Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Pusat Studi Bencana (PSB) IPB University, Prof Bambang Hero Saharjo, mengungkapkan fakta krusial di balik rentetan bencana hidrometeorologi yang melanda Pulau Sumatra.
Menurutnya, bencana seperti banjir dan tanah longsor tidak terjadi secara tunggal karena faktor alam, melainkan dipicu oleh aktivitas ilegal manusia yang merusak ekosistem.
Dalam acara LRI TALK #3 bertema "Bersama Menjaga Sumatra", Selasa (24/12), Prof Bambang memaparkan hasil pantauan media yang menunjukkan kerusakan masif pada kawasan hutan. Hilangnya vegetasi alami ini membuat lahan menjadi terbuka sehingga tidak ada lagi penahan air saat hujan deras melanda.
"Dari pantauan media terlihat jelas kawasan hutan yang terbuka, tanpa penahan alami. Tutupan pohon hilang, lahan menjadi terbuka, sehingga air hujan langsung mengalir deras ke bawah," ujarnya.
Prof Bambang menegaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem, seperti curah hujan di atas normal, hanyalah pemantik. Dampak fatal yang timbul, mulai dari hilangnya nyawa hingga hancurnya infrastruktur, merupakan konsekuensi dari akumulasi aktivitas manusia, baik yang disengaja maupun akibat kelalaian.
Ia menjelaskan bahwa hilangnya jutaan hektare hutan akibat pembalakan liar telah merusak fungsi hidrologi daerah aliran sungai (DAS).
Degradasi lahan ini menyebabkan pola hujan menjadi tidak teratur dan memicu ketidakkonsistenan musim, yang pada akhirnya meningkatkan risiko bencana.
Selain pembalakan liar, Prof Bambang juga menyoroti pembukaan lahan masif untuk permukiman dan kepentingan ekonomi lainnya. Aktivitas ini tidak hanya merusak fisik lahan, tetapi juga melepaskan cadangan karbon ke atmosfer yang memperparah pemanasan global.
Terkait definisi perusakan hutan, ia mengingatkan bahwa ruang lingkupnya sangat luas. Merujuk pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013, perusakan hutan mencakup penggunaan kawasan tanpa izin atau penggunaan izin yang menyimpang dari tujuan pemberiannya. Pembalakan liar sendiri ditegaskan sebagai pemanfaatan hasil hutan kayu secara tidak sah dan terorganisasi.
Prof Bambang menekankan bahwa para pelaku di balik aktivitas ilegal ini harus menghadapi konsekuensi hukum yang tegas. Bencana yang merugikan banyak keluarga tidak boleh dianggap sebagai kejadian alam biasa yang membebaskan pelaku dari tanggung jawab.
"Ada aktivitas manusia di baliknya, baik yang dilakukan secara sengaja maupun akibat kelalaian. Ketika kondisi ini dipicu oleh hujan di atas normal, terjadilah bencana yang menelan korban jiwa, merusak lingkungan dan infrastruktur, serta menimbulkan penderitaan bagi banyak keluarga," katanya.
Ia menegaskan, pihak-pihak yang berada di balik aktivitas ilegal tersebut tidak bisa berlindung dari tanggung jawab hukum.
"Mereka tetap harus dimintai pertanggungjawaban dan tidak bisa dibiarkan bebas," tegas Prof Bambang. (Z-1)
WARGA korban banjir di kawasan Provinsi Aceh hingga kini masih harus menjalani hari-hari yang berat.
Berdasarkan laporan terbaru yang diterima pada Minggu (1/3), jumlah pengungsi tersebut berasal dari 921 kepala keluarga dan tersebar di dua dari 20 kabupaten/kota terdampak.
DI tengah sawah yang sempat tertimbun lumpur setinggi lutut akibat bencana hidrometeorologi, secercah harapan mulai tumbuh.
AEON menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI sebagai bagian dari upaya mendukung proses pemulihan di Sumatra.
Sekolah tersebut sebelumnya terdampak bencana banjir bandang pada Desember lalu.
Selama lebih dari tiga bulan, untuk sekadar membeli beras, obat-obatan, atau kebutuhan pokok lainnya, warga harus menantang derasnya arus dan licinnya bebatuan sungai.
WARGA korban banjir di kawasan Provinsi Aceh hingga kini masih harus menjalani hari-hari yang berat.
HINGGA hari ke-3 Ramadan, ratusan ribu penyintas banjir Sumatra masih menjalan hari-hari di atas lumpus dan di balik tumpukan kayu gelondongan yang terbawa air bah kala itu.
SUASANA malam di Kecamatan Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, mendadak berubah mencekam.
KETAKUTAN akan datangnya banjir susulan membuat warga Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, memilih membiarkan rumah mereka tetap dipenuhi sisa material banjir.
29 desa dan kampung di Pulau Sumatra dilaporkan hilang akibat bencana banjir bandang dan longsor.
MESKI klaim pemerintah pemulihan pascabanjir Sumatra sudah membaik, sayangnya di lapangan masih seperti pungguk merindukan bulan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved