Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Bukan Emas, Kotoran Burung Laut Inilah yang Membangun Peradaban Kuno Peru

Thalatie K Yani
17/2/2026 12:31
Bukan Emas, Kotoran Burung Laut Inilah yang Membangun Peradaban Kuno Peru
Ilustrasi(PLOSOne)

SELAMA ini, kekayaan peradaban kuno di Andes sering dikaitkan dengan emas, perak, atau kerang eksotis. Namun, sebuah studi terbaru mengungkapkan fakta unik. Kejayaan Kerajaan Chincha di Peru ternyata berakar pada kotoran burung laut atau yang dikenal sebagai guano.

Penelitian yang dipimpin Jacob Bongers, arkeolog digital dari University of Sydney, menemukan pupuk alami ini memainkan peran sentral dalam membentuk salah satu masyarakat paling kuat di Peru kuno jauh sebelum kekaisaran Inka berkuasa.

"Emas Putih" dari Lautan

Melalui analisis sisa-sisa jagung kuno di Lembah Chincha, tim peneliti menemukan kadar nitrogen yang sangat tinggi, jauh melampaui kemampuan alami tanah setempat. Hal ini membuktikan petani kuno menggunakan guano secara intensif untuk memacu hasil panen mereka.

"Guano burung laut mungkin terdengar sepele, namun studi kami menunjukkan bahwa sumber daya yang kuat ini berkontribusi secara signifikan terhadap perubahan sosiopolitik dan ekonomi di Andes Peru," ujar Bongers.

Produksi jagung yang melimpah berkat pupuk ini menciptakan surplus pangan. Kelebihan hasil tani tersebut menjadi mesin penggerak ekonomi, memperkuat perdagangan, dan meningkatkan pengaruh politik Kerajaan Chincha di kawasan pesisir.

Jejak Arkeologi dan Budaya

Kaitan antara burung laut dan kemakmuran tidak hanya ditemukan dalam tes biokimia, tetapi juga dalam jejak seni. Para peneliti menemukan tekstil, tembikar, dan ukiran yang menggambarkan burung laut, ikan, dan tunas jagung secara bersamaan.

Bagi masyarakat Chincha, hubungan ini memiliki makna simbolis dan spiritual. Mereka tidak hanya mengumpulkan guano dari pulau-pulau terdekat menggunakan rakit, tetapi juga memuja dan melindungi ekosistem tersebut sebagai fondasi kehidupan mereka.

Emily Milton, peneliti dari Smithsonian Institution, menambahkan praktik ini telah dimulai setidaknya 800 tahun yang lalu. "Catatan sejarah yang mendokumentasikan bagaimana guano burung diaplikasikan ke ladang jagung membantu kami menginterpretasikan data kimia dan memahami pentingnya praktik ini secara regional," jelasnya.

Diplomasi dengan Kekaisaran Inka

Kekuatan Kerajaan Chincha yang berbasis pada agrikultur dan maritim ini bahkan membuat Kekaisaran Inka segan. Suku Inka yang berbasis di dataran tinggi sangat membutuhkan jagung untuk makanan dan ritual, namun mereka kesulitan menanamnya di pegunungan dan tidak memiliki kemampuan melaut yang mumpuni.

"Guano adalah sumber daya yang sangat dicari yang ingin diakses oleh suku Inka, memainkan peran penting dalam pengaturan diplomatik antara Inka dan komunitas Chincha," kata Bongers. Alih-alih ditaklukkan sepenuhnya, Chincha menjalin aliansi strategis yang melibatkan pertukaran kekuasaan dan sumber daya.

Pelajaran dari Masa Lalu

Studi ini mengajak kita memikirkan kembali arti kekayaan. Kekuatan sejati Chincha bukan sekadar akses pada sumber daya, melainkan penguasaan sistem ekologi yang kompleks.

"Kekuatan sejati Chincha bukan hanya akses ke sumber daya; itu adalah penguasaan mereka atas sistem ekologi yang kompleks," ungkap salah satu penulis studi, Jo Osborn dari Texas A&M University. "Seni mereka merayakan hubungan ini, menunjukkan kepada kita bahwa kekuatan mereka berakar pada kebijaksanaan ekologis, bukan sekadar emas atau perak." (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik