Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Hasil Penelitian Tunjukkan MBG Ubah Kebiasaan Makan Anak Lebih Sehat

Heryadi
27/2/2026 19:54
Hasil Penelitian Tunjukkan MBG Ubah Kebiasaan Makan Anak Lebih Sehat
Sejumlah siswa menunjukkan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Ciledug 2, Burangkeng, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.(Antara)

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan selama satu tahun dinilai membawa perubahan positif terhadap kebiasaan makan anak-anak. Hasil penelitian Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) menunjukkan, mayoritas orang tua merasakan adanya perbaikan pola konsumsi anak setelah mengikuti program tersebut.

Direktur RISED, M. Fajar Rachmadi, mengatakan survei yang melibatkan sekitar 1.800 orang tua itu menemukan 80 persen responden menyatakan anak mereka lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi sejak adanya MBG.

“Salah satu temuan dari pertanyaan mendalam kami kepada para orang tua siswa penerima MBG adalah, mereka tahu bahwa orang tualah yang bertanggung jawab memenuhi gizi dan kebutuhan anak mereka. Kehadiran MBG ini justru memberikan rasa tenang kepada keluarga ketika anak-anak mereka di sekolah,” ujar Fajar.

Ia menambahkan, sebanyak 55% orang tua menyebut anak mereka menjadi tidak lagi pilih-pilih makanan setelah mengikuti program MBG. Selain itu, 81 persen orang tua dari keluarga prasejahtera menyatakan mendukung keberlanjutan program tersebut.

“Menariknya lagi, ketika anak-anaknya bisa mendapatkan makanan di sekolah, orang tua juga merasa aman. Rasa aman ini timbul karena para orang tua yang kami survei yakin bahwa anak-anaknya mendapatkan makanan bergizi rutin melalui program MBG,” kata Fajar.

Menurut dia, hasil survei ini memberikan gambaran faktual di lapangan terkait dampak mikro-harian MBG. Selama ini, program tersebut kerap mendapat kritik di media sosial terkait kualitas nutrisi. Namun, hasil penelitian menunjukkan adanya dampak positif terhadap kebiasaan makan anak.

Pendapat serupa disampaikan dr. Andi Khomeini Takdir, Sp.PD-KPsi, dokter spesialis penyakit dalam. Ia menilai pemberian makanan bergizi secara rutin berpotensi membentuk pola makan sehat pada anak karena mereka terbiasa dengan variasi menu.

“Jadi MBG menurut saya adalah program dengan niat yang bagus. Saya bisa memahami niat dari Presiden Prabowo Subianto dalam menginisiasi MBG ini karena saya pikir idenya sangat bagus,” ujar dr. Andi.

Ia menambahkan, persoalan gizi tidak hanya dialami masyarakat berpenghasilan rendah. “Tidak hanya di kelas ekonomi lemah, ada juga orang-orang dengan kelas ekonomi menengah atau bahkan cukup tinggi tetapi kadang-kadang yang dimakan itu bukan makanan sehat,” katanya.

Temuan positif juga dicatat oleh Laboratorium Sosiologi Universitas Indonesia (LabSosio UI). Dalam evaluasinya, sebanyak 66,4 persen murid mengaku lebih bersemangat mengikuti pelajaran setelah adanya MBG. Program ini juga memperoleh skor persepsi 4,30 dalam membantu pemenuhan kebutuhan pangan bergizi, khususnya bagi anak dari kelompok sosial ekonomi rendah.

Kepala SD Negeri 24 Rufei Kota Sorong, Sientje Martentji Ajomi, mengakui adanya perubahan perilaku siswa di sekolah sejak program berjalan. “Anak-anak lebih aktif bertanya dan lebih ceria sepanjang hari,” ujarnya.

Hasil sejumlah penelitian tersebut menunjukkan MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, tetapi juga berpengaruh terhadap kebiasaan makan dan semangat belajar anak di sekolah. (Ant/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya