Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Misi 'Quad God' Ilia Malinin: Menjemput Takdir Emas di Olimpiade 2026

Media Indonesia
13/2/2026 17:10
Misi 'Quad God' Ilia Malinin: Menjemput Takdir Emas di Olimpiade 2026
Ilustrasi(olympics.com)

BAGI Ilia Malinin, permukaan es di Forum di Milano bukan sekadar arena pertandingan, melainkan tempat ia menjemput takdir. Dikenal dunia dengan julukan "Quad God", pemuda berusia 21 tahun asal Amerika Serikat ini memikul beban ekspektasi yang belum pernah dirasakan skater mana pun dalam sejarah Olimpiade Musim Dingin.

Sejak mendarat di Milan untuk gelaran Olimpiade 2026, Malinin telah menjadi magnet utama. Bukan hanya karena kemampuannya melakukan lompatan quadruple yang menentang hukum fisika, tetapi karena narasi besar yang ia bawa: meneruskan warisan orang tuanya, Roman Skorniakov dan Tatiana Malinina, yang merupakan pasangan atlet Olimpiade sekaligus pelatihnya sejak kecil.

Menjinakkan 'Es Olimpiade'

Meski datang sebagai favorit juara dunia, perjalanan Malinin di Milano Cortina 2026 sempat diawali dengan ketegangan. Ia mengaku sempat terintimidasi oleh atmosfer megah Olimpiade saat debut di nomor beregu pekan lalu. Namun, setelah membantu Amerika Serikat mengamankan emas beregu pada 8 Februari, Malinin seolah bertransformasi menjadi sosok yang berbeda.

"Setelah beberapa kali tampil di sini, saya merasa akhirnya telah menjinakkan es Olimpiade," ujar Malinin setelah memimpin sesi Short Program dengan skor 108.16. Ungkapan "taming the Olympic ice" kini menjadi kutipan ikonik yang menggambarkan kedewasaan mental sang atlet di bawah tekanan ribuan pasang mata di Italia.

Profil Singkat Ilia Malinin:

  • Nama: Ilia Malinin
  • Julukan: Quad God
  • Prestasi Utama: Juara Dunia 2024 & 2025, Emas Beregu Olimpiade 2026
  • Elemen Ikonik: Quadruple Axel, Backflip, Raspberry Twist

Lebih dari Sekadar 'Dewa Lompatan'

Julukan "Quad God" seringkali membuat publik lupa bahwa di balik rotasi udara yang fantastis, ada seorang pemuda yang mencari ketenangan lewat hobi astronomi dan dukungan keluarga. Di Milan, Malinin berusaha membuktikan bahwa ia bukan sekadar mesin lompatan, melainkan seorang seniman es yang mampu memadukan teknik brutal dengan estetika gerak yang emosional.

Hari ini, saat ia turun untuk sesi Free Skating yang menentukan, Malinin tidak hanya bertarung melawan gravitasi atau rival beratnya dari Jepang, Yuma Kagiyama. Ia bertarung untuk membuktikan bahwa misi pribadinya—membawa pulang emas individu Olimpiade ke rumahnya di Virginia—adalah sebuah keniscayaan.

Bagi Malinin, setiap putaran di udara adalah penghormatan bagi ribuan jam latihan di musim dingin yang menggigit, dan setiap pendaratan yang bersih adalah surat cinta untuk kedua orang tuanya yang selalu setia di pinggir rink.

 

PENAFIAN _Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya