Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
FAKTOR geologi yakni penurunan permukaan tanah dan perubahan iklim global menjadikan banjir air laut pasang (rob) Pantura Jawa Tengah terutama di di Kabupaten Demak dan Kota Semarang sulit diatasi dan tidak kunjung surut.
Pemantauan Media Indonesia Selasa (3/6) banjir rob masih merendam sejumlah daerah di Pantura Jawa Tengah, hingga kini belum ada tanda-tanda surut bahkan semakin meninggi dan meluas membuat terganggunya aktivitas warga di kawasan pesisir hingga radius tujuh kilometer dari bibir pantai.
Meskipun berbagai upaya telah dilakukan seperti penanaman mangrove namun sejauh ini belum mampu mengatasi banjir rob, satu upaya lain yang dilakukan yakni penanggulan laut yang ini juga masih dalam proses dan diperkirakan baru rampung pada tahun 2027 mendatang dengan selesainya ruas tol sesi 1 Semarang-Demak.
Prakiraan BMKG Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang Wahyu Sri Mulyani mengatakan air laut pasang (rob) di perairan utara Jawa Tengah masih akan berlangsung Selasa (3/6) dengan ketinggian 1,1 meter pada pukul 12.00-17.00 WIB, sehingga diminta warga di sejumlah daerah di Pantura untuk kembali siaga banjir rob.
Banjir rob merendam sejumlah daerah di Pantura Jawa Tengah tersebut, menurut Wahyu Sri Mulyani, dapat berdampak terganggunya aktivitas warga seperti transportasi, bongkar muat barang di pelabuhan, budidaya perikanan darat dan petani garam.
"Salah satu penyebab utama banjir rob adalah kondisi geologi tanah di wilayah tersebut yang masih berupa aluvial muda dan dominan lempung, sehingga air pasang sulit meresap ke dalam tanah," kata Kepala Seksi Geologi, Mineral, dan Batubara Cabang Dinas ESDM Semarang–Demak Agus Azis.
Sifat tanah yang belum padat serta pembebanan dari aktivitas pembangunan, ungkap Agus Azis, seperti industri, permukiman, hingga infrastruktur di pesisir menjadi kombinasi yang mempercepat penurunan permukaan tanah 1 hingga 2,8 centimeter per tahun, termasuk faktor pengambilan air tanah.
Faktor tersebut sebenarnya tidak terlalu signifikan terhadap penurunan permukaan tanah, ungkap Agus Azis, tetapi yang lebih dominan adalah konsolidasi batuan yang belum padat. "Faktor lainnya adalah perubahan iklim global yakni mencairnya es di Kutub Utara dan Selatan mempengaruhi terjadinya banjir rob," imbuhnya.
Menghadapi kondisi ini, demikian Agus Azis, adalah penataan kawasan pesisir secara terpadu yang tidak hanya mengandalkan pemerintah daerah saja, tetapi juga kementerian terkait l, sektor swasta dan masyarakat yang sajah satu proyek strategis nasional yang dinilai bisa membantu adalah pembangunan Tol Semarang–Demak.
"Menghadapi banjir rob masyarakat cenderung memiliki meninggikan rumah dengan tanah urug, padahal cara tersebut selain mahal juga tidak berkelanjutan, demikian normalisasi bukanlah solusi jangka panjang," tambahnya. (H-2)
BRIN mengungkap krisis kemanusiaan yang mendalam di pesisir utara Pulau Jawa akibat kombinasi kenaikan permukaan air laut.
PENURUNAN permukaan tanah dan kenaikan permukaan laut menyebabkan migrasi besar-besaran para nelayan dari Pantura, khususnya daerah Indramayu, Cirebon, dan Tegal ke Jakarta.
Analisis global terhadap 31.000 spesies pohon mengungkap tren mengkhawatirkan: spesies pohon yang tumbuh lambat mulai punah, digantikan pohon cepat tumbuh yang rapuh.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Meski perubahan iklim mengancam es laut, beruang kutub di Svalbard justru ditemukan lebih sehat dan gemuk. Apa rahasianya?
Di tengah krisis iklim yang kian nyata, arah kebijakan negara disebut belum beranjak dari pendekatan lama yang justru memperparah kerusakan lingkungan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved