Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Analisis Rivalitas Malinin vs Kagiyama: Sains vs Seni di Figure Skating Olimpiade Musim Dingin 2026

Media Indonesia
13/2/2026 18:22
Analisis Rivalitas Malinin vs Kagiyama: Sains vs Seni di Figure Skating Olimpiade Musim Dingin 2026
Yuma Kagiyama(olympics.com)

PERTARUNGAN antara Ilia Malinin (Amerika Serikat) dan Yuma Kagiyama (Jepang) di Milano Ice Skating Arena, Jumat (13/2/2026), bukan sekadar perebutan medali emas Olimpiade Milano Cortina 2026. Hasil akhir yang menempatkan Malinin di posisi pertama dan Kagiyama di posisi kedua menandai pergeseran fundamental dalam filosofi penilaian figure skating modern.

Dunia kini menyaksikan benturan dua kutub ekstrem: "Sains" yang diwakili oleh kekuatan teknis luar biasa Malinin, melawan "Seni" yang dipersonifikasikan melalui keanggunan artistik Kagiyama.

Revolusi Teknis Malinin

Ilia Malinin, yang dijuluki sebagai "Quad God", membawa aspek sains dan fisika ke level yang sebelumnya dianggap mustahil. Keberhasilannya mendaratkan Quadruple Axel—lompatan empat setengah putaran di udara—di panggung Olimpiade adalah bukti nyata evolusi atletik. Malinin memanfaatkan momentum dan kekuatan eksplosif untuk mengumpulkan poin teknis (Technical Element Score/TES) yang sangat tinggi.

Pendekatan ini memaksa para juri dan federasi internasional untuk meninjau kembali bobot kesulitan lompatan. Malinin membuktikan bahwa dengan perhitungan mekanika tubuh yang tepat, batasan manusia di atas es bisa terus didorong melampaui batas tradisional.

Kutipan Pakar: "Ini adalah era di mana batas antara atletik murni dan seni rupa semakin tipis. Malinin dan Kagiyama adalah dua sisi dari koin yang sama yang akan menentukan wajah olahraga ini dalam satu dekade ke depan."

Estetika Murni Kagiyama

Di sisi lain, Yuma Kagiyama berdiri sebagai penjaga marwah seni dalam olahraga ini. Meski secara matematis kalah dalam hal tingkat kesulitan lompatan ekstrem dibandingkan Malinin, Kagiyama unggul jauh dalam Program Component Score (PCS). Setiap gerakan kakinya (edges), transisi, hingga interpretasi musiknya dilakukan dengan presisi yang nyaris sempurna.

Bagi banyak pengamat, Kagiyama adalah pewaris takhta artistik yang ditinggalkan legenda Jepang, Yuzuru Hanyu. Ia membuktikan bahwa figure skating tetaplah sebuah pertunjukan seni, di mana aliran gerakan dan kedalaman emosi memiliki nilai yang setara dengan jumlah putaran di udara.

Perbandingan Fokus Performa

Aspek Perbandingan Ilia Malinin (Sains) Yuma Kagiyama (Seni)
Senjata Utama Quadruple Axel (4A) Deep Edges & Flow
Keunggulan Skor Technical Element (TES) Program Components (PCS)
Gaya Skating Power & Athleticism Grace & Musicality

Rivalitas ini menciptakan dilema sekaligus berkah bagi dunia skating. Kemenangan Malinin di Milan memberikan pesan kuat bahwa sains dan teknik tinggi adalah kunci kemenangan di era modern. Namun, perlawanan sengit dari Kagiyama memastikan bahwa jiwa seni dari olahraga ini tidak akan pernah hilang dari kancah Olimpiade.

 

PENAFIAN _Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya