Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
BELUM lama ini, Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyinggung soal Jakarta. Ia bilang kota ini berpotensi tenggelam pada satu dekade mendatang. Ia menyampaikan pernyataannya itu bukan dalam rangka kunjungan kerjanya di Indonesia, melainkan di negerinya sendiri, tepatnya di Kantor Direktur Intelijen Nasional AS pada 27 Juli lalu.
Di situ ia berbicara dalam konteks perubahan iklim. Menurut Presiden yang menggantikan Donald Trump itu, pemanasan global menyebabkan naiknya permukaan air laut. Ribuan orang bisa kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, dan kehidupan. “Apa yang terjadi di Indonesia jika proyeksinya benar bahwa dalam 10 tahun ke depan, mereka mungkin harus memindahkan ibu kotanya karena mereka akan berada di bawah air?” kata Biden seperti dikutip berbagai media arus utama di Tanah Air.
Ucapan Biden itu sontak bikin heboh dan jadi perbincangan, termasuk di kalangan warganet yang kadang sok ‘mahatahu’ dan ‘mahakuasa’. Ia juga jadi bahan dialog di berbagai televisi dan siniar (podcast). Apa yang disampaikan Tuan Biden sebetulnya bukan sesuatu yang baru dan tidak mengejutkan. Banyak ahli lingkungan, termasuk pakar tata kota di Indonesia, telah mengingatkan tentang penurunan tanah di Jakarta sehingga berpotensi tenggelam, baik pada saat dipimpin Sutiyoso maupun Fauzi Bowo.
Bahkan, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, JP Coen, pun ketika memerintah di zaman VOC sudah tahu kalau wilayah yang dulu bernama Jayakarta itu memiliki kontur labil karena merupakan hasil sedimentasi. Namun, itu bukan masalah untuk tetap ditinggali karena kota itu mirip di negerinya (Belanda) yang sebagian wilayahnya juga berada di bawah permukaan laut.
“Ia (Coen) meminta arsitek bernama Simon Stevin untuk membangun sejumlah kanal seperti kota-kota di Belanda,” kata sejarawan Universitas Indonesia, Bondan Kanumoyoso, dalam dialog Banjir Jakarta, Riwayatmu Dulu di channel Youtube dan Facebook Historia.id pada Februari lalu.
Seperti tercatat dalam berbagai kitab sejarah, upaya itu tidak sepenuhnya berhasil sebab alam, terutama cuaca dengan intensitas hujan yang tidak seperti di Belanda, ikut berkonspirasi membuat kota ini sering tergenang. Ditambah lagi pembangunan yang kian masif membuat ketersediaan air tanah di Jakarta pun ikut tergerus, yang berdampak pada kian menurunnya permukaan daratan.
Awal Februari lalu, peneliti Kebencanaan Pusat Teknologi Reduksi dan Risiko Bencana Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (PTRRB BPPT) Joko Widodo memaparkan dari berbagai hasil kajian studi ditemukan fakta terjadinya penurunan tanah di DKI selama 50 tahun terakhir. Dalam studinya, kata Joko, tim INDI (Indonesian Network for Disaster Information) 4.0 BPPT telah menganalisis menggunakan metode interferometric synthetic aperture radar (Insar) berdasarkan data satelit Radar Sentinel 1A untuk melihat laju penurunan tanah di Jakarta. Hasil analisis data Insar yang direkam sejak 20 Maret–22 Oktober 2019 itu memperlihatkan bahwa laju maksimum penurunan tanah mencapai 6 cm per tahun.
Menurut dia, ada empat penyebab penurunan muka tanah yang terjadi di Jakarta. Pertama, akibat ekstraksi air tanah. Kedua, akibat beban konstruksi. Ketiga, akibat konsolidasi alami tanah alluvium. Terakhir, penurunan tanah tektonik. Jika ditambah semakin naiknya permukaan laut sebagai dampak pemanasan global, apa yang disampaikan Biden rasanya masuk akal. Apalagi jika tidak diiringi langkah konkret segera untuk menanggulanginya.
Terus terang saya tidak paham mengapa Biden mengambil contoh Jakarta ketika berbicara dengan para bawahannya tentang perubahan iklim. Saya juga tidak tahu apakah omongannya itu bakal berdampak pada harga tanah dan kavling di pesisir utara Jakarta, seperti halnya ucapan para gubernur Bank Sentral yang kerap mengguncang lantai bursa.
Namun, yang pasti, kita patut berterima kasih atas ucapannya itu. Setidaknya bisa menjadi warning bagi kita semua meski mungkin wacana itu bakal tenggelam oleh berita atau gosip-gosip selanjutnya, seperti korupsi, artis yang terjerat prostitusi, dan sebagainya. Maklum, warga +62 umumnya cepat lupa.
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti Cornell University merilis peta global yang mengungkap 70% emisi lahan pertanian berasal dari sawah padi dan pengeringan lahan gambut.
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan kondisi terkini genangan akibat hujan deras yang mengguyur ibu kota sejak Minggu (8/3).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi mencatat sedikitnya 18 titik banjir dan satu rumah roboh di sejumlah wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat.
Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, Bun Joi Phiau mengatakan banjir yang berulang hampir setiap tahun seharusnya sudah dapat diantisipasi dengan sistem pengendalian banjir
Peristiwa tersebut menjadi banjir kedua yang melanda wilayah itu sejak awal tahun 2026, dengan ketinggian air mencapai lebih dari empat meter.
BPBD Kota Tangerang menyatakan sebanyak sembilan wilayah kecamatan terdampak banjir dengan ketinggian 40 - 150 cm akibat tingginya intensitas hujan.
Hujan yang mengguyur wilayah Jabodetabek pada Sabtu (7/3/2026) malam hingga pagi, menyebabkan banjir di sejumlah titik jalan dan pemukiman penduduk.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved