Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

8,2 Juta Orang Diprediksi Mudik ke Yogyakarta Lebaran Tahun Ini

Ardi Teristi Hardi
10/3/2026 17:24
8,2 Juta Orang Diprediksi Mudik ke Yogyakarta Lebaran Tahun Ini
Stasiun Tugu Yogyakarta(Dok KAI)

BERDASARKAN hasil survei Kementerian Perhubungan, jumlah kedatangan pemudik di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Lebaran tahun ini diperkirakan mencapai sekitar 8,2 juta orang. Angka tersebut diperoleh dari berbagai indikator, mulai dari estimasi penggunaan kendaraan pribadi, jumlah penumpang kereta api di Stasiun Tugu dan Lempuyangan, hingga pemantauan kendaraan yang memasuki jalur tol utama seperti Gerbang Tol Kalikangkung. 

“Data inilah yang akan digunakan untuk memprediksi kemacetan. Mengingat penyumbang wisatawan terbesar adalah dari Jakarta, kita memprediksi jarak tempuh wajar mengemudi dari Jakarta ke Jogja," terang Kapolda DIY, Brigjen Anggoro Sukartono, usai Rapat Koordinasi Forkopimda terkait kesiapan pengamanan libur Idulfitri yang digelar di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Selasa (10/3). 

Sebagian besar pemudik diperkirakan berasal dari wilayah Jakarta dan sekitarnya. Dengan waktu tempuh perjalanan darat sekitar 6 jam, kepadatan kendaraan diperkirakan mulai meningkat pada beberapa hari menjelang lebaran.

Sementara itu, puncak arus kedatangan pemudik diperkirakan terjadi pada H-5 hingga H-3 Idulfitri. Pihaknya telah mempersiapkan secara matang untuk memberikan kenyamanan dan kelancaran arus balik. Pemerintah pusat sendiri telah mengantisipasi kondisi tersebut melalui kebijakan libur panjang serta penerapan skema Work From Anywhere (WFA) bagi sejumlah sektor pekerjaan.

Selain rekayasa lalu lintas, kepolisian juga menekankan pentingnya penyebaran informasi kepada masyarakat terkait kondisi lalu lintas di wilayah Yogyakarta.

“Ada satu hal penting yang dilakukan oleh Pemda DIY, yaitu masifikasi informasi kepada masyarakat. Ini sangat krusial. Setiap orang yang datang harus tahu tentang kondisi lalu lintas Jogja. Upaya ini dilakukan untuk mencegah bertemunya ketidaktahuan wisatawan dengan kondisi titik-titik rawan di Jogja,” jelas Anggoro.

Koordinasi dengan berbagai platform navigasi digital seperti Google Maps dan Waze juga dilakukan. Hal itu untuk memastikan informasi rute perjalanan yang ditampilkan sesuai dengan pengaturan lalu lintas di lapangan. Langkah ini diharapkan dapat mencegah kendaraan dialihkan ke jalur-jalur kecil yang tidak memiliki pengawasan petugas dan berpotensi menimbulkan kemacetan baru. 

“Dalam perkembangannya, situasi di lapangan bisa berubah setiap hari. Apabila ada jalur yang berpotensi menimbulkan kerawanan lalu tiba-tiba dialihkan oleh sistem Google Maps, hal ini yang harus kita cegah. Kita arahkan masyarakat agar tetap berada pada lajur dan jalur utama yang memang dijaga petugas,” terangnya. 

Ia menekankan pentingnya masyarakat memperoleh informasi yang jelas mengenai estimasi antrean kemacetan di suatu jalur, baik sekitar satu jam, 15 menit, maupun 10 menit. Dengan demikian, para pengguna jalan dapat mengetahui kondisi lalu lintas yang sebenarnya saat melintas di jalur tersebut. (AT/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya