Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

IPB University Kembangkan Forensik DNA: Terobosan Baru Lawan Pembalakan Liar

Basuki Eka Purnama
30/1/2026 22:41
IPB University Kembangkan Forensik DNA: Terobosan Baru Lawan Pembalakan Liar
Ilustrasi--Sejumlah warga mengumpulkan kayu yang terdampar di Pantai Utara Desa Larangan, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (26/1/2026).(ANTARA/Oky Lukmansyah)

MESKIPUN teknologi DNA telah menjadi standar global dalam forensik kehutanan, penerapannya di Indonesia hingga kini masih tergolong terbatas. 

Menanggapi tantangan tersebut, IPB University mengambil peran strategis melalui konsorsium riset Indonesian-Based Wood Identification Program. Program ini fokus pada pengembangan teknologi identifikasi kayu berbasis DNA untuk memperkuat penegakan hukum di sektor kehutanan.

Dr. Fifi Gus Dwiyanti, Dosen Silvikultur IPB University sekaligus salah satu peneliti dalam konsorsium tersebut, mengungkapkan bahwa teknologi DNA memiliki peran krusial dalam menekan angka perdagangan kayu ilegal di tingkat internasional.

"Secara global, sekitar 80% forensik kehutanan, khususnya untuk *timber tracking* (penelusuran kayu), telah menggunakan pendekatan DNA. Namun di Indonesia, penerapannya masih relatif terbatas," ujar Fifi.

Tiga Level Analisis Penelusuran

Menurut Fifi, teknologi identifikasi berbasis DNA mampu memberikan bukti ilmiah yang sangat akurat melalui tiga tingkat analisis. 

Pertama, identifikasi pada level famili, genus, atau spesies. Kedua, penentuan asal-usul populasi kayu, dan ketiga, verifikasi kecocokan antara log kayu dengan tunggak (stump) asalnya di lapangan.

Dalam praktiknya, para peneliti menggunakan metode DNA barcoding untuk identifikasi spesies. Proses ini melibatkan ekstraksi DNA, polymerase chain reaction (PCR), hingga sequencing. 

Data yang diperoleh kemudian dicocokkan dengan basis data global seperti National Center for Biotechnology Information (NCBI) atau DNA Data Bank of Japan (DDBJ).

"Melalui proses ini, spesies kayu yang sebelumnya tidak diketahui dapat diidentifikasi secara akurat berdasarkan kecocokan sekuens DNA," ulasnya.

Tantangan Database dan Akurasi Individu

Selain identifikasi jenis, teknologi ini juga menyasar penentuan asal-usul kayu melalui genetika populasi. Namun, Fifi mengakui adanya tantangan besar dalam membangun basis data yang komprehensif untuk hutan Indonesia.

"Peneliti harus mengembangkan database dari seluruh populasi alami setiap spesies kayu, yang jumlahnya bisa mencapai ratusan spesies komersial. Data ini menjadi kunci untuk membuktikan klaim asal-usul kayu yang tercantum dalam dokumen resmi," jelasnya.

Untuk pencocokan spesifik antara batang kayu dengan tunggulnya, digunakan metode DNA profiling atau DNA fingerprinting. Metode ini mengandalkan ukuran fragmen DNA dari berbagai lokus untuk memastikan bahwa sebuah log memang berasal dari pohon tertentu.

Pilar Ilmiah Masa Depan

Keberhasilan metode ini sangat bergantung pada beberapa faktor kunci, mulai dari keragaman genetik, penggunaan penanda DNA yang diskriminatif, hingga kualitas ekstraksi DNA itu sendiri. Saat ini, IPB University bersama konsorsium terus bekerja keras menyusun pilar ilmiah yang kuat.

"IPB University bersama konsorsium terus mengembangkan database sequence, protokol ekstraksi DNA, hingga genom kloroplas berbagai spesies kayu tropis Indonesia sebagai pilar ilmiah identifikasi kayu berbasis DNA," tutup Fifi. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya