Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Jalan Putus, Petani Aceh Tengah Jalan 20 Kilometer demi Jual Cabai

Andhika Prasetyo
13/12/2025 07:09
Jalan Putus, Petani Aceh Tengah Jalan 20 Kilometer demi Jual Cabai
Cabai yang dipikul dengan berjalan 20 kilometer.(Antara)

Terputusnya akses jalan akibat banjir bandang dan tanah longsor memaksa petani di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, menempuh cara ekstrem demi mempertahankan roda ekonomi keluarga. Dengan memikul puluhan kilogram cabai rawit, mereka harus berjalan kaki berjam-jam melewati lumpur dan medan rusak untuk menjual hasil panen ke Kota Lhokseumawe.

Salah seorang petani, Riza Alpiandi, menceritakan bahwa jalur kendaraan hanya bisa dilalui hingga Kampung Buntul, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah. Selebihnya, mereka harus berjalan kaki selama sekitar empat jam dengan kondisi jalan berlumpur setinggi lutut.

“Jalan putus total. Dari Buntul kami terpaksa berjalan kaki, tidak ada kendaraan yang bisa lewat,” ujar Riza di Lhokseumawe, Jumat.

Riza bersama ayah, paman, dan iparnya berangkat dari kampung menggunakan sepeda motor hingga Kampung Buntul. Dari titik tersebut, mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 20 kilometer menuju Kampung Kem karena beberapa ruas jalan masih tertutup longsor.

Sesampainya di Kampung Kem, perjalanan dilanjutkan menggunakan ojek menuju Kota Lhokseumawe dengan ongkos Rp50 ribu per orang. Masing-masing petani memanggul cabai seberat 25 hingga 33 kilogram.

“Sepanjang jalan kami saling membantu. Ada juga ojek yang sangat menolong, karena jalurnya benar-benar ekstrem,” katanya.

Langkah berat itu terpaksa ditempuh karena kondisi ekonomi di kampung semakin tertekan. Harga kebutuhan pokok melonjak tajam pascabencana. Harga beras yang sebelumnya sekitar Rp230 ribu per karung kini melonjak menjadi Rp400 ribu hingga Rp500 ribu.

Petani lainnya, Muslim, menambahkan bahwa harga cabai di Aceh Tengah justru jatuh hingga Rp10 ribu per kilogram, jauh di bawah harga di Lhokseumawe yang bisa mencapai Rp40 ribu per kilogram. Selisih harga itulah yang mendorong mereka menjual hasil panen ke luar daerah.

“Cabai kami panen sehari sebelum berangkat supaya tetap segar saat dijual,” ujarnya.

Ia berharap cabai yang dibawa segera laku agar mereka bisa membeli beras dan kebutuhan pokok untuk keluarga di rumah.

Para petani berharap pemerintah segera memperbaiki akses jalan yang rusak akibat longsor dan banjir Aceh, sehingga distribusi hasil pertanian kembali normal dan masyarakat tidak lagi harus mempertaruhkan tenaga serta keselamatan demi bertahan hidup. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik