Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMARAU panjang, mengakibatkan air di waduk Juanda Jatiluhur Purwakarta,Jawa Barat, terus mengalami penyusutan hingga berada di level kritis.
Tidak adanya pasokan air hujan akibat kemarau panjang, mengakibatkan susutnya sebagian permukaan waduk Jatiluhur terutama di area tanggul ubrug Desa Binong, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.
Sebagian waduk yang kekeringan dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam khususnya tanaman palawija. "Mumpung airnya surut ya dimanfaakan aja untuk tanaman palawija," kata Cece salah seorang warga sekitar waduk, Rabu (4/10).
Baca juga : Makam Kuno Muncul dari Waduk Gajah Mungkur
Sementara, pengelola waduk Jatiluhur telah menetapkan batas kritis pengelolaan air, di musim kemarau tahun ini di angka 94,44 meter, di atas permukaan laut, atau 94,44 mdpl.
Berdasarkan data hidrologi dari pihak pengelola waduk Jatiluhur, tinggi muka air saat ini telah berada di level benar benar kritis, di angka 93 koma 77 mdpl. Hal ini tentunya sudah turun sangat jauh, sekira 14 meter dari batas elevasi normal maksimal, yakni 107 m-d-p-l.
Baca juga : Separuh Danau dan Waduk Mengering, Miliaran Orang di Dunia Terancam Krisis Air
Pihak pengelola waduk mengatakan, untuk mengatasi kondisi waduk yang mulai kritis, salah satunya dengan teknologi modifikasi cuaca, atau pembuatan hujan buatan. Namun, kapan modifikasi cuaca dilakukan, belum diketahui pasti.

Pemandangan waduk Jatiluhur terkini. (MI/Reza Sunarya)
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengimbau pemerintah daerah untuk mengantisipasi debit air karena berkurangnya awan hujan selama el nino berlangsung.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, setiap wilayah memiliki karakteristik berbeda jika terdampak fenomena El Nino.
Ketika fenomena tersebut terjadi di lahan gambut, akan terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhurtla). Di beberapa daerah, berkurangnya awan hujan juga menyebabkan kekurangan air bersih.
Penurunan muka air, kata BNPB, terjadi di sejumlah waduk. Bukan hanya waduk Jatiluhur di Jawa Barat, tetapi juga di waduk Gajah Mungkur di Jawa Tengah.
Kemudian, bendungan Katulampa di Jawa Barat terdapat penurunan muka air secara signifikan, artinya sumber mata air di awal titik nol Ciliwung, Citarum sudah turun.
Pada bulan April—Mei, kata dia, telah dilakukan upaya teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk meningkatkan debit air di waduk dan bendung. Namun, hal itu belum cukup untuk pemakaian 2—3 bulan ke depan.
"Jadi, memang kita harus berhemat dalam menggunakan air bersih, dan tentu saja untuk pemerintah daerah yang memerlukan dukungan perangkat atau alat perangkat untuk distribusi air bersih seperti mobil dan lain-lain. BNPB tentu saja, kalau daerah membutuhkan me-request (meminta) dengan status siaga darurat atau tanggap darurat kekeringan, kami akan dukung," kata Abdul.
Dikatakan pula bahwa fenomena El Nino akan diprediksi bertahan hingga Oktober. Sementara itu, TMC hanya bisa dilakukan jika ada pergerakan awan ke wilayah-wilayah target untuk digarami.
Jika tidak ada awan-awan, menurut dia, hanya bisa berharap kedatangan fenomena regional seperti Madden-Julian Oscillation (MJO). (Ant/Z-4)
Studi terbaru mengungkap rangkaian kekeringan panjang berperan besar dalam kemunduran Peradaban Lembah Indus, memicu penyusutan kota dan pergeseran permukiman secara bertahap.
Kebutuhan untuk penanganan kekeringan dari tahun ke tahun terus bertambah sehingga perlu dicari upaya lain seperti mencari sumber air baru.
Gelombang panas, terutama pada siang hari, mempercepat penguapan air dari daun dan tanah, menurunkan ambang kekeringan.
BEBERAPA desa di kawasan lereng Gunung Merapi, di Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kini mengalami kekeringan
Pemantauan Media Indonesia, Kamis (31/7) hujan masih turun di sejumlah daerah di Jawa Tengah terutama di kawasan pegunungan dan dataran tinggi, namun dengan intensitas yang menurun.
Mundurnya musim tanam disebabkan adanya revitalisasi atau perbaikan saluran irigasi baik air yang mengalir melalui Saluran Induk Cipelang dan Saluran Induk Sindupraja.
Di Indonesia, bencana jenis ini menyumbang lebih dari 90% dari total kejadian bencana setiap tahunnya.
Studi terbaru mengungkap fenomena sinkronisasi krisis air global akibat siklus El Niño-La Niña. Bagaimana dampaknya terhadap ketersediaan pangan dunia?
BMKG mengungkap secara spesifik, La Nina lemah masih akan bertahan di Indonesia pada periode Januari-Februari-Maret.
Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan fenomena La Nina diprediksi akan terus terjadi hingga Maret 2026.
Pantau Gambut mengatakan kondisi 2025 masih menunjukkan pola rawan karhutla, terutama di tengah puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober.
FENOMENA alam El Nino yang sedang menyelimuti wilayah Provinsi Aceh sudah berlangsung sekitar tiga bulan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved