Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH hari-hari kemarin timbul tenggelam dalam air bah dan berjuang bangkit dari sendimen lumpur atau terperangkap dalam sampah banjir. Kini warga di Provinsi Aceh berhadapan dengan kondisi harga barang melambung serta disusul roda perekonomian sangat melelahkan.
Mengapa tidak, harga berbagai bahan pokok dan barang kebutuhan lainnya sudah dua hari terakhir tidak bersahabat dengan korban banjir.Tidak diketahui jelas apakah itu karena krisis pasokan atau permainan oleh pelaku pasar.
Di Kota Banda Aceh, Ibu kota Provinsi Aceh misalnya, harga cabai merah berkisar Rp290 ribu hingga Rp300 ribu/kg. Padahal sebelumnya hanya berkisar Rp70 ribu hingga Rp90 ribu itu. Harga Rp70 ribu itu pun sudah termasuk tinggi dibanding harga normal biasanya Rp50 ribu/kg.
Lalu harga cabai hijau juga melangit berkisar Rp150 ribu hingga Rp170 ribu/kg. Itu sebelum bencana banjir hanya berkisar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu/kg.
Lalu harga tomat juga menghindari korban banjir yakni dari sebelumnya Rp10 ribu/kg, kini meloncat pada posisi Rp50 ribu/kg. Hal yang sama juga disusul oleh cabai rawit, dari harga berkisar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu, sudah dua hari terakhir juga semakin tidak bersahabat yakni mencapai Rp200 ribu/kg.
"Ini harga saat saya belanja di Pasar Bathoh, Kota Banda Aceh tadi pagi," tutur Ferizal Hasan, dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, kepada Media Indonesia, Sabtu (29/11).
Dosen Hukum dari Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh, Teuku Muttaqin Mansur mengharapkan kepada pengusaha, toke dan penjual agar tidak menjual barang dengan mengambil keuntungan lebih besar. Hendaknya para pelaku pasar itu tetap menjaga kestabilan harga di tengah kondisi sedang ditimpa bencana sekarang.
"Awasi pengusaha/penjual hitam yang mengeruk keuntungan lebih di tengah darurat melanda," tutur Muttaqin yang juga banyak rumah keluarga dekatnya diterjang banjir di Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. (H-1)
Memasuki minggu ketiga Januari 2026, seluruh komoditas cabai di Kota Padang Panjang tercatat mengalami penurunan harga.
Harga telur ayam semula Rp 31.500 menjadi Rp29 ribu, normalnya Rp 26 ribu perkg, bawang merah Rp 43 ribu, bawang putih Rp40 ribu, cabai rawit merah Rp 54 ribu, cabai keriting Rp 62 ribu.
Harga rata-rata cabai rawit merah kini berada di level Rp53.900 per kilogram, turun jauh dibandingkan periode Natal dan Tahun Baru
Harga cabai rawit yang sempat membubung hingga Rp75.000 per kg, sekarang Rp38.000 per kg. Pun, cabai besar merah harga jual di pedagang Rp40.000 per kg.
Harga komoditas cabai merah keriting di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, mulai mengalami penurunan dari Rp80 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogram.
Komoditas cabai rawit merah di Jakarta Selatan berada pada harga Rp81 ribu/kg, dan cabai merah keriting Rp58 ribu/kg.
Suplai daging sapi di dalam negeri saat ini masih didominasi dari sapi lokal. Sapi lokal disebut memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia antara 40% hingga 70%.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Pasar Kanggraksan, Kota Cirebon, harga cabai rawit merah kini sudah mencapai Rp100 ribu per kilogram dari sebelumnya hanya Rp60 ribu per kilogram.
Harga cabai rawit naik hampir 100 persen dari sebelumnya Rp57 ribu per kilogram (kg) naik menjadi Rp85 ribu per kg.
Harga cabai rawit saat ini berada di kisaran Rp90.000 per kilogram. Beberapa hari sebelumnya, pedagang sempat menjual cabai rawit dengan harga Rp100.000 per kilogram.
Selain daging ayam, harga cabai merah dan daging sapi di Kota Medan juga tercatat mengalami kenaikan pada awal Februari.
Kebutuhan pokok masyarakat yang dijual seperti beras, terigu, gula pasir, telor, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, mi instan dan kebutuhan pokok lainnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved