Kamis 06 Agustus 2020, 16:27 WIB

Bantah Walhi, Polisi: Banjir Luwu Utara bukan karena Pembalakan

Lina Herlina | Nusantara
Bantah Walhi, Polisi: Banjir Luwu Utara bukan karena Pembalakan

Antara
Warga beraktivitas usai banjir bandang di Desa Petambua Masamba, kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan Rabu (22/07/2020).

 

DIREKTORAT Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan telah melakukan penyelidikan terkait penyebab terjadinya banjir bandang di Kabupaten Luwu Utara. Hasilnya banjir terjadi bukan karena aktivitas illegal logging atau pembalakan liar.

Hal itu diungkapkan Direktur Direskrimsus Polda Sulsel, Kombes Augustinus Berlian, Kamis (6/8). Menurutnya, banjir bandang yang terjadi di Luwu Utara dan merusak enam kecamatan terjadi akibat faktor alam.

Baca juga: 66 Hilang dan 4.930 Keluarga Terdampak Banjir Bandang Luwu Utara

"Berdasarkan fakta yang kita dapat di lapangan, keterangan saksi-saksi, cek lokasi dan lain-lain. Kita dapatkan banjir bukan karena illegal logging, eksploitasi hutan dan lain-lain. Tapi memang karena faktor alam," kata Augustinus tanpa menjelaskan secara pasti faktor alam apa yang menyebabkan banjir bandang di Luwu Utara.

Sementara itu, Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulsel Muhammad Al Amin mengungkapkan berdasarkan hasil pemetaan dan kajian yang mereka lakukan, ada dua faktor yang paling mendasar yang mengakibatkan banjir bandang di Kabupaten Luwu Utara, salah satunya adalah aktivitas pembalakan liar.

"Di sana itu, ada pembalakan hutan berskala besar seperti illegal logging, dan pembukaan lahan yang diperuntukan untuk perkebunan kelapa sawit yang menggerus kondisi wilayah hutan di sana," ungkap Amin.

Amin menambahkan, berdasarkan hasil analisis tahun 2018 hingga 2020. Ada empat lokasi pembukaan lahan secara masif di kawasan hulu yang berada di Kecamatan Masamba dan Baebunta, Luwu Utara. Sehingga bisa mengakibatkan terjadi bencana alam.

Baca juga: Unhas Sudah Prediksi sejak 2017 Banjir di Luwu Utara

Banjir bandang di Luwu Utara sendiri, berdasarkan data BPBD di sana, korban jiwa meninggal dunia 38 orang, 10 orang dinyatakan hilang sehingga pencarian masih dilanjutkan hingga hari ini. Lalu 106 orang menjalani perawatan dan 3.627 kepala keluarga (KK) atau sekitar 14.483 jiwa yang berada di tenda pengungsian. (LN/A-3)

Baca Juga

MI/Cikwan Suwandi

Pemkot Solo: Pengungsi Gempa dari Sulbar Jalani Tes Cepat Antigen

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 21 Januari 2021, 21:45 WIB
Pemerintah Kota Surakarta memastikan para pengungsi gempa dari Sulawesi Barat menjalani tes cepat antigen untuk mengetahui apakah ada yang...
MI/Agus Utantoro

Usai Divaksin Bupati Sleman Positif Covid

👤Agus Utantoro 🕔Kamis 21 Januari 2021, 21:24 WIB
SETELAH hasil swab dan tes PCR menunjukkan positif covid-19, Bupati Sleman Sri Purnomo, mulai hari ini, Kamis (21/1/2021) melakukan isolasi...
dok.mi

Masa PPKM Justru Kasus Covid-19 di DIY Cetak Rekor Baru Lagi

👤Ardi T Hardi 🕔Kamis 21 Januari 2021, 21:10 WIB
PENAMBAHAN kasus baru pasien Covid-19 di DIY kembali menyentuh rekor tertinggi, Kamis (21/1) dengan 456...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya