Kamis 19 Agustus 2021, 09:40 WIB

Jangan Bilang tidak Merdeka

Bernardus T. Beding | Dosen Prodi PBSI Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng | Opini
Jangan Bilang tidak Merdeka

Dok. Pribadi
Istimewa

 

   TANGGAL 17 Agustus 2021, bangsa Indonesia mengenang 76 tahun lalu menyatakan kemerdekaan dengan berdaulat, menunjukkan eksistensi dan kepantasan sebagai negara yang merdeka, bebas menentukan arah dan tujuannya, serta, terlepas dari campur tangan pihak manapun yang mendiskriminasinya. Kegembiraan penuh syukur yang terpancar waktu itu, kembali dirasakan seluruh rakyat Indonesia saat ini.
   Kemerdekaan bangsa Indonesia, tidak terlepas dari jerih payah jiwa raga manusia yang mendapat predikat mulia, pahlawan. Mereka senantiasa berjuang dan berkorban demi nusa dan bangsa, mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan nyawa demi kedaulatan bangsa. Muncul pertanyaan, apakah rakyat Indonesia sudah mewariskan harapan suci para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan dahulu?
   Kehidupan rakyat Indonesia, kerap didampingi dengan bahasa-bahasa naif yang beraroma bahwa negeri ini belum merdeka. Satu sisi, mereka dinilai tidak pernah belajar menghargai sejarah Indonesia. Sisi lain, mereka memiliki setumpuk kekecewaan di benak akibat mengalami kehidupan penuh kesusahan dan kesulitan. Apapun alasannya, tentu bahasa demikian sangat menyakitkan hati para pahlawan, yang telah berjuang dengan jiwa dan raga, untuk kebebasan yang diperoleh bangsa Indonesia saat ini.
   Sudah selayaknya, kita melihat makna kebebasan saat ini, para orang tua masih bisa bekerja tanpa intervensi dan paksaan. Anak-anak menikmati pendidikan tanpa ada ancaman, kebebasan berpendapat dan berbicara. Rakyat Indonesia patut mensyukuri arti kemerdekaan, karena tidak semua bangsa menikmatinya. Rakyat di jalur Gaza sangat merindukan momen kemerdekaan.
   Bangsa Indonesia belum setangguh Amerika, dan bertumbuh seperti negara-negara barat merupakan proses yang wajar dalam mengisi kemerdekaan itu sendiri. Bagaimana Indonesia akan menjadi negara tangguh dan bertumbuh, jika mental rakyatnya masih dibayangi perasaan yang tidak bersatu.
    Istilah satu yang menurunkan persatuan, bersatuan, dan kesatuan, perlu mendapat tempat dalam memaknai kemerdekaan. Dengan bersatu, penuh persatuan, dan menjadi kesatuan, bangsa Indonesia menjadi tangguh dan terus bertumbuh dalam kemerdekaan. Tanpa adanya rasa persatuan dan kesatuan, serta semangat bersatu, bangsa Indonesia bisa terpecah belah, kemerdekaan akan menjadi mimpi belaka. Semangat bersatu menjadi simbol peradaban yang tidak pernah lepas dari kebangsaan.

   Persatuan sebagai roh kemerdekaan

Sila ketiga Pancasil, “Persatuan Indonesia” menunjukkan, bahwa masyarakat Indonesia harus menciptakan, dan melahirkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa di atas perbedaan agama, ras, suku, dan golongan. Bangsa adalah orang-orang yang memiliki kesamaan asal keturunan adat, bahasa dan sejarah, serta, berpemerintahan sendiri.
   Bangsa, merupakan kumpulan manusia yang biasanya terikat karena kesatuan bahasa, dan wilayah tertentu di muka bumi. Hal ini tersirat arti pentingnya menjaga kerukunan berbangsa antarsesama manusia Indonesia.
   Rukun, berarti berusaha untuk menghindari pecahnya konflik-konflik dan kekerasan antarsuku, ras, dan agama. Hildred Geertz menyebut, keadaan rukun sebagai upaya harmonious social appearance. Harmonisasi sosial merupakan perwujudan watak budaya Nusantara. Sejatinya, sikap rukun sudah tertera dalam sila ketiga Pancasila, “Persatuan Indonesia” dengan mengutamakan etika baik masyarakat dalam berkomunikasi.
   Matra kerukunan, dapat dilihat dalam aspek sosial dan personal. Secara sosial, kerukunan sebagai wujud menjaga rasa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Secara personal, kerukunan menekankan pada sikap seseorang dalam upaya menyesuaikan dengan kepentingan masyarakat. Keduanya merupakan sikap yang harus dilestarikan dalam diri manusia, dan harus dipaksakan dalam kehidupan bermasyarakat.
    Persatuan merupakan kultur bangsa Indonesia yang beretika, dan mengedepankan nilai-nilai moral dan kerukunan. Dengan selalu mengedepankan prinsip kerukunan antarsesama, masyarakat Indonesia harusnya memanfaatkan rasio dan logika, memiliki kehalusan, dan kebaikan hati nurani dalam menjalin dan menumbuhkan hubungan dengan orang lain berdasarkan nilai-nilai Pancasila.
    Selain itu, kerukunan hidup berbangsa perlu didasari pada sikap cinta kasih. Driyarkara menyatakan, bahwa untuk mencapai prinsip kerukunan berbangsa, maka paradigma yang digunakan, selalu mengedepankan cinta kasih dalam pemersatu sila-sila. Karena, titik tolaknya adalah manusia. “Aku manusia mengakui bahwa keberadaanku itu merupakan ‘ada-bersama-dengan cinta kasih’. Jadi, keberadaanku harus dijalankan sebagai perwujudan cinta kasih pula. Cinta kasih dalam kesatuanku dan kerukunan dengan sesama manusia. Jika hal itu dipandang dari sisi perikemanusiaan.”
    Dengan demikian, persatuan dan kesatuan ikut serta menentukan kemerdekaan, dan membentuk jati diri manusia yang konkret dengan pikiran dan perasaan semangat. Konkret hidup dalam persatuan dan kesatuan adalah 'ada bersama'. Artinya, kehidupan masyarakat Indonesia harus merupakan bagian dari pelaksanaan nilai-nilai perikemanusiaan dan kerukunan berbangsa.
    Karena itu, keselarasan hidup dalam kedamaian akan selalu bertumbuh, dan terjaga menjadi prinsip utama persatuan dan kesatuan. Semangat bersatu sebagai satu bangsa yang merdeka memiliki kedudukan sangat tinggi dalam masyarakat di Indonesia. Dengan begitu, keselarasan sosial dalam kedamaian akan selalu terjaga di dalam bangsa Indonesia. Karena itu, masyarakat Indonesia sesungguhnya memiliki ajaran-ajaran moral dan etika yang baik. Nilai-nilai etika filosofis yang melekat pada Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
    Sudah saatnya, dan menjadi hakikat rakyat Indonesia bersatu dan merajut kebhinekaan. Bahasa-bahasa hujatan sudah saatnya diganti dengan bahasa persatuan. Bangsa Indonesia adalah tempat yang nyaman untuk merasakan persatuan, sumber rajutan kebersamaan di tengah perbedaan.
    Satu hal penting bahwa jangan bilang tidak merdeka, karena buah dari persatuan adalah kerukunan, buah dari kerukunan adalah Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh.

Baca Juga

MI/Seno

Presidensi G-20 Indonesia Pimpin Pemulihan Covid-19

👤Mayling Oey-Gardiner Guru Besar FEB UI dan Ketua Komisi Ilmu Sosial AIPI 🕔Rabu 26 Januari 2022, 05:10 WIB
DI bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, G-20 pada 2022 menjunjung tema Pulih bersama, pulih lebih kuat (Recover together recover...
Dok. Pribadi

BRIN, Momentum Membangun Akuisisi Pertahanan

👤YH Yogaswara Perwira Peneliti TNI Angkatan Udara 🕔Rabu 26 Januari 2022, 05:05 WIB
Sayangnya, alih-alih dilaksanakan melalui proses akuisisi, pembangunan kekuatan pertahanan Indonesia masih dilaksanakan melalui proses...
MI/Seno

Optimistis dan Hati-Hati di Tahun 2022

👤Hendri Saparini Ekonom dan Pendiri CORE Indonesia 🕔Rabu 26 Januari 2022, 05:00 WIB
OPTIMISTISKAH ekonomi kita tahun ini? Pertanyaan ini menjadi pertanyaan wajib di awal...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya