Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Nutrisi Seimbang, Fondasi Kesehatan Anak

Atalaya Puspa
26/11/2025 17:35
Nutrisi Seimbang, Fondasi Kesehatan Anak
Ahli gizi dan pekerja menyiapkan paket makanan untuk program makan bergizi gratis (MBG).(Dok. Antara)

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pemerintah dinilai menjadi momentum penting untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah. Namun, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Fatimah S. Sigit, mengingatkan bahwa keberhasilan program ini tidak akan optimal tanpa pendidikan gizi yang berjalan beriringan.

“Kalau bisa, manfaatnya berkelanjutan, jangka panjang,” ujarnya.

Ia menekankan, satu porsi makan sehat setiap hari belum cukup jika anak tidak memahami cara makan yang benar di luar jam sekolah.

Menurut Fatimah, Indonesia masih menghadapi tiga masalah gizi sekaligus. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, angka stunting masih berada di kisaran 20 persen atau sekitar satu dari lima anak. “Kita masih punya namanya triple burden of malnutrition,” katanya.

Selain kekurangan gizi, anak-anak juga mengalami masalah overweight dan obesitas, serta kekurangan vitamin dan mineral seperti anemia. “Bisa jadi secara postur anaknya normal, tapi ketika kita lihat zat gizinya, hemoglobinnya rendah,” tutur Fatimah.

Dalam konteks itu, pemahaman tentang nutrisi seimbang menjadi kunci. Ia mencontohkan konsep Isi Piringku yang mengajarkan proporsi ideal setiap kali makan. “Separuhnya harus berisi sayur, seperenamnya lauk protein, dan dua pertiganya karbohidrat,” jelasnya.

Fatimah juga menyinggung kebiasaan makan yang kerap dianggap wajar namun sebenarnya bermasalah. “Makan mi pakai nasi itu enggak boleh, apalagi lauknya kerupuk,” ujarnya. Keduanya sama-sama merupakan sumber karbohidrat dan tidak menyediakan protein yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.

Karena itu, pendidikan gizi di sekolah menjadi elemen penting agar anak mampu menerapkan pola makan seimbang di rumah. “Setiap anak butuh makan minimal tiga kali makan besar diselingi dua kali snack sehat,” kata Fatimah.

Program MBG hanya menutup satu kebutuhan makan besar tersebut, sementara dua makan lainnya terjadi di rumah. Anak perlu dibekali pemahaman agar dapat memilih makanan yang benar.

“Kalau di sekolah sudah makan sehat, tapi pulangnya makan nasi sama kerupuk, kecukupan gizinya selama satu hari penuh tercukupi tidak? Enggak,” ujarnya.

Fatimah menambahkan, pendidikan gizi juga harus menyasar guru dan orang tua. Anak membutuhkan pesan gizi yang disampaikan berulang-ulang dan dicontohkan langsung.

“Pesan-pesannya harus direpetisikan, harus diulang sampai terinternalisasi,” katanya.

Dengan begitu, ketika anak-anak lulus atau tidak lagi menjadi penerima MBG, mereka tetap mampu memilih makanan yang sehat secara mandiri. “Kita tidak mendidik anak-anak sebagai penerima program saja, tetapi menjadi individu-individu yang secara gizi itu mandiri,” ujarnya. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya