Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Teknologi NIR: Solusi Cepat Lacak Asal-Usul dan Legalitas Kayu Indonesia

Basuki Eka Purnama
02/2/2026 09:32
Teknologi NIR: Solusi Cepat Lacak Asal-Usul dan Legalitas Kayu Indonesia
Ilustrasi--Pekerja mengangkut olahan kayu di Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin (23/10/2023).(ANTARA/Henry Purba)

KEPASTIAN legalitas dan asal-usul kayu kini memasuki babak baru melalui pemanfaatan teknologi forensik kehutanan. Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof Lina Karlinasari, menekankan pentingnya teknologi near infrared (NIR) untuk menjamin aspek traceability (penelusuran) dan keberterimaan produk kayu Indonesia di pasar internasional.

Dalam industri kehutanan, identifikasi kayu umumnya terbagi menjadi dua pendekatan: taksonomi (jenis kayu) dan asal geografis. 

Menurut Prof Lina, kepastian hukum atas pemanfaatan kayu akan jauh lebih kuat jika kedua identitas ini dapat diverifikasi secara akurat.

"Kombinasi identifikasi jenis dan asal-usul geografis kayu akan sangat membantu dalam kepastian legalitas pemanfaatan kayu," ujarnya dalam Workshop Indonesia Wood Identification Program, beberapa waktu lalu.

Selama ini, metode anatomi dan teknologi Direct Analysis in Real Time–Time of Flight Mass Spectrometry (DART-TOF MS) lazim digunakan untuk identifikasi taksonomi. Sementara untuk melacak asal geografis, para ahli biasanya mengandalkan analisis isotop dan genetika. Di sinilah NIR mengambil peran strategis.

"Dalam konteks ini, NIR menempati posisi strategis karena secara teori mampu menjawab kedua kebutuhan, baik taksonomi maupun asal geografis, khususnya pada tahap skrining dan verifikasi cepat," papar Prof Lina.

Keunggulan Sidik Jari Kimia

Teknologi NIR bekerja dengan memanfaatkan pola spektra sebagai sidik jari kimia (chemical fingerprinting) dari material kayu. 

Dengan menangkap vibrasi molekul pada rentang 800–2500 nm, teknologi ini mampu membedakan kontribusi selulosa, hemiselulosa, lignin, hingga zat ekstraktif pada kayu.

"Spektra NIR dapat membedakan kontribusi selulosa, hemiselulosa, lignin, hingga ekstraktif, bahkan perbedaan kayu gubal dan kayu teras," jelasnya.

Keunggulan utama NIR terletak pada efisiensinya. Prosesnya berlangsung cepat, membutuhkan preparasi sampel yang minimal, dan bersifat nondestruktif atau tidak merusak sampel. 

Meski demikian, Prof Lina memberikan catatan bahwa metode ini memiliki keterbatasan sensitivitas terhadap variasi fisik dan sangat bergantung pada model kalibrasi data yang kuat.

Implementasi pada Kayu Dilindungi

Penerapan NIR telah menunjukkan hasil nyata dalam konservasi dan perdagangan internasional. Salah satu contohnya adalah program ITTO-CITES di Amerika Selatan yang menggunakan NIR untuk memantau perdagangan kayu mahoni.

Di Indonesia, Prof Lina bersama World Resources Institute (WRI) telah melakukan penelitian serupa pada kayu eboni asal Sulawesi. Hasilnya, NIR terbukti berpotensi mendiskriminasi asal geografis eboni berdasarkan kandungan ekstraktif dan pola spektranya. Hal ini menjadi krusial mengingat status eboni yang rentan.

"Kayu eboni dikenal keras dan awet, namun tergolong rentan menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature), sehingga pengawasan perdagangannya menjadi krusial," pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya