Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Puluhan Hektare Sawah Siap Panen di Bireuen Tertimbun Lumpur hingga Kayu Gelondongan

Amiruddin Abdullah Reubee
09/12/2025 13:10
Puluhan Hektare Sawah Siap Panen di Bireuen Tertimbun Lumpur hingga Kayu Gelondongan
Lahan sawah yang terendam banjir di Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

BANJIR bandang yang meluluhlantakkan kawasan Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, bukan saja menewaskan ribuan anak manusia. Tapi bencana dahsyat itu juga menghacur jutaan infrastruktur, lahan pertanian, perikanan, dan banyak lainnya. 

Sesuai penelusuran Media Indonesia, ribuan hektare lahan sawah dan tambak warga di kawasan Provinsi Aceh rusak diterjang arus banjir bak tsunami. Bahkan radius kerusakan banjirnya lebih luas dan terbentang masuk ke pedalaman Aceh. 

Di Desa Cot Ara, Kecamatan Kita Blang, Kabupaten Bireuen, misalnya, sekitar 50 hektare (ha) lahan sawah milik warga yang hanya menunggu waktu panen rusak tertimbun lumpur bercampur pasir Sungai Krueng Peusangan dan sampah kayu gelondongan. Padahal hamparan tanaman padi yang terbentang luas itu sudah menguning dan hanya tinggal memanen beberapa hari lagi. 

Lebih parah lagi lahan sawah sudah seperti lautan lumpur berpasir bercampur sampah kayu yang diduga bekas penebanga liat itu hingga tidak tampak lagi pematangnya. Sangat sulit membedakan antara satu petak dengan petak lainnya. 

"Semua rata seperti danau lumpur bercampur pasir. Sudah tertimbun semua padi yang sudah menguning, keuali berganti dengan sampah potongan kayu rimba. Lenyap sudah harapan hasil panen padi melimpah ruah," tutur M Kasem, tokoh masyarakat Kita Blang, Selasa (9/12). 

Dikatakan M Kasem, bukan saja sawah siap panen yang rusak parah. Puluhan hektare tambak udang, ikan bandeng, dan lainnya juga ikut musnah. Semua lahan budi daya ikan di pesisir pantai Selat Malaka itu berantakan dan tertimbun sendemen sampah banjir. 

Kerusakan parah terhadap fasilitas bercocok tanam dan tempat budi daya ikan itu menjadi pukulan berat bagi warga di provinsi paling ujung barat Indonesia itu. Tidak hanya di Kabupaten Bireuen, tapi juga terjadi di sekitar 16 kabupaten/kota terdampak banjir di Aceh. 

Ini bukan hanya merugikan para pemilik lahan, melainkan berimbas lebih jauh terhadap ketersediaan bahan pangan di Aceh hingga tingkat nasional. Bahkan bermuara terhadap perekonomian di Sumatra berpotensi  terganggu swasembada pangan nasional. 

Apa yang terjadi di Bireuen itujuga banyak terjadi di lokasi banjir lainnya seperti di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang. Lalu kerusakan lahan perkebunan sayur, kopi, dan kawasan hasil bumi lainnya Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara hingga kawasan barat selatan Provinsi Aceh.

"Ini hanya bagian kecil yang terjadi di Aceh. Tapi ini tak ubah seperti puncak gunung es yang terlihat di tengah lautan samudra. Hanya sebagian kecil baru tampak terlihat menjulang ke atas. Itu lebih besar lagi kalau yang terjadi di tiga provinsi banjir itu," kata M Adli Abdullah, budayawan Aceh yang juga dosen Universitas Syiah Kuala. (MR/E-4) 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik