Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Kota Bandung Perkuat Pemantauan Sampah TPS

Naviandri
15/11/2025 14:14
Kota Bandung Perkuat Pemantauan Sampah TPS
Tumpukan sampah di Kota Bandung siap diangkut ke TPA Sarimukti .(MI/Naviandri-HO/Diskominfo Kota Bandung)

DINAS Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Jawa Barat, terus memperketat pemantauan di berbagai titik pengumpulan sampah. Pengawasan dilakukan di tempat penampungan sementara (TPS), titik sampah liar, hingga kawasan-kawasan besar penghasil sampah.

"Sejumlah fasilitas baru kini mulai menunjukkan dampak positif. Kami sudah mengoperasikan tiga TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu), yakni Nyengseret (30 ton/hari), Tegallega (25 ton/hari), dan Holis II (46 ton/hari). Ketiganya sudah dilengkapi fasilitas pengolahan modern,” ungkap Ketua Tim Pengurangan Sampah DLH Kota Bandung, Syahriani, Jumat (14/11).

Menurut dia, keberadaan TPST baru ini secara signifikan mengurangi beban sampah yang selama ini harus diangkut ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Contohnya, TPST Nyengseret pada bulan pertama sudah mampu mengurangi 16,5 ton sampah per hari yang tadinya dibuang ke TPA. Untuk memastikan sampah terkumpul dan terolah dengan baik, dinas melakukan koordinasi rutin dengan kelurahan, RW dan berbagai stakeholder kawasan.

“Kami pantau pengumpulan, proses pengolahan di lokasi, sampai evaluasinya. Dengan pemantauan yang lebih sistemik, kami optimistis titik-titik sampah yang belum tertangani bisa semakin diminimalisir,” terangnya.

DLH Kota Bandung juga memberi perhatian khusus kepada kawasan yang menghasilkan volume sampah tinggi, seperti pasar tradisional, hotel, hingga pusat perdagangan. Kawasan-kawasan ini memerlukan pola dan fasilitas yang berbeda. Untuk kawasan komersial, wajib ada fasilitas pemilahan, pengumpulan mandiri, serta kerja sama dengan pengelola sampah yang memadai.

"Regulasi di Kota Bandung sudah mengatur kewajiban pemilahan dan penyediaan fasilitas pengelolaan di kawasan tersebut. Bila tidak dipenuhi, pengelola kawasan bisa dikenakan sanksi administratif. Di lapangan, kami melihat pemilahan belum optimal dan operasional akhir masih belum sesuai standar."

Syahriani menegaskan, dalam upaya memperbaiki pengelolaan sampah kota, pihaknya menjalankan peran sebagai pembina sekaligus pengawas, kemudian memberikan bimbingan teknis, misalnya cara memilah sampah yang benar, dan menyiapkan insentif atau model kolaborasi bagi kawasan yang ingin maju. Untuk limbah khusus dan B3, mesti dipastikan semuanya dikelola sesuai aturan.

"Kami berharap agar seluruh kawasan berpengelola dapat berkontribusi pada visi besar Kota Bandung. Kalau semua kawasan tertib, memilah dan mengelola sampahnya sendiri, maka Bandung bisa punya sistem pengelolaan sampah yang lebih mandiri dan terintegrasi,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Bandung, Erwin mengatakan tantangan utama dalam pengelolaan samapah adalah bagaimana mengubah paradigma dari ‘sampah itu dibuang saja’ menjadi ‘sampah diolah sejak awal’. Mulai dari rumah tangga, kawasan, sampai titik pengumpulan, semuanya harus berubah mindset.

"Selain perubahan perilaku, saya juga  menyoroti keterbatasan lahan dan infrastruktur pengolahan sampah. Karena itu, pengelolaan harus dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya. Pemerintah, masyarakat, dan mitra swasta harus bekerja sama lebih kuat,” terangnya.

Kota Bandung kata Erwin, harus bergerak menuju pengelolaan sampah yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Bukan hanya angkut dan buang, tapi olah dan manfaatkan potensi sampah itu sendiri. Pemkot juga kini terus memperkuat pengembangan TPST di beberapa kawasan Kota Bandung. Salah satunya, TPST Tegallega dikembangkan untuk mengolah sekitar 25 ton sampah per hari menjadi RDF (refuse derived fuel) yang digunakan industri semen. (AN/P-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eksa
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik