Headline

Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.

Rahasia 112 Juta Tahun, Ilmuwan Ungkap Sejarah Ikan yang Bisa Bercahaya di Laut Dalam

Thalatie K Yani
06/3/2026 08:00
Rahasia 112 Juta Tahun, Ilmuwan Ungkap Sejarah Ikan yang Bisa Bercahaya di Laut Dalam
Ilustrasi(freepik)

DI bawah kegelapan samudera, sebuah pertunjukan cahaya rahasia telah berlangsung selama setidaknya 112 juta tahun. Ikan-ikan biofluoresen menyerap cahaya biru laut dan memancarkannya kembali sebagai warna hijau, kuning, hingga merah. Meski tak kasat mata di bawah sinar matahari bagi manusia, fenomena ini mengubah terumbu karang menjadi papan neon bawah air yang spektakuler.

Dua studi terbaru dari American Museum of Natural History kini berhasil melacak asal-usul dan perkembangan cahaya ini. Melalui analisis terhadap 459 spesies, tim peneliti menemukan biofluoresensi pertama kali muncul pada belut purba dan telah berevolusi secara mandiri lebih dari 100 kali.

Terumbu Karang sebagai Akselerator Evolusi

Penelitian ini menunjukkan kehidupan di terumbu karang mempercepat "trik" evolusi ini. Ikan yang tinggal di karang mengembangkan kemampuan bercahaya 10 kali lebih cepat dibandingkan spesies yang berada di perairan terbuka.

Ledakan spesies bercahaya ini terjadi pasca-kepunahan massal 66 juta tahun lalu. Saat dinosaurus musnah dan terumbu karang mulai pulih, ikan-ikan ini dengan cepat menjajah relung ekologi yang baru tersedia.

"Peneliti telah lama mengetahui bahwa biofluoresensi cukup tersebar luas pada hewan laut, mulai dari penyu hingga karang, dan terutama di antara ikan. Namun untuk benar-benar memahami akar dari mengapa dan bagaimana spesies ini menggunakan adaptasi unik tersebut, apakah untuk kamuflase, predasi, atau reproduksi, kita perlu memahami kisah evolusi yang mendasarinya serta cakupan biofluoresensi yang ada saat ini," jelas Emily Carr, penulis utama studi tersebut.

Spektrum Warna yang Lebih Luas

Melalui eksperimen kedua menggunakan fotografi spesimen museum di bawah cahaya khusus, tim menemukan variasi warna yang jauh lebih beragam dari yang pernah didokumentasikan sebelumnya. Beberapa keluarga ikan bahkan menunjukkan setidaknya enam puncak fluoresensi yang berbeda.

"Variasi luar biasa yang kami amati pada berbagai ikan fluoresen ini bisa berarti bahwa hewan-hewan tersebut menggunakan sistem persinyalan yang sangat beragam dan rumit berdasarkan pola emisi fluoresen spesifik spesies," ujar John Sparks, rekan penulis studi.

Dari Dasar Laut ke Dunia Medis

Penemuan ini tidak hanya penting bagi ilmu kelautan. Protein fluoresen yang sebelumnya diambil dari ubur-ubur telah merevolusi biologi molekuler. Kini, beragam warna baru yang ditemukan pada ikan berpotensi menjadi alat pencitraan medis generasi berikutnya, membantu dokter mendeteksi tumor atau memandu pembedahan menggunakan cahaya.

Meskipun banyak rahasia laut yang masih tersembunyi, setiap kilatan warna membawa manusia lebih dekat untuk memahami cara ikan berkomunikasi, bersembunyi, dan berburu. Studi lengkap mengenai penemuan ini telah diterbitkan dalam jurnal PLOS One. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya