Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Dapur SPPG di Kupang Hadirkan MBG dengan Standar Ketat

Palce Amalo
27/11/2025 14:08
Dapur SPPG di Kupang Hadirkan MBG dengan Standar Ketat
Ilustrasi(Antara)

Program penyediaan makan bergizi gratis (MBG) melalui Sentra Pemberdayaan dan Pelayanan Gizi (SPPG) Kota Raja di Kuanino, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, terus berjalan dengan standar ketat. Mulai dari pemilihan bahan pangan, teknik pengolahan, hingga distribusi makanan ke sekolah dan posyandu, seluruh proses dilakukan secara terukur. Setiap hari, dapur ini menyiapkan ratusan ompreng berisi makanan lengkap untuk lebih dari 1.500 anak.

Ahli gizi SPPG Kota Raja, Novi Melani Kasaban, menjelaskan bahwa seluruh menu disusun berdasarkan prinsip keragaman dan keseimbangan gizi. Dalam satu ompreng, anak-anak menerima makanan lengkap yang terdiri dari nasi, lauk hewani, lauk nabati, sayuran, dan buah.

Menurut Novi, dapur menerapkan teknik memasak rendah minyak agar makanan lebih sehat. Ikan dan ayam biasanya dimarinasi terlebih dahulu sebelum dibakar atau digoreng dengan minyak minimal. Setelah matang, makanan ditiris kembali untuk mengurangi sisa minyak. Untuk sayuran, proses perebusan dilakukan sebelum ditumis, dan kelebihan minyak atau air dibuang sebelum pemorsian.

“Dalam satu bulan, variasi sayurnya cukup banyak—mulai dari toge, labu siam, buncis, hingga wortel. Wortel cukup sering dipakai karena warnanya menarik dan kandungan gizinya baik,” jelas Novi, Rabu (27/11).

Menu harian disusun bergantian. Pada hari Senin, misalnya, anak-anak mendapat ikan tuna goreng, pakcoy, tumis wortel, tahu goreng, buah semangka, dan nasi. Hari Selasa biasanya ayam goreng dipadukan dengan jagung-wortel, tempe, dan buah pepaya. Rabu hingga Jumat, telur menjadi sumber protein hewani yang diolah menjadi telur goreng, telur rebus bumbu, atau telur mata sapi.

Sebelum memasak, kebutuhan bahan ditentukan melalui gramasi sesuai juknis pusat. Dengan cara ini, dapur mengetahui jumlah ikan, ayam, sayur, hingga telur yang dibutuhkan setiap hari. Untuk beberapa menu, misalnya, dibutuhkan sekitar 113 ekor ayam atau 92 kilogram ikan per hari.

Setiap proses produksi diawali dengan briefing kepada para relawan. Bahan pangan—baik ikan maupun ayam—dipastikan harus dalam keadaan segar. Setelah diolah, makanan didinginkan terlebih dahulu selama dua jam di ruang ber-AC sebelum diporsikan.

Proses pemorsian dimulai pukul 04.00 hingga 06.00 pagi, kemudian makanan didistribusikan ke sekolah dan posyandu pada pukul 07.00.

Mitra SPPG Kota Raja, Mery Salouw, menegaskan bahwa batas waktu konsumsi makanan ditetapkan maksimal 1,5 jam setelah tiba di sekolah. “Ini untuk menjaga keamanan pangan dan mencegah risiko kerusakan makanan,” ujarnya.

Kepala SPPG Kota Raja, Juan Lao, menambahkan bahwa layanan SPPG tidak hanya menyasar sekolah, tetapi juga posyandu. Anak usia balita yang menerima manfaat mencapai sekitar 500 orang, belum termasuk siswa SD hingga SMA.Porsi makanan dibagi menjadi dua kategori, yakni porsi kecil untuk posyandu, PAUD, TK, serta kelas 1–3 SD, dan porsi besar untuk anak kelas 4 SD hingga SMA.

Harga standar ompreng juga berbeda: Rp8.000 untuk porsi kecil dan Rp10.000 untuk porsi besar. Dengan total penerima manfaat mencapai 1.555 anak pada minggu lalu, belanja bahan pangan harian mencapai sekitar Rp13,7 juta, hanya untuk bahan baku segar.

Menurut Juan, tim gizi dan relawan bekerja memastikan setiap ompreng yang dibagikan memenuhi standar gizi pemerintah. Variasi menu, teknik pengolahan, dan ketepatan waktu distribusi menjadi kunci agar kualitas makanan tetap terjaga hingga diterima anak.

Gizi Seimbang untuk Anak

Menu yang disajikan terdiri dari nasi putih, tahu goreng, telur balado, tumis jagung–wortel, dan buah semangka, dengan kombinasi yang dirancang untuk memberikan variasi rasa sekaligus memenuhi kebutuhan gizi seimbang—meliputi karbohidrat, protein, lemak, dan serat. Porsi besar mengandung 253 kilokalori, 20,1 gram protein, 11,4 gram lemak, 66,9 gram karbohidrat, dan 3,4 gram serat, sementara porsi kecil menyediakan 251 kilokalori dengan 24,2 gram protein, 13,4 gram lemak, 84,2 gram karbohidrat, dan 1,5 gram serat. Meski kandungan serat pada porsi kecil lebih rendah, keduanya tetap dirancang untuk memastikan anak mendapatkan asupan energi dan protein yang cukup untuk mendukung aktivitas harian dan pertumbuhan optimal.

Selain itu, dapur MBG menerapkan pengolahan sehat seperti marinasi ikan dan ayam serta perebusan sayuran sebelum ditumis. Semua bahan diperiksa ketat dan ditimbang satu per satu sebelum dimasak. Proses ini melibatkan relawan dan mitra lokal yang turut memperoleh manfaat ekonomi.

Dampak Ekonomi Program MBG

Program Makanan Bergizi Gratis tidak hanya memastikan anak-anak menerima makanan sehat setiap hari, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitar dapur layanan.

Di Kota Kupang, para mitra dan relawan merasakan langsung manfaat ekonomi dari aktivitas dapur MBG. Menurut Mery Salouw, kerja sama antara mitra dan satuan gizi dibangun melalui sistem penyewaan. Mitra menyediakan sarana seperti gedung, peralatan memasak, hingga kendaraan distribusi.

“Seluruh kebutuhan dapur, mulai dari persiapan hingga pengolahan, dikelola bersama dalam pola komunikasi intensif agar kualitas makanan tetap terjaga,” kata Mery.

Program ini juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar. Sebanyak 47 relawan terlibat setiap hari, terdiri dari ibu rumah tangga, anak muda, hingga sarjana. Mereka berperan dalam pengolahan makanan, penimbangan porsi, pengemasan, hingga distribusi. Para relawan menerima honor harian yang membantu menambah pendapatan keluarga.

Dampak ekonomi juga dirasakan oleh petani, nelayan, pedagang tahu–tempe, dan pemasok bahan pangan lain. Dapur MBG menyerap beragam bahan segar setiap hari seperti sayuran, ikan, ayam, tofu, dan bumbu dapur dari pemasok lokal. Semua bahan diperiksa ketat untuk memastikan kualitasnya sesuai standar.

Juan Lao menambahkan bahwa program ini turut menggerakkan ekonomi keluarga berpendapatan rendah. Banyak relawan berasal dari rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan tetap. Para pemasok lokal, termasuk koperasi dan pedagang kecil, juga mengalami peningkatan omzet berkat permintaan tetap dari dapur MBG.

“Dengan melibatkan banyak pihak mulai dari penyedia tempat, relawan, hingga rantai pemasok bahan pangan, program MBG terbukti tidak hanya menyehatkan anak-anak, tetapi juga menghidupkan roda perekonomian komunitas di sekitarnya,” ujar Juan.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik