Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Krisis Pascabanjir, 430 Ribu Warga di Aceh Tengah dan Bener Meriah Terancam Kelaparan

Amiruddin Abdullah Reubee
11/12/2025 22:34
Krisis Pascabanjir, 430 Ribu Warga di Aceh Tengah dan Bener Meriah Terancam Kelaparan
Warga terdampak banjir di Aceh Tengah dan Bener Meriah menembus longsor dan hutan belantara untuk membeli beras dan bahan pokok lainnya.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

PENANGANAN pascabanjir bandang yang meluluhlantakkan Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, kondisi warga seperti semakin karut marut. Dari-hari ke hari kondisi di lapangan penuh masalah dan cukup mengkhawatirkan. 

Penanganan darurat belum selesai, ternyata persoalan lain mulai bermunculan. Kalau pemerintah masih egois dan terlalu politis sehingga tidak meningkatkan status menjadi bencana nasional dan tidak menerima bantuan Internasional, dikhawatirkan warga yang masih bertahan akan berujung kelaparan. 

Sesuai penelusuran Media Indonesia, Kamis (11/12) kelangkaan bahan makanan atau bahan pokok lainnya sudah terjadi di mana-mana. Bukan saja di kawasan banjir pedalaman Aceh, tapi juga daerah perkotaan atau beberapa kabupaten yang hingga dua pekan terakhir masih terkurung dan terisolasi karena akses jalan yang putus. 

Warga korban banjir di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah misalnya, karena sudah dua pekan jalur darat ambles, longsor, dan jembatan putus, mereka terpaksa berjalan kaki menembus hutan pengunungan. Perjalanan menembus longsor dan hutan rimba itu menuju Kampung Kem Kecamatan Permata untuk membeli beras. 

Sebagian mereka menjual beras itu seharga Rp350.000/15 kg. Sebagian orang lagi membawa pulang untuk menyambung hidup keluarga. Tingginya harga karena para pengangkut harus menempuh jalur ekstrem dan menghabiskan waktu berjam-jam. 

"Stok beras di rumah tidak ada lagi. Tidak pilihan lain, kecuali harus beli walau harga mahal," tutur Zam Zam Mubarak, Ketua Kelompok Kerja Reaksi Cepat ICMI Orwil Aceh, Kamis (11/12). 

Dikatakan Zam zam Mubarak, pemandangan ratusan warga menembus hutan rimba naik bukit turun lembah demi sekarung beras itu terjadi tiap waktu di hari-hari kritis darurat banjir. Bahkan karena terlalu lelah sebagian mereka harus beristirahat atau tidur di jalur setapak tersebut. 

Selain ke Kecamatan Permata, sebagian warga di dua kabupaten berjulukan Dataran Tinggi Gayo itu juga menuju Kabupaten Bireuen. Itu juga harus menembus longsor jalur perbukitan dan menyeberangi sungai. Jaraknya juga berkisar 80 hingga 100 km. 

Sesuai dikatakan Zam Zam, jumlah penduduk Kabupaten Aceh Tengah sedikitnya 250 ribu jiwa dan warga Kabupaten Bener Meriah 183 ribu jiwa. Bila tidak segera teratasi transportasi angkutan barang, mereka terancam kelaparan. 

Cara paling efektif adalah memperbaiki kembali jalur Bener Meriah-Aceh Utara dan jalur Bener Meriah-Kabupaten Bireuen. Untuk sementara dalam kondisi darurat boleh dilakukan dengan angkutan udara yakni helikopter. Tapi transportasi permanen lebih efektif jalur darat. 

Pemandangan lainnya yang mewarnai kesulitan warga terdampak banjir di Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues. Sudah 15 hari terjadi puncak banjir bandang pada 26-27 November bulan lalu, tapi mereka masih belum merasakan gemerlap lampu PLN. 

Karena telepon seluler atau sinyal internet terputus, komunikasi sangat sulit. Dari tujuh gampong (desa) di Kecamatan Pining, semuanya terisolasi atau putus hubungan darat dengan Blang Kejeren, Ibu Kota Kabupaten Gayo Lues. 

Meskipun beberapa hari lalu ada bantuan yang disalurkan melalui udara oleh helikopter TNI, hanya bisa mendarat pada satu lokasi lapang luas Desa Uring. Untuk memperoleh bantuan itu warga mengaku harus ke kampung-kampung di balik gunung dimana keluarganya bertempat tiinggal

"Kadang ada di antaranya harus menempuh perjalanan sehari semalam baru sampai. Itu harus melewati perjalanan yang mengkhawatirkan keselamatan. Pasalnya banyak menyeberangi lereng longsor, terbentang badan jalan ambles dan hutan rimba. Jadi tidak banyak yang sanggup dipikul, itupun harus berombongan dan butuh istirahat di tengah jalan," tutur Masykur, guru SMP di Kecamatan Pining. 

Krisis bahan makanan lainnya juga menghantui warga korban banjir di Desa Bale Karang, sebuah lokasi pedalaman Kecamatan Sekrak, Kabupaten Aceh Tamiang. Untuk menuju ke lokasi itu sekarang hanya mengandalkan sampan kayu melalui jalur sungai air pekat berlumpur dengan jarak perjalanan hingga 5 jam. 

Beberapa warga asal Aceh Tamiang yang merantau di Banda Aceh, kemarin nekat menembus Desa Balee Karang melalui jalur sungai. Mereka membawa bantuan bahan pokok dan menyewa sampan mesin seharga Rp1,5 juta. 

"Walaupun harus melalui sungai berisiko tinggi, dengan rasa peduli sesama warga sekampung Insya Allah relawan gerak cepat. Kami berhasil tembus. Ternyata sangat bermanfaat dan warga terharu karena di sana sebelumnya tidak pernah sampai bantuan," tutur Doktor Syaifullah Muhammad, akademisi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh yang juga perantau asal Kabupaten Aceh Tamiang. (MR/E-4) 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik