Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
PENANGANAN pascabanjir bandang yang meluluhlantakkan Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, kondisi warga seperti semakin karut marut. Dari-hari ke hari kondisi di lapangan penuh masalah dan cukup mengkhawatirkan.
Penanganan darurat belum selesai, ternyata persoalan lain mulai bermunculan. Kalau pemerintah masih egois dan terlalu politis sehingga tidak meningkatkan status menjadi bencana nasional dan tidak menerima bantuan Internasional, dikhawatirkan warga yang masih bertahan akan berujung kelaparan.
Sesuai penelusuran Media Indonesia, Kamis (11/12) kelangkaan bahan makanan atau bahan pokok lainnya sudah terjadi di mana-mana. Bukan saja di kawasan banjir pedalaman Aceh, tapi juga daerah perkotaan atau beberapa kabupaten yang hingga dua pekan terakhir masih terkurung dan terisolasi karena akses jalan yang putus.
Warga korban banjir di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah misalnya, karena sudah dua pekan jalur darat ambles, longsor, dan jembatan putus, mereka terpaksa berjalan kaki menembus hutan pengunungan. Perjalanan menembus longsor dan hutan rimba itu menuju Kampung Kem Kecamatan Permata untuk membeli beras.
Sebagian mereka menjual beras itu seharga Rp350.000/15 kg. Sebagian orang lagi membawa pulang untuk menyambung hidup keluarga. Tingginya harga karena para pengangkut harus menempuh jalur ekstrem dan menghabiskan waktu berjam-jam.
"Stok beras di rumah tidak ada lagi. Tidak pilihan lain, kecuali harus beli walau harga mahal," tutur Zam Zam Mubarak, Ketua Kelompok Kerja Reaksi Cepat ICMI Orwil Aceh, Kamis (11/12).
Dikatakan Zam zam Mubarak, pemandangan ratusan warga menembus hutan rimba naik bukit turun lembah demi sekarung beras itu terjadi tiap waktu di hari-hari kritis darurat banjir. Bahkan karena terlalu lelah sebagian mereka harus beristirahat atau tidur di jalur setapak tersebut.
Selain ke Kecamatan Permata, sebagian warga di dua kabupaten berjulukan Dataran Tinggi Gayo itu juga menuju Kabupaten Bireuen. Itu juga harus menembus longsor jalur perbukitan dan menyeberangi sungai. Jaraknya juga berkisar 80 hingga 100 km.
Sesuai dikatakan Zam Zam, jumlah penduduk Kabupaten Aceh Tengah sedikitnya 250 ribu jiwa dan warga Kabupaten Bener Meriah 183 ribu jiwa. Bila tidak segera teratasi transportasi angkutan barang, mereka terancam kelaparan.
Cara paling efektif adalah memperbaiki kembali jalur Bener Meriah-Aceh Utara dan jalur Bener Meriah-Kabupaten Bireuen. Untuk sementara dalam kondisi darurat boleh dilakukan dengan angkutan udara yakni helikopter. Tapi transportasi permanen lebih efektif jalur darat.
Pemandangan lainnya yang mewarnai kesulitan warga terdampak banjir di Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues. Sudah 15 hari terjadi puncak banjir bandang pada 26-27 November bulan lalu, tapi mereka masih belum merasakan gemerlap lampu PLN.
Karena telepon seluler atau sinyal internet terputus, komunikasi sangat sulit. Dari tujuh gampong (desa) di Kecamatan Pining, semuanya terisolasi atau putus hubungan darat dengan Blang Kejeren, Ibu Kota Kabupaten Gayo Lues.
Meskipun beberapa hari lalu ada bantuan yang disalurkan melalui udara oleh helikopter TNI, hanya bisa mendarat pada satu lokasi lapang luas Desa Uring. Untuk memperoleh bantuan itu warga mengaku harus ke kampung-kampung di balik gunung dimana keluarganya bertempat tiinggal
"Kadang ada di antaranya harus menempuh perjalanan sehari semalam baru sampai. Itu harus melewati perjalanan yang mengkhawatirkan keselamatan. Pasalnya banyak menyeberangi lereng longsor, terbentang badan jalan ambles dan hutan rimba. Jadi tidak banyak yang sanggup dipikul, itupun harus berombongan dan butuh istirahat di tengah jalan," tutur Masykur, guru SMP di Kecamatan Pining.
Krisis bahan makanan lainnya juga menghantui warga korban banjir di Desa Bale Karang, sebuah lokasi pedalaman Kecamatan Sekrak, Kabupaten Aceh Tamiang. Untuk menuju ke lokasi itu sekarang hanya mengandalkan sampan kayu melalui jalur sungai air pekat berlumpur dengan jarak perjalanan hingga 5 jam.
Beberapa warga asal Aceh Tamiang yang merantau di Banda Aceh, kemarin nekat menembus Desa Balee Karang melalui jalur sungai. Mereka membawa bantuan bahan pokok dan menyewa sampan mesin seharga Rp1,5 juta.
"Walaupun harus melalui sungai berisiko tinggi, dengan rasa peduli sesama warga sekampung Insya Allah relawan gerak cepat. Kami berhasil tembus. Ternyata sangat bermanfaat dan warga terharu karena di sana sebelumnya tidak pernah sampai bantuan," tutur Doktor Syaifullah Muhammad, akademisi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh yang juga perantau asal Kabupaten Aceh Tamiang. (MR/E-4)
Gerakan ini merupakan sinergi lintas sektor yang melibatkan musisi lintas generasi, komunitas, serta dukungan penuh dari pemerintah dan sektor swasta.
Adapun temanya adalah Integrasi Pendekatan One Health dalam Pemulihan Sosial, Pangan, dan Kesehatan Masyarakat Rentan Pascabencana Banjir di Aceh.
DUA bulan pascabencana hidrometeorologi yang terjadi pada 27 November 2025, sebanyak 40 warga di Sumatra Utara masih dinyatakan hilang.
LAILATUL BARA'AH atau yang akrab disebut Malam Nisfu Syakban di Provinsi Aceh dirayakan dengan penuh khidmat.
BNPB juga menyalurkan bantuan dana tunggu hunian bagi warga yang memilih tinggal sementara di rumah keluarga atau sanak saudara. Bantuan tersebut sebesar Rp600 ribu per bulan.
KONDISI ekonomi korban banjir besar di Aceh benar-benar mengkhawatirkan.
“Pemilihan lokasi pemasangan EWS didasarkan pada kejadian banjir susulan akhir tahun 2025 di Desa Lampahan Timur,”
Tim dokter FKUI dan relawan UI Peduli memberikan dukungan psikososial dan layanan medis bagi penyintas banjir dan longsor di Samar Kilang, Aceh.
WARGA dua wilayah di Tanah Gayo, yaitu Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah seperti pasrah dengan keadaan.
Akses jalan di Bener Meriah Masih Terputus Akibat Banjir
15 ton cabai dikirim langsung ke Jakarta menggunakan pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara dari Bandara Rembele menuju Bandara Halim Perdanakusuma.
PRESIDEN Prabowo Subianto menegaskan pemerintah bekerja keras menangani dampak bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved