Selasa 21 September 2021, 13:11 WIB

PT. Timah Tenggelamkan 1.920 Terumbu Karang Buatan di Babel

Rendy Ferdiansyah | Nusantara
PT. Timah Tenggelamkan 1.920 Terumbu Karang Buatan di Babel

MI/Rendy Ferdiansyah
Penenggelaman terumbu karang oleh PT Timah Tbk, untuk mereklamasi laut, Selasa (21/9)

 

SEPANJANG tahun 2021, PT Timah Tbk telah menenggelamkan 1.920 unit terumbu karang buatan (artificial reef) di 11 lokasi. Penenggelaman artificial reef ini sesuai komitmen PT.Timah terhadap lingkungan khususnya Reklamasi laut.

Kepala Bidang Komunikasi Perusahaan PT Timah Tbk, Anggi Siahaan, merincikan 1920 terumbu karang buatan tersebut di tenggelamkan di Pulau Panjang sebanyak 240 unit, Karang Rulak 240 unit, di Rambak 240 unit, Perairan Tuing 60 unit.

Selanjutnya di Pulau Putri sebanyak 240 unit, Tanjung Melala 240 unit, Malang Gantang 240 unit, Tanjung Ular 120 unit, Karang Aji 120 unit, Pulau Pelepas  60 unit dan Tanjung Kubu sebanyak 120 unit.

"Rencana reklamasi laut PT Timah Tbk untuk artificial reef telah terealisasi 100 persen, dari target 1.920 unit sudah terealisasi 1.920 pada Agustus 2021 lalu. Penenggelaman artificial reef ini sebagai komitmen PT Timah Tbk untuk menjjaga keseimbangan ekosistem laut," kata Anggi, di Babel, Selasa (21/9).

Menurut Anggi, PT Timah Tbk dalam pemanfaatan sumber daya mineral timah di Laut Babel, Provinsi Riau dan Kepualuan Riau tidak mengabaikan langkah-langkah untuk menjaga ekosistem laut. Sejak tahun 2016 hingga 2020, PT Timah Tbk mencatat telah meneggelamkan sebanyak 3.105 unit fish shelter dan 1.475 unit transplantasi karang.

Selain, sebagai komitmen untuk menjaga ekosistem laut, penenggelaman rumpon juga sebagai upaya perusahaan untuk membuat rumah ikan bagi nelayan yang nantinya diharapkan bisa meningkatkan hasil tangkapan nelayan.

"Reklamasi laut juga sebagai upaya perusahaan untuk mendukung wisata bawah laut, sehingga bentuk artificial reef yang ditenggelamkan juga terus diperbahurui seperti model tudung saji yang menjadi salah satu ikon Bangka Belitung," ujar Anggi.

Dalam melaksanakan reklamasi laut, PT Timah Tbk juga melibatkan komunitas dan masyarakat nelayan. Sehingga, dalam pelaksanaannya PT Timah Tbk juga melakukan pemberdayaan masyarakat.

Sementara. Dosen Ilmu Kelautan Universitas Bangka Belitung, Indra Ambalika mengatakan, tahun 2021 ini ada tiga lokasi baru tempat penenggelaman artificial reef yang dilakukan PT Timah yakni di Perairan Tuing Desa Mapur, Kabupaten Bangka, Periaran Pulau Pelepas di Desa Tanjung Pura Kabupaten Bangka Tengah, dan Perairan Malang Gantang, Desa Teluk Limau, Kabupaten Bangka Barat.

"Ada satu lokasi lama yang dikurangi PT Timah Tbk karena kondisi perairan yang dianggap, belum sesuai untuk mendukung kegiatan reklamasi laut karena masih tingginya aktivitas penambangan oleh masyarakat di Pulau Pemain Permis, Kabupaten Bangka Selatan," ujarnya.

Indra yang sejak awal telah dilibatkan PT Timah Tbk dalam melaksanakan reklamasi laut, dia menyebutkan tahun ini artificial reef yang digunakan bentuk tudung saji dengan penyempurnaan bentuk sebelumnya.

"Sebelumnya menggunakan kawat kasa, maka tahun ini tidak menggunakan kawat kasa lagi tapi menambah rangka besi pada sisi artificial reef. Hal ini karena, berdasarkan evaluasi dari kegiatan tahun-tahun sebelumnya kawat kasa ini cepat korosi dan akhirnya rapuh dan jatuh ke dasar perairan, tidak bertahan lama. Nmun rangka besi tetap kuat dan efektif menjadi media penempelan biota laut," ungkap dia.

Ia menyebutkan, setelah artificial reef ini ditenggelamkan, PT Timah Tbk bersama pihaknya tetap melakukan monitoring dan evaluasi. Khususnya untuk melihat efektifitas artificial reef menjadi habitat baru bagi biota laut.

Dimana kriteria keberhasilan tersebut diukur dengan melihat sejauh mana fungsi lokasi penenggelaman media artificial reef menjadi habitat baru biota laut yaitu tempat mencari makan (feeding ground), tempat memijah (spawning ground), dan tempat pembesaran (nursery ground).

"Cara melihatnya dapat dilihat dari komposisi jenis biota laut yang ditemukan di lokasi penenggelaman artificial reef, kelimpahan biota laut, dan jumlah penempelan alami biota laut," terangnya.(OL-13)

Baca Juga:  IUP PT. Timah Masih saja Dijarah Penambang Ilegal

 

Baca Juga

MUI/Depi Gunawan

Awas, Jalur Wisata Lembang Rawan Longsor

👤Depi Gunawan 🕔Rabu 27 Oktober 2021, 23:37 WIB
BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bandung Barat, Jawa Barat mengeluarkan peringatan bahaya cuaca ekstrem di kawasan Lembang,...
MI/Dwi Apriani

Pemkot Palembang Optimistis Capai 100 Persen Vaksinasi Pada Akhir Tahun

👤Dwi Apriani 🕔Rabu 27 Oktober 2021, 23:31 WIB
WAKIL Wali Kota Palembang Fitrianti Agustinda, Rabu (27/10) meninjau vaksinasi yang digagas Pramuka Palembang berkerja sama dengan Pemkot...
MI/Dwi Apriani

Pemkab Muba Minta Tambahan Kuota Gas Elpiji 3 Kg

👤Dwi Apriani 🕔Rabu 27 Oktober 2021, 23:06 WIB
Pemkab Muba telah surati Pertamina dan Dinas ESDM Provinsi Sumatera Selatan untuk memberitakan tambahan kuota gas LPG 3 kg melalui Dinas...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Menghadang Ganasnya Raksa

Indonesia masih menjadi sasaran empuk perdagangan ilegal merkuri, terutama dari Tiongkok dan Taiwan. Jangan sampai peristiwa Minamata pada 1956 di Jepang terjadi di sini.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya