Jumat 15 Oktober 2021, 12:06 WIB

Fosil Gajah Purba Berusia 700 Ribu Tahun Ditemukan di Nagekeo, Flores

Ignas Kunda | Nusantara
Fosil Gajah Purba Berusia 700 Ribu Tahun Ditemukan di Nagekeo, Flores

MI/Ignas Kunda
Arkeolog melakukan eksplorasi di Nagekeo, NTT

 

FOSIL gajah purba atau stegodon berumur sekitar 700 ribu tahun ditemukan di Desa Nagerawe, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Fosil gajah purba itu ditemukan oleh para peneliti dari Museum Geologi Bandung bersama warga lokal dalam 4 hari penggalian. 

Penggalian itu diharapkan bisa menemukan fosil manusia purba Flores karena kecenderungan manusia hidup berdampingan dengan gajah di masa lampau.  

Baca juga: Museum Geologi dan KKA Siap Dibuka Untuk Umum

Penggalian fosil ini dilakukan warga dan 10 peneliti di Padang Malahuma, yang berdekatan dengan Sungai Lowo Lele.

Pengamatan Media Indonesia, para warga lokal dan 4 peneliti terlihat sibuk menggali dengan peralatan berupa pahat besi secara hati-hati pada setiap lapisan tanah yang akan dilakukan selama 3 minggu.

Beberapa pecahan tulang dikumpulkan dan dipisahkan menurut jenis dan strukturnya. Penemuan beberapa bagian fosil di Malaruma ini sudah mulai tersingkap hanya sekitar 10 cm di bawah humus rumput.

Beberapa bagian fosil yang ditemukan antara lain tulang rusuk, tulang punggung, dan beberapa tulang pada tubuh stegodon.

Penggalian fosil gajah purba ini merupakan kerja sama dengan Universitas Wollonggong di Sydney, Australia.

Ifan Yoga Pratama Suharyogi, salah satu peneliti di lokasi, mengatakan, pada tahap pertama ini, disebut ekskavasi paleontologi dengan mereka menggali untuk menemukan pecahan atau bagian fosil yang kemudian dilakukan preparasi dengan cara dikeraskan, setelah itu baru dapat dideskripsikan jenis fosilnya.

“Setiap fosil atau tulang yang kami temukan akan kami keraskan dengan semacam cairan karena strukturnya yang rapuh. Semua akan kami kumpulkan dan kami susun kembali sehingga bisa diketahui atau dideskripsikan jenis fosilnya. Sebenarnya di lapangan pun kami sudah bisa mendeskripsikan jenis fosil seperti di Malaruma ini adalah gajah purba, “ katanya.  

Peneliti lain di lokasi ini , Erik Setya Budi, dari Pusat Survei Geologi Badan Geologi Bandung, mengatakan mereka sudah mulai menggali fosil hewan purba di desa ini sejak 2015 lalu dan sudah ditemukan berupa tulang burung purba.

“Tulang burung seperti bangau kami temukan pada 2015 dan sekarang sudah dipindahkan ke Museum Geologi Bandung,” kata Erik.

Menurut Erik, mereka sudah mulai meneliti sejak 1990 di dalam kawasan yang dinamai Cekungan So’a di Kabupaten Ngada dan Negekeo, termasuk di Padang Malaruma ini yang luasannya mencapai 200 km persegi dengan garis tengah sekitar 12 km.

Di Cekungan So’a (Kecamatan Soa dan Kecamatan Boawae) terdapat berbagai macam fauna seperti kura-kura raksasa, komodo, tikus besar, gajah kerdil. 

Semua fauna ini diklasifikasikan menjadi 2 yakni fauna Tangi Talo (gajah kerdil dan kura-kura besar) dan fauna Matamenge.

Selain itu, menurut Erik,  ini baru tahap permulaan karena 4  hari penggalian dan sudah ditemukan beberapa bagian fosil pada lapisan pertama dari struktur tanah.

Pada sesi penggalian kali ini, menurut Erik, mereka membuka area lebih lebar untuk melihat sebaran insitu untuk melihat terdapat di lapisan struktur tanah yang mana fosil ini ditemukan. 

Sementara dalam 4 hari efektif penggalian di Padang Malaruma ini mereka baru menemukan fosil gajah purba. Titik penggalian masih belum sampai pada titik yang diprediksi mengandung fosil. Masih pada penutup-penutup lapisan-lapisan.

“Dari hasil sementara dalam 4 hari penggalian, lapisan di Malahuma ini ekuivalen dengan yang di Matamenge, So’a. Berumur 600- 880 atau sekitar 700 ribu tahun. Lokasi Malahuma dan Ola Bula di banyak temuan alat batu atau artefak yang sudah tersebar di permukaan, sehingga kita berharap bisa menemukan pemilik alat batu yaitu manusia purbanya, “ ungkap Erik.

Menurut Erik, eksistensi manusia purba di Flores diketahui pasti sudah ada pada umur 700 ribu tahun.   

Dari hasil penemuan artefak yang di Cekungan So’a ini bisa dikatakan kehadiran manusia ada lebih dari 1 juta tahun lalu . Mereka ingin mencari manusia untuk melihat bentuk morfologi manusia purba.

Erik menjelaskan dari fosil gigi dan rahang manusia berumur 700 ribu tahun di Matamenge, hasil penelitian ditemukan manusia yang baru berumur 12 tahun dan orang dewasa, namun dengan fisik yang kerdil sama seperti manusia purba di Liang Bua.  

“ Kita ingin mencari apakah manusia purba yang nanti ditemukan di sini (Flores bagian tengah) apakah bentuk tubuh yang apakah sama dengan yang di liang bua (Flores bagian barat-Manggarai) bentuk wajahnya atau mungkin lebih tua dari yang di Liang Bua. Publikasi terakhir di Liang Bua umurnya hanya 100 ribu tahun sedangkan di sini jaraknya 600 ribu tahun atau berumur 700 ribu tahun,” ungkapnya.

Erik menambahkan, dari hasil temuan gigi ada perbedaan antara manusia Flores yang ditemukan di Liang Bua dengan yang di Cekungan So’a karena tempat tinggal manusia purba di Liang Bua berada dalam gua sedangkan di Cekungan Soa hidup di alam bebas atau hamparan. 

“Karena hidupnya di hamparan atau alam bebas ini, maka manusia purba di sini (Cekungan Soa) hidupnya nomaden. Sehingga dimungkinkan untuk berburu binatang seperti gajah ini. Kemungkinan gajah purba dulu masih lebih banyak dari sapi yang di padang sekarang, kepunahan mereka seiring adanya manusia karena otak manusia yang kecil hanya 800 cc belum bisa bertani.” katanya.

Erik juga mengungkapkan, hingga kini, para peneliti belum bisa memberikan nama untuk jenis manusia purba di dari fosil yang ditemukan di Matamenge-So’a karena masih harus mengumpulkan dan mencari bentuk-bentuk tubuh manusia purba Flores bagian tengah secara utuh, agar bisa dideskripsikan dan dinamai seperti homo erectus atau manusia purba jawa berumur 1,2 juta tahun. 

Erik membeberkan berdasarkan penelitian dosen ITB pada 2014, di sampel fosil gigi gajah purba yang di Tangi Talo dan Matamenge membuktikan dalam Cekungan Soa ini telah terjadi perubahan bentuk alam di rentang waktu 1 juta dan 880 ribu tahun. 

Pada umur 1 juta tahun lalu, Cekungan Soa ini adalah hutan dipenuhi pohon-pohon. Pembuktian ini berdasarkan sampel gigi gajah yang diuji dan mendapatkan gajah-gajah besar yang memakan pohon-pohon. 

Sedangkan pada rentang umur 880 ribu tahun Cekungan Soa sudah menjadi hamparan rumput berdasarkan pembuktian gigi gajah purba yang sudah makan rumput-rumputan.

Selain itu, Erik juga menjelaskan di Cekungan Soa ini terdapat banyak genangan atau danau sehingga menjadi daerah subur. Keadaan ini membuat banyak hewan berkumpul di sekitar lokasi ini. 

Namun akibat bencana longsoran dahsyat di Welas semua binatang atau hewan purba ini akhirnya mati dan terkubur di cekungan ini. Mereka tidak punya jalan untuk keluar dari cekungan ini. Namun hanya seperti Komodo daan tikus besar atau betu yang masih tetap bertahan.

“Kenapa Komodo dan betu itu bertahan atauntetap eksis? Ini karena mereka menggali lubang untuk bertahan hidup atau hibernasi ( periode tidur panjang untuk hemat energi),” tutup Erik.

Dominggus, seorang guide dan peneliti lokal yang tergabung dalam Tim Geologi Bandung dan sudah bersama ahli geologi untuk mencari fosil sejak tahun 1990 an mengungkapkan bahwa kehadiran gajah erat kaitannya dengan kehidupan manusia. 

“Berdasarkan apa yang saya pelajari dari para senior di museum geologi, bila ada tulang gajah purba pasti ada manusianya,” pungkasnya. (OL-1)

Baca Juga

DOK MI

Polda Sulteng Tegaskan Akan Usut Kasus Dugaan Asusila Oleh Oknum Kapolsek

👤Widhoroso 🕔Selasa 19 Oktober 2021, 00:03 WIB
KEPOLISIAN Daerah (Polda) Sulawesi Tengah (Sulteng) menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan kasus dugaan asusila yang diduga oknum...
DOK MI

RSUD Kardinah Tegal Miliki Laboratorium PCR

👤Supardji Rasban 🕔Senin 18 Oktober 2021, 23:56 WIB
UNTUK mendukung percepatan hasil tracing Covid-19, Rumah Sakit Umum Daerah Kardinah (RSUD) Kardinah Kota Tegal, Jawa Tengah, kini memiliki...
ANTARA

Mahasiswa ITHB Ciptakan Aplikasi Penerjemah Bahasa Isyarat

👤Widhoroso 🕔Senin 18 Oktober 2021, 23:23 WIB
Di Indonesia, data 2019 menunjukkan sekitar 2 juta orang mengalami tuli dan diperkirakan setiap tahun, ada sebanyak 5 ribu bayi yang...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Mencegah Proyek Kereta (jadi) Mubazir

Pembengkakan biaya menjadi biang keladi perlu turun tangannya negara membiayai proyek dengan dana APBN.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya