alam kesadaran menuju ketaksadaran alias ‘molor’ dan baru terbangun menjelang azan Subuh sehingga tidak ikut-ikutan galau.
Dari peristiwa itu, saya malah merenung dan berpikir sudah sedemikian tergantungkah manusia dengan teknologi, khususnya pada ketiga aplikasi tersebut? Apalagi, beberapa media arus utama memberitakan peristiwa itu sampai beberapa hari, seolah itu lebih penting ketimbang sejumlah kota dan desa yang terancam dan sedang diterpa bencana hidrometeorologi atau potensi serangan gelombang ketiga virus korona yang diprediksi terjadi akhir tahun nanti. Lagi pula, memangnya kita bakal ‘patheken’ (mati) jika tanpa aplikasi tersebut? Bukankah hidup kita dulu juga baik-baik saja ketika belum ada smartphone dan internet?
Harus diakui, gelembung teknologi memang telah memicu banjir informasi. Kabar berkelebat silih berganti dari seluruh penjuru negeri. Manusia kini makin sulit memilah mana warta yang betul-betul penting dan dibutuhkan. Lantaran dituntut ketergesaan, kita pun jadi malas berkontemplasi. Untuk kasus di atas, bukankah lebih penting mencari tahu penyebab lumpuhnya ketiga aplikasi itu dan mempertanyakan apakah data pribadi kita baik-baik saja. Ingat, skandal Cambridge Analytica beberapa tahun lalu, ketika jutaan data pengguna Facebook bocor dan dimanfaatkan pihak ketiga untuk tujuan politikus di negara tertentu. Apakah ada jaminan kejadian serupa tidak bakal terulang?
Saya rasa, mempertanyakan faktor keamanan data ini jauh lebih penting ketimbang membesar-besarkan kerugian yang dialami Zuckerberg akibat peristiwa tersebut. Lagi pula, kata sang taipan teknologi itu, kerugian yang dialaminya bukanlah hal utama. Yang justru harus jadi perhatian, kata dia, ialah nasib mereka yang tergantung dengan aplikasi ini, baik untuk menjalankan roda bisnis maupun organisasi atau komunitas.
Selaku pengguna, pernahkah kita juga secara kritis mempertanyakan (minimal dalam hati) apa manfaat dan mudaratnya sejumlah aplikasi yang dibenamkan dalam smartphone itu bagi kehidupan sehari-hari. Yang pasti, di negara asalnya di Amerika Serikat sana, kehadiran tiga aplikasi itu, terutama Facebook dan Instagram, telah mengundang polemik. Mereka juga dianggap memonopoli media sosial. Seorang mantan manajer Facebook, Frances Haugen, baru-baru ini bahkan mengungkapkan situs dan aplikasi perusahaan itu merugikan anak-anak, memicu perpecahan, dan melemahkan demokrasi. Meski dibantah bekas majikannya di perusahaan itu, tak urung senat AS pun turun tangan untuk menyelidiki kasus ini.
Kita, masyarakat di Indonesia selaku konsumen, semestinya juga kritis. Jangan sebatas jadi pengguna, tanpa tahu makna dan manfaat perangkat tersebut. Coba hitung berapa waktu kita tersita untuk memelototi sejumlah aplikasi itu. Mungkin dari kasus ini kita bisa belajar untuk mengurangi ketergantungan dari perangkat teknologi tersebut. Jangan semua emosi (perasaan) dan perilaku atau kebiasaan kita sehari-hari diumbar kepada publik, yang ujung-ujungnya dapat dibaca dan dimanfaatkan sebagai alat bujuk rayu para pengiklan untuk menguras dompet kita.
Jujur harus diakui, di era kecerdasan artifisial kehadiran teknologi memang krusial. Namun, secanggih apa pun, ia cuma sebatas tools. Jangan sampai perkakas itu justru menjelma jadi diktator digital, yang mendikte dan memerangkap kita dalam kebodohan natural. Kita (manusia) harus tetap memegang kendali otoritas bukan segalanya diserahkan pada algoritma.
Waspadalah!
Facebook adalah salah satu media sosial terbesar di dunia yang digunakan untuk berkomunikasi, berbagi informasi, dan membangun jaringan pertemanan secara online.
Menurut tangkapan layar yang dibagikan oleh Paluzzi, Meta akan memperingatkan pengguna bahwa jika mereka keluar dari daftar Teman Dekat.
Bingung karena lupa? Berikut panduan lengkap cara melihat kata sandi FB sendiri yang tersimpan di Google Chrome, Android, dan iPhone dengan mudah dan aman.
Saling tuding terkait penyebaran berita palsu disebut menjadi pola yang berulang dalam konflik antara Thailand dan Kamboja.
Australia menerapkan larangan akses media sosial bagi pengguna di bawah 16 tahun.
Kini Facebook menyediakan fitur Add Music yang memungkinkan pengguna menambahkan lagu langsung ke dalam postingan.
Mark Zuckerberg bersaksi di pengadilan Los Angeles terkait keamanan Instagram bagi remaja. Terungkap dokumen internal soal efek negatif filter kecantikan dan data pengguna di bawah umur.
Mark Zuckerberg berhadapan dengan juri dalam sidang perdana gugatan kecanduan media sosial. Dokumen internal mengungkap strategi Meta dalam menjaring pengguna remaja.
Mark Zuckerberg akhirnya bersaksi di depan juri terkait gugatan kecanduan media sosial. Dokumen internal mengungkap jutaan anak di bawah umur bebas akses Instagram.
Instagram resmi menguji fitur Short Drama untuk menyaingi TikTok. Simak analisis mendalam fitur drama pendek vertikal dan potensi monetisasinya di sini
Sebelum meninggal di usia 48 tahun, James Van Der Beek meninggalkan pesan menyentuh tentang cinta dan keluarga di Instagram.
Sidang perdana kasus kecanduan media sosial dimulai di California. Meta dan YouTube dituduh sengaja merancang platform yang merusak otak anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved