Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Bantuan tak Datang, Warga Terpaksa Terobos Banjir di Deli Serdang

Golda Eksa
29/11/2025 09:48
Bantuan tak Datang, Warga Terpaksa Terobos Banjir di Deli Serdang
Sejumlah mobil terendam banjir di Jalan Medan-Binjai KM 10, Desa Lalang, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara .(Tangkapan layar)

"SEPERTI ini kondisi kami sekarang, gelap gulita, di luar kami dikepung air," ucap Putri Simanjuntak, warga Kota Medan, Sumatra Utara, melalui video yang dikirim grup percakapan keluarga pada pukul 20.00 WIB, Kamis (27/11).

Putri bersama sang suami, Kidyon Sitinjak, menyebut ada sekitar 23 orang lain, termasuk satu balita, yang berharap dapat segera dievakuasi oleh pertugas SAR maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. 

Namun, hingga tengah malam, harapan itu sirna. Tidak ada petugas dengan perahu karet maupun bantuan logistik yang mampir meski telah coba menghubungi otoritas terkait, termasuk meminta bantuan rekan dan kerabat yang tidak terdampak bencana. 

Alhasil, seluruh korban yang sejak pagi berlindung di lantai dua ruko tua, tepat di seberang Asrama Abdul Hamid di Jalan Medan-Binjai KM 10, Desa Lalang, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, harus menahan lapar dan bahkan tanpa penerangan lantaran listrik sudah diputus PLN.

Putri dan Kidyon merupakan pedagang sayuran yang saban hari beraktivitas di Pasar Binjai. Pasangan suami istri (pasutri) ini berada di ruko itu karena terjebak banjir. Puluhan korban lain juga bukan warga setempat, mereka adalah pengendara yang kebetulan melintas di sana. 

"Kata orang karena Bendungan Tirtanadi Sunggal jebol, makanya air cepat naik dan merendam rumah-rumah dan mobil. Kebetulan juga dari pagi hujan terus, tapi tidak pernah seperti ini," ujar Putri.

Setelah belasan jam menahan lapar dan dingin, dan kebetulan air juga berangsur surut, Kidyon dan Putri memutuskan untuk menerobos banjir sekitar pukul 02.00 WIB, Jumat (28/11). 

Keduanya lalu bergegas menuju pasar untuk kembali berjualan menggunakan mobil yang terendam banjir. "Untung saja knalpot mobil sudah ditutup plastik jadi mesin masih bisa menyala. Harus berjualan karena sebagian sayuran kami sudah membusuk," pungkasnya. 

TANGGAP DARURAT
Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Bobby Afif Nasution menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari ke depan menyusul kejadian banjir, tanah longsor, dan gempa bumi di wilayah Sumut.

Status ini dituangkan dalam Surat Keputusan Gubernur Sumut Nomor 188.44/836/KPTS/2025 tentang Penetapan Status Tanggap Darurat Bencana selama 14 hari terhitung pada 27 November hingga 10 Desember 2025.

"Hal ini dilakukan karena melihat sebagian besar wilayah di Sumut mengalami banjir dan longsor," ucap Kepala Dinas Kominfo Provinsi Sumut Erwin Hotmansah Harahap di Medan, Sumatera Utara, Jumat (28/11).

Erwin menjelaskan, surat keputusan (SK) ini menugaskan instansi/perangkat daerah terkait segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan menangani banjir, tanah longsor, dan gempa bumi.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sumut di Medan, Sumut, Kamis (27/11), menyatakan, 13 kabupaten/kota di Sumatera Utara mengalami bencana alam, yakni Langkat, Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Mandailing Natal.

Kemudian, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Padangsidempuan, Pakpak Bharat, Nias Selatan, Humbang Hasundutan, Binjai, Medan, dan Deli Serdang. 

"Melalui SK Gubernur ini diharapkan seluruh instansi/perangkat daerah mengambil langkah yang dibutuhkan untuk menanggulangi bencana alam yang terjadi. Mengurangi dampaknya, menolong saudara-saudara kita yang terdampak, dan juga mencegah bertambahnya korban jiwa," tutur Erwin.

Hingga 27 November 2025, jelas Erwin, bencana hidrometeorologi di wilayah Sumatera Utara tercatat telah memakan sebanyak 48 korban jiwa dan 88 warga dinyatakan hilang.

Korban terbanyak di Tapanuli Selatan 17 orang, Tapanuli Utara 9 orang, Tapanuli Tengah 4 orang, Pakpak Bharat 2 orang, Nias Selatan 1 orang, Sibolga 8 orang, dan Padangsidempuan 1 orang.

Selain itu, terdapat 81 warga mengalami luka-luka dan 1.168 warga harus mengungsi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana juga mencatat 4 orang dilaporkan meninggal dunia di Humbang Hasundutan. "Kita turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga korban yang tewas, dan hingga kini masih dalam pencarian," ujar Erwin.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut bersama pemerintah pusat serta TNI/Polri terus berupaya melakukan pencarian semaksimal mungkin. "Kami imbau masyarakat tetap waspada, berhati-hati dan meninggalkan lokasi-lokasi rawan longsor dan banjir bandang," tandasnya. (Ant/P-2)

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eksa
Berita Lainnya