Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
AWAL musim kemarau, Pemkab Lamongan, Jatim, mewaspadai potensi krisis air bersih di wilayahnya. Meski demikian hingga saat ini belum ada wilayah yang mengajukan dropping air. Hal ini karena debit air waduk maupun embung di kawasan setempat masih menyisakan debit air.
"Iya betul. Kita sudah memasuki waspada kekeringan," kata Juru Bicara Pemkab Lamongan, Sugeng Widodo, Rabu (29/5) siang.
Menurut dia, untuk memastikan dampak potensi kekeringan Pemkab Lamongan melalui BPBD setempat telah melakukan pemantauan dan koordinasi dengan sejumlah kawasan yang tiap tahun mengalami krisis air bersih.
Baca juga : BPBD Gunungkidul telah Salurkan 22 Juta Liter Air Bersih
Hal ini dilakukan agar dampak kekeringan bisa segera teratasi dengan pengiriman air bersih.
"Tapi sejauh ini belum ada kawasan yang terdampak kekeringan, " tandasnya.
Ia mengungkapkan saat ini, debit sejumlah waduk besar maupun rawa dan embung masih memiliki debit air. Dengan demikian, warga bisa memanfaatkan air pada waduk, rawa maupun embung yang masih ada airnya untuk keperluan sehari-hari.
Baca juga : Waduk Jatiluhur Berada di Level Kritis, Air Susut Sampai 14 Meter
Seperti diketahui, ada sedikitnya 167 desa yang tersebar di 13 kecamatan berpotensi mengalami krisis air bersih. Tahun lalu misalnya, dampak El-Nino mengakibatkan belasan kecamatan tersebut mengalah krisis air bersih.
Di antaranya, kecamatan yang berada di wilayah selatan dan tengah di Kabupaten Lamongan. Antara lain, Kecamatan Mantub, Sugio, Sambeng, Tikung, Kembang bahu, Kedungpring, Deket, Modo, Ngimbang, Biluluk dan Lamongan.
Bahkan, dampak kekeringan yangterjadi pada tahun lalu memaksa Pemkab Lamongan mengumumkan status darurat kekeringan. Ini karena sejumlah wilayah tersebut mengalami krisis air bersih dalam kategori kering kritis dan langka. (YK/Z-7)
MASYARAKAT wilayah Cirebon, yang meliputi Kota dan Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Indramayu dilanda suhu panas beberapa hari terakhir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca untuk Rabu, 8 Oktober 2025. Pekan pertama Oktober, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki masa peralihan.
KEMARAU panjang semakin berlanjut menyelimuti kawasan Provinsi Aceh.
Masyarakat NTT diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi angin kencang yang bersifat kering. Angin kencang ini berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan.
"Jadi saat wilayah yang mudah terbakar meluas, kami mohon bantuan, dukungan yang berada di Provinsi Riau benar-benar menjaga jangan sampai lahan itu terbakar,"
MUSIM kemarau menyebabkan krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Krisis air bersih terjadi di Desa Lebaksiu Kidul, Kecamatan Lebaksiu, yang terdampak
Kecamatan Pauh dan Kuranji mengalami krisis air bersih akibat sumur mengering serta kerusakan bendungan dan irigasi pascabencana November 2025.
Berdasarkan penelusuran Media Indonesia, Sabtu (17/1) di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh misalnya, ratusan ribu penyintas banjir masih krisis kebutuhan dasar.
Program ini ditujukan untuk membantu masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih di Sumut, Sumbar, Riau, Lampung, Jateng, Jatim, Kalsel dan Sulsel.
Ratusan pengungsi banjir di Aceh Tamiang mendesak bantuan air bersih dan MCK. PDAM rusak fatal, kondisi tenda pengungsian memprihatinkan.
Menurut anggota tim pengabdian Dr Imam Muslem, kegiatan tersebut dilakukan secara adaptif mengikuti dinamika pasca bencana.
BANJIR bandang dan tanah longsor yang puncaknya terjadi pada 26-27 November lalu sedikitnya telah meluluhlantakkan 52 kabupaten/kota di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved