Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DI ERA modern saat ini masih ada warga dalam keseharian doyan makan batu. Hal ini terjadi di Kampung Detuara, Desa Nirakliung, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Batu ini dijadikan sebagai ngemil oleh sebagian kampung Detuara setempat yang mulai dari anak-anak
hingga orang dewasa. Memang makan batu ini sudah menjadi tradisi atau kebiasaan warga setempat sejak dari nenek moyang
Dari pantauan mediaindonesia.com, Selasa (15/11), untuk bisa menyantap batu, warga harus mencarinya di lubang-lubang yang ada di gua. Memang batu yang dikonsumsi tersebut adalah batu khusus bukan sembarang batu. Selanjut, batu-batu yang sudah dipilih diletakkan di ember. Kemudian, batu tersebut dicuci dengan air kali agar bisa mengeluarkan sisa-sisa tanah yang ada di batu tersebut. Selanjutnya, batu-batu tersebut langsung dibawa ke rumah dan dikonsumsi seperti layaknya makan nasi.
Salah satu warga Kampung Detuara, Dominikus Legong mengaku memakan batu ini sudah menjadi kebiasaan dan tradisi warga setempat sejak dari nenek moyang. Menurut dia, batu yang dimakan ini bukan batu sembarang, tapi ada batu khusus karena mencarinya juga di gua-gua atau di tebing-tebing. Batu yang biasa dimakan ini, dalam bahasa daerah disebut watu renggong.
"Jadi untuk mendapatkan batu tersebut kita cari di gua-gua. Cari juga harus pakai linggis agar batu itu bisa dicungkil. Jadi kalau kita sudah dapat batu itu, kita cuci dulu dengan air agar tanah-tanah yang ada di batu besi keluar. Kalau sudah bersih kita bisa langsung makan," papar dia.
Domi pun mengaku bahwa setelah batu ini dikunyah rasa pun manis. "Rasa batu ini sangat manis. Batu ini rasanya enak. Kami sudah biasa makan batu. Makan batu ini sejak nenek moyang. Jadi ini merupakan tradisi dan kebiasaan," papar dia.
Sementara itu, salah satu warga lagi, Janus yang juga merupakan ketua RT 03 setempat, mengaku bahwa kebiasaan makan batu ini sudah dari sejak nenek moyang. Untuk makan batu ini bukan dilakukan setiap harinya tapi hanya ada pada saat tertentu saja. "Jadi kalau ada warga yang pingin makan batu, pasti mereka pergi gali. Jadi mereka makan batu itu bukan karena lapar tapi kepingin dan sudah menjadi kebiasaan warga disini," pungkas dia (OL-13)
Baca Juga: Stroke Mulai Serang Pasien Usia Muda
Ditpolairud Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil menyelamatkan dua ekor penyu laut dilindungi dari upaya perburuan di perairan Desa Henga, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.
Sayangnya, ekosistem berupa tanaman penyangga pantai, dibiarkan tanpa adanya tanda-tanda reklamasi.
Pemerintah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menggelar pelatihan pengelolaan sampah
Kematian tragis ibu hamil Maria Yunita dan bayinya di Kabupaten Sikka, NTT, memicu kecaman keras dari masyarakat dan organisasi masyarakat sipil di wilayah tersebut.
Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka mendukung penuh pelaksanaan Festival Maumerelogia 5 yang akan berlangsung pada 15-24 Mei 2025.
Sebanyak empat orang yang diduga sebagai aktor intelektual di balik kasus Hak Guna Usaha (HGU) Tanah Nangahale di Kecamatan Talibura, Kabupaen Sikka, dilaporkan ke Polda NTT.
Tradisi tabayyun di kalangan ulama dan warga NU telah lama familiar dan mengakar.
Sejarah makan siang di Indonesia sendiri adalah cerminan perjalanan sosial, ekonomi, dan budaya yang selalu berubah.
Dalam tradisi masyarakat tertentu di Indonesia, telur tembean (telur ayam yang sudah berisi bakal embrio dan dianggap “hampir menetas”) dipercaya sebagai makanan berkhasiat
Upacara adat Dola Maludu yang merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat kini resmi tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) oleh DJKI.
Festival Jelajah Maumere III mengusung tema Wini Ronan atau lumbung benih sebagai refleksi atas tradisi dan kebudayaan di Kabupaten Sikka atau di Flores.
Pengunjung Parara festival dapat menikmati berbagai kegiatan menarik, mulai dari talkshow dan diskusi soal pangan lokal, tradisi nusantara, serta isu lingkungan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved