Sabtu 16 Juli 2022, 13:50 WIB

Disayangkan Petani Bali Belum Optimal Terapkan GAP Dalam Budidaya Kopi

Arnoldus Dhae | Nusantara
Disayangkan Petani Bali Belum Optimal Terapkan GAP Dalam Budidaya Kopi

MI/Arnold
Akademisi Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa, I Gusti Bagus Udayana menjelaskan potensi kopi Bali

 

PENERAPAN Good Agricultural Practices (GAP) yang belum optimal oleh petani kopi di Bali. Akibatnya, produksi dan kualitas kopi di Bali juga tidak maksimal dan juga masih rendahnya kualitas kopi hasil budidaya di Bali. GAP merupakan panduan cara budidaya yang baik, benar, ramah lingkungan dan aman dikonsumsi.

"Dari seluruh perkebunan kopi yang ada belum seluruhnya budidaya tanaman dilakukan dengan baik dan benar. Penerapan GAP budidaya  tanaman Kopi dapat meningkatkan capaian produksi dan kualitas produk yang dihasilkan," kata Akademisi Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa, I Gusti Bagus Udayana, saat di konfirmasi di Denpasar Sabtu (16/7/2022).

Menurut Udayana, peningkatan produksi kopi arabika dapat dicapai dengan strategi intensifikasi melalui optimalisasi penggunaan lahan dan tenaga kerja keluarga yang digunakan serta penerapan GAP, konservasi lahan dan pengendalian hama. Budidaya pada sisi lain juga mesti memperhatikan kondisi sosial-ekonomi dan ekologi guna mendorong pertumbuhan berkelanjutan yang berorientasi pada standar tertentu.

Ia mengakui, upaya sosialisasi penerapan GAP sudah mulai dilakukan. Salah satunya kepada Kelompok Tani Dharma Kriya, Desa Belantih, Kintamani Bangli. Sosialisasi dilakukan dalam bentuk pengabdian masyarakat bersama anggota tim pengabdian lainnya diantaranya I Gede Pasek Mangku dan I Ketut Selamet.

Secara agroklimat, Kabupaten Bangli sangat sesuai untuk pertumbuhan tanaman kopi arabika. Produksi kopi arabika  tertinggi terdapat di Kabupaten Bangli. Produksi kopi arabika pada tahun 2020 di kabupaten ini mencapai 2.249 Ton (53,68 %) dari total produksi kopi arabika di Provinsi Bali.

Keberadaan kopi arabika di Kabupaten Bangli telah mendapat mengakuan nasional dan internasional dengan di kembangkannya sertifikat indikasi geografis. Mengutip data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Bali tahun 2020 Bangli menjadi satu-satunya kabupaten yang memiliki jumlah produksi kopi arabika tertinggi dibandingkan dengan kabupaten lainya di Provinsi
Bali.

Udayana menambahkan, khusus dari sisi kualitas yang cenderung rendah disebabkan oleh belum maksimalnya penerapan Good Manufacturing Practices (GMP). GMP merupakan suatu pedoman atau tata cara manajemen dan cara kerja yang sesuai standar sebuah Negara dalam bentuk prosedur untuk menghasilkan produk yang nantinya akan dijual ke pasar. Penerapan GMP bertujuan untuk menghasilkan biji kopi berkualitas sesuai dengan standar internasional, yaitu ICO 407 dan SNI 01-2907-2008. (OL-13)

Baca Juga: Sektor Andalan tapi Pengembangan Hortikultura di Indonesia Belum Optimal

 

Baca Juga

MI/HO

Ulama di Cirebon Doakan Ganjar Pranowo

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 08 Agustus 2022, 03:02 WIB
ribuan orang yang hadir juga memanjatkan doa dipimpin oleh Kyai Abdul Munif untuk Ganjar Pranowo serta harapannya bagi Indonesia yang...
DOK MI

Siswi SMP Korban Kekerasan Seksual Di Pati Dalam Tahap Pemulihan

👤Widhoroso 🕔Senin 08 Agustus 2022, 00:55 WIB
MENTERI Sosial Tri Rismaharini menyampaikan siswi SMP berinisial N (15 tahun) di RSUD Soewondo, Pati, Jawa Tengah yang menjadi korban...
ANTARA

Sumut Tata Situs Benteng Putri Hijau di Deliserdang

👤Yoseph Pencawan 🕔Senin 08 Agustus 2022, 00:15 WIB
PEMERINTAH Provinsi Sumatera Utara melakukan penataan situs Benteng Putri Hijau sebagai upaya pelestarian cagar budaya dan pengembangan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya