Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Makam Massal Perempuan dan Anak di Serbia Berusia 2.800 Tahun Lalu Terungkap

Thalatie K Yani
25/2/2026 11:33
Makam Massal Perempuan dan Anak di Serbia Berusia 2.800 Tahun Lalu Terungkap
Arkeolog temukan bukti kekerasan brutal Zaman Besi di Gomolava, Serbia. Makam massal ini berisi puluhan perempuan dan anak-anak korban pembantaian strategis.(Sara Nylund (after Tasic 1972))

SEBUAH studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Human Behaviour mengungkap sisi gelap evolusi kekerasan manusia di Eropa Tenggara. Para peneliti menganalisis sebuah makam massal dari Zaman Besi Awal di situs arkeologi Gomolava, Serbia, yang berisi sisa-sisa kerangka perempuan dan anak-anak korban pembunuhan sadis sekitar 2.800 tahun lalu.

Situs Gomolava yang terletak di tepi Sungai Sava ini secara historis merupakan titik temu berbagai kelompok budaya. Namun, pada abad ke-9 SM, wilayah tersebut berubah menjadi "titik nyala" konflik politik dan perebutan lahan yang mematikan.

Bukti Kekerasan yang Efisien dan Brutal

Penelitian difokuskan pada sebuah lubang pemakaman berdiameter 2,9 meter dengan kedalaman hanya 0,5 meter. Di dalamnya, arkeolog menemukan 77 kerangka manusia yang ditumpuk bersama tulang-tulang hewan dan benda perunggu. Hasil analisis menunjukkan fakta yang mengerikan, lebih dari 70% korban adalah perempuan dan 69% adalah anak-anak.

Kondisi kerangka menunjukkan bukti trauma fatal akibat hantaman benda tumpul pada bagian kepala. Berdasarkan posisi luka, tim peneliti menduga para penyerang memiliki postur yang jauh lebih tinggi dari korban atau melakukan serangan sambil menunggang kuda.

"Secara keseluruhan, pola tersebut mengungkapkan kekerasan parah yang brutal, sengaja, dan efisien," tulis para peneliti dalam laporan tersebut.

Bukan Sekadar Penyerangan Biasa

Analisis DNA mengungkap dari 77 korban, hanya sedikit yang memiliki hubungan biologis dekat. Ini menunjukkan peristiwa tersebut bukanlah serangan acak terhadap satu keluarga besar, melainkan tindakan yang lebih terorganisir.

Selain itu, uji isotop stronsium pada enamel gigi menunjukkan bahwa sepertiga dari korban bukan berasal dari wilayah Gomolava. Linda Fibiger, ahli bioarkeologi dari University of Edinburgh sekaligus penulis utama studi ini, menjelaskan bahwa Gomolava tampaknya menjadi pusat penguburan bagi kelompok heterogen yang dibantai secara brutal pada masa itu.

"Sangat jelas bahwa ini adalah kumpulan individu yang heterogen," ujar Linda Fibiger kepada Live Science.

Upaya Menghapus Garis Keturunan

Para peneliti menduga kekerasan massal ini dipicu oleh ketegangan ideologi terkait penggunaan lahan dan kepemilikan wilayah antara kelompok yang menetap dan kelompok nomaden. Pembunuhan sistematis terhadap perempuan dan anak-anak, yang merupakan kunci keberlangsungan suatu komunitas, dianggap sebagai upaya "gangguan genealogis" atau pemutusan garis keturunan musuh.

Makam ini, bersama dengan makam serupa yang ditemukan di lokasi yang sama pada 1954, diyakini berfungsi sebagai monumen peringatan sekaligus simbol penegasan kekuasaan. Peristiwa ini menandakan rantai tindakan yang dimaksudkan untuk menyelesaikan konflik secara paksa atau menghapuskan komunitas lawan demi menyeimbangkan kembali kekuasaan di Eropa prasejarah. (Live Science/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya