Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mempersiapkan 2.000 lulusan SMA dan SMK untuk mengikuti program vokasi atau belajar sambil bekerja di Jerman. Program yang digagas Gubernur NTT Viktor Laiskodat bersama Ketua Dekranasda NTT Julie Laiskodat itu mengandeng Bank Pembangunan Daerah (BPD) NTT.
Program tersebut bekerja sama dengan Global Catalyst di Jerman yang memulai perekturan pada Juni 2022 untuk mengkuti kursus Bahasa Jerman selama enam bulan sebelum diberangkatkan ke sana.
Direktur Utama Bank NTT Harry Alexander Riwu Kaho di Kupang, Senin (17/4) menyebutkan, dari 2.000 lulusan SMA dan SMK tersebut, terbanyak berasal dari Kabupaten Timor Tengah Selatan sebanyak 600 orang. "Mereka (Global Catalyst) adalah para diaspora yang memberikan perhatian dan mendukung kerjasama kegiatan belajar sambil bekerja bagi anak-anak NTT," ujar Harry.
Baca juga: 7.102 Pelajar Dipersiapkan Menghadapi Electricity 4.0 via EEPC
Dikatakan Harry, para peserta program vokasi itu harus memenuhi sejumlah persyaratan seperti memiliki ijasah SMA atau SMK, dan bersedia belajar serta bekerja di Jerman. Seleksi akan dilakukan Dinas Pendidikan NTT serta dinas pendidikan kabupaten dan kota.
Setelah rekrutmen selesai, menurut Riwu Kaho, peserta program vokasi mengikuti kursus Bahasa Jerman selama enam bulan, difasilitasi oleh Prime Education, sebagai perwakilan Yayasan Global Catalyst di Indonesia.
Adapun anggaran pengiriman pemuda NTT ke Jerman ini sebesar Rp52 juta per orang, sebanyak 80% atau RP42 juta ditanggung oleh Yayasan Global Catalyst, sisanya 20% atau Rp10 juta diberikan dalam bentuk kredit profesi oleh Bank NTT tanpa bunga.
Baca juga: Sejumlah Karya SMK dan Perguruan Tinggi Vokasi RI akan Dipamerkan di Hannover Messe 2023
Selanjutnya, setelah bekerja antara 2-4 tahun atau saat dipandang sudah mandiri, para pemuda NTT tersebut mengembalikan seluruh anggaran dari Yayasan Global Catalyst dan Bank NTT tersebut. Setelah beberapa tahun di Jerman, tambah Harry, mereka juga diperbolehkan memberikan rekomendasi kepada pemuda lainnya di daerah mereka untuk direkrut dalam program ini.
Menurutnya, para pemuda akan bekerja di 70 bidang mulai dari jasa hingga teknik, seperti perhotelan, restoran, desain intererior, asuransi, perpajakan, kedokteran, arsitektur, informasi, teknik sipil, elektronika dan tekologi lainnya.
"Lingkup pekerjaan tersebut sangat dibutuhkan untuk membangun Nusa Tenggara Timur termasuk Kabupaten Timor Tengah Selatan, sebab tantangan membangun daerah ini adalah pada kualitas SDM," jelas Riwu Kaho. (Z-6)
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, mengatakan peran generasi muda sangat dibutuhkan dalam upaya membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Fokus utama Baznas tetap kepada fakir miskin, khususnya bagaimana kelompok yang tidak mampu dapat mengakses pendidikan melalui dana zakat.
Abad ke-21, menurut Prabowo, merupakan abad ilmu pengetahuan dan teknologi.
GURU Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Achmad Tjachja Nugraha, menilai Sekolah Rakyat merupakan langkah paling rasional untuk mengatasi kesenjangan pendidikan.
PENDIDIKAN kerap dimaknai sebatas proses belajar-mengajar di ruang kelas. Padahal, mutu pendidikan sesungguhnya dibangun oleh sebuah ekosistem yang lebih luas.
MENTERI Kesehatan memiliki ambisi besar untuk mereformasi sistem pendidikan dokter spesialis di Indonesia.
Prioritas utama dari kebijakan ini adalah untuk menjamin kesehatan serta keselamatan para peserta didik di tengah risiko bencana hidrometeorologi.
Prestasi langka ini menegaskan keunggulan pelajar Indonesia di panggung robotika global.
GURU Besar Literasi Budaya Visual FSRD ITB, Prof Acep Iwan Saidi, merespons kebijakan pengelola Museum Nasional Indonesia (MNI) yang menaikkan harga tiket masuk bisa membebankan pengunjung.
ANGGOTA Komisi XIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Marinus Gea, menghadiri kegiatan Parlemen Pelajar PW IPM Banten 2025 di Universitas Muhammadiyah Tangerang.
Ia menekankan bahwa akar persoalan bukan pada keberadaan platform, melainkan kurang optimalnya mekanisme penyaringan konten berbahaya oleh perusahaan teknologi besar.
PELAKU teror di era masyarakat digital jangan dibayangkan orang-orang dengan keterikatan pada ideologi dan agama yang kebablasan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved