Headline
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Human Behaviour mengungkap sisi gelap evolusi kekerasan manusia di Eropa Tenggara. Para peneliti menganalisis sebuah makam massal dari Zaman Besi Awal di situs arkeologi Gomolava, Serbia, yang berisi sisa-sisa kerangka perempuan dan anak-anak korban pembunuhan sadis sekitar 2.800 tahun lalu.
Situs Gomolava yang terletak di tepi Sungai Sava ini secara historis merupakan titik temu berbagai kelompok budaya. Namun, pada abad ke-9 SM, wilayah tersebut berubah menjadi "titik nyala" konflik politik dan perebutan lahan yang mematikan.
Penelitian difokuskan pada sebuah lubang pemakaman berdiameter 2,9 meter dengan kedalaman hanya 0,5 meter. Di dalamnya, arkeolog menemukan 77 kerangka manusia yang ditumpuk bersama tulang-tulang hewan dan benda perunggu. Hasil analisis menunjukkan fakta yang mengerikan, lebih dari 70% korban adalah perempuan dan 69% adalah anak-anak.
Kondisi kerangka menunjukkan bukti trauma fatal akibat hantaman benda tumpul pada bagian kepala. Berdasarkan posisi luka, tim peneliti menduga para penyerang memiliki postur yang jauh lebih tinggi dari korban atau melakukan serangan sambil menunggang kuda.
"Secara keseluruhan, pola tersebut mengungkapkan kekerasan parah yang brutal, sengaja, dan efisien," tulis para peneliti dalam laporan tersebut.
Analisis DNA mengungkap dari 77 korban, hanya sedikit yang memiliki hubungan biologis dekat. Ini menunjukkan peristiwa tersebut bukanlah serangan acak terhadap satu keluarga besar, melainkan tindakan yang lebih terorganisir.
Selain itu, uji isotop stronsium pada enamel gigi menunjukkan bahwa sepertiga dari korban bukan berasal dari wilayah Gomolava. Linda Fibiger, ahli bioarkeologi dari University of Edinburgh sekaligus penulis utama studi ini, menjelaskan bahwa Gomolava tampaknya menjadi pusat penguburan bagi kelompok heterogen yang dibantai secara brutal pada masa itu.
"Sangat jelas bahwa ini adalah kumpulan individu yang heterogen," ujar Linda Fibiger kepada Live Science.
Para peneliti menduga kekerasan massal ini dipicu oleh ketegangan ideologi terkait penggunaan lahan dan kepemilikan wilayah antara kelompok yang menetap dan kelompok nomaden. Pembunuhan sistematis terhadap perempuan dan anak-anak, yang merupakan kunci keberlangsungan suatu komunitas, dianggap sebagai upaya "gangguan genealogis" atau pemutusan garis keturunan musuh.
Makam ini, bersama dengan makam serupa yang ditemukan di lokasi yang sama pada 1954, diyakini berfungsi sebagai monumen peringatan sekaligus simbol penegasan kekuasaan. Peristiwa ini menandakan rantai tindakan yang dimaksudkan untuk menyelesaikan konflik secara paksa atau menghapuskan komunitas lawan demi menyeimbangkan kembali kekuasaan di Eropa prasejarah. (Live Science/Z-2)
Arkeolog temukan lubang berisi 10 jenazah era Viking di Cambridge. Salah satunya kerangka pria raksasa yang pernah menjalani operasi otak kuno.
Hasil drawing play-off 16 besar Liga Europa 2025/2026. Nottingham Forest vs Fenerbahce, Bologna vs Brann. Bek Timnas Indonesia Calvin Verdonk (Lille) akan melawan Crvena Zvezda.
Satu orang terluka dalam penembakan di kamp pro-pemerintah Serbia. Presiden Aleksandar Vucic menyebut insiden itu sebagai serangan teroris.
Polisi Serbia menuduh para tersangka menghasut kebencian di Prancis dan Jerman, dan menyebutkan keterlibatan dinas intelijen asing, kata pihak berwenang.
Bentrok antar kelompok pro dan anti-pemerintahan pecah di Serbia. Polisi mengamankan puluhan orang.
Film ini membongkar tragedi ilmiah yang terjadi di Institut Nuklir Vinca, Yugoslavia, tahun 1958. Ketika itu sekelompok ilmuwan terkena paparan radiasi mematikan dalam proyek rahasia negara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved