Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Tingkat Literasi Keuangan Pelajar 15-17 Tahun masih Tertinggal

Muhammad Ghifari A
10/2/2026 17:31
Tingkat Literasi Keuangan Pelajar 15-17 Tahun masih Tertinggal
Kepala Divisi Perencanaan, Pengembangan, Evaluasi Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Naomi Triyuliyani.(MI/Muhammad Ghifari A)

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan rendahnya tingkat literasi keuangan di kalangan pelajar usia 15-17 tahun, yang masih berada di bawah angka nasional. Berdasarkan data terbaru, Kepala Divisi Perencanaan, Pengembangan, Evaluasi Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Naomi Triyuliyani, menyebutkan bahwa indeks literasi keuangan pelajar 15-17 tahun hanya tercatat 51,68%, jauh di bawah angka nasional yang mencapai 66,46%.

“Kalau di-breakdown lagi, indeks literasi pelajar umur 15-17 tahun itu lebih rendah daripada indeks nasional,” ungkap Naomi dalam peluncuran Modul Bijak Keuangan, menambahkan bahwa hal ini harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak dalam meningkatkan literasi keuangan generasi muda.

Naomi juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi generasi muda terkait ekonomi, seperti kenaikan biaya hidup dan ketidakpastian pekerjaan. Ia merujuk pada data yang menunjukkan bahwa sekitar 59,4 persen pekerja Indonesia masih berada di sektor informal, dengan minimnya jaminan sosial dan pendapatan yang tidak stabil.

“Artinya sebagian besar tenaga kerja masih berada dalam kondisi rentan,” ujar Naomi.

Dengan kondisi ini, Naomi menegaskan pentingnya penguatan pemahaman tentang pengelolaan keuangan sejak dini.

“Pelajar dan mahasiswa perlu dibekali dengan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan yang bijak, termasuk hak dan kewajiban sebagai konsumen jasa keuangan.”

Sementara itu, OJK terus memperkuat upaya edukasi melalui Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (Gencarkan). Sepanjang 2025, OJK menyelenggarakan 11.931 program edukasi yang melibatkan 1,8 juta pelajar di seluruh Indonesia. Naomi menekankan bahwa OJK kini mengubah pendekatannya, dari fokus pada peningkatan literasi dan inklusi keuangan menjadi kesejahteraan keuangan atau financial well-being.

“Sekarang paradigmanya sudah bergerak bagaimana kita membangun awareness mengenai kesejahteraan keuangan,” kata Naomi.

Perkuat Literasi Keuangan hingga Papua

Di sisi lain, perusahaan fintech lending, EasyCash, juga berperan aktif dalam meningkatkan literasi keuangan, khususnya di luar Pulau Jawa. Wildan Kusuma, Head of Corporate Affairs EasyCash, menjelaskan bahwa sejak dua tahun terakhir, mereka telah melaksanakan kegiatan edukasi keuangan di berbagai wilayah, termasuk Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

“Kita sudah punya kegiatan literasi keuangan di luar Jawa terutama. Kita keliling dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi sampai ke Papua juga kita sudah datang,” ujarnya.

Wildan juga menyoroti tantangan dalam pemerataan informasi tentang perbedaan layanan keuangan berizin dan ilegal.

“Kita dapat pertanyaan mendasar di semua kota. Misalkan yang berizin bedanya apa sama yang ilegal. Jadi mungkin pemerataan informasi itu yang perlu dilakukan,” katanya.

Selain kegiatan tatap muka dan daring, EasyCash mengembangkan konten digital seperti media sosial, video, dan podcast untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang lebih luas tentang produk keuangan yang aman dan berizin. Wildan menegaskan pentingnya edukasi sebelum penggunaan produk pinjaman untuk mengurangi kesalahan pengambilan keputusan finansial.

Wildan menambahkan bahwa meskipun tantangan literasi masih ada, EasyCash berhasil mencatatkan TKB90 (tingkat keberhasilan bayar dalam 90 hari) sebesar 100% pada tahun 2025.

"Kalau kita lihat TKB 90, tingkat keberhasilan bayar dalam 90 hari kepada lender atau pemberi dana, kita masih dalam angka 100% di tahun 2025,” ujarnya, mengungkapkan keberhasilan mitigasi risiko yang dilakukan melalui investasi di teknologi berbasis AI dan big data.  (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya