Rabu 15 Juli 2020, 15:25 WIB

Unhas Sudah Prediksi sejak 2017 Banjir di Luwu Utara

Lina Herlina | Nusantara
Unhas Sudah Prediksi sejak 2017 Banjir di Luwu Utara

Antara
Waga menyelamatkan hartanya akibat banjir bandang di Kecamatan Masammba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Rabu (15/7/2020).

 

BANJIR di Luwu Utara, yang menyebabkan korban jiwa, sudah diprediksi sejak 2017 oleh Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Sayangnya, instansi terkait abai sehingga tidak melalukan pencegahan dini yang memadai.

Sebelumnya, Pusat Studi Kebencanaan Unhas sudah mengkaji tentang potensi bencana, terutama bencana banjir di seluruh daerah di Sulawesi Selatan.

Prof Adi Maulana, Kepala Pusat Studi Kebencanaan Unhas menyatakan telah mempublikasikan hasil studinya di Journal of Physic. Disebutkan jika salah satu daerah yang berpotensi banjir di Sulsel, dengan tingkat resiko tinggi adalah daerah Luwu Utara, khususnya daerah Masamba dan sekitarnya.

Menurutnya, daerah Masamba dan sekitarnya merupakan daerah pedataran yang sangat luas, terbentuk dari proses erosi dan sedimentasi selama ribuan bahkan jutaan tahun. Menempati luas areal sekitar 50 kilometer kali 30 kilometer.

"Pedataran ini disusun oleh material alluvial, dengan sumber dari batuan berupa material-material yang berasal dari pegunungan di bagian utara, timur dan baratnya. Di bagian utara, di dapati pegunungan yang disusun oleh Formasi Kambuno, berupa batuan dengan komposisi granitik sampai dengan dioritik, sementara dibagian timurnya disusun oleh pegunungan dengan komposisi batuan metamorfik dari Kompleks Pompangeo," urai Prof Adi Maulana, Rabu (15/7).

"Kondisi morfologi daerah ini bagaikan cekungan kecil, yang diapit oleh pegunungan dibagian utara, timur dan barat dan dibatasi oleh Teluk Bone dibagian selatannya," sambung Guru Besar Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin ini.

Di Luwu Utara lanjutnya, terdapat tiga sungai besar dan beberapa sungai kecil yang mengalir memotong daerah pedataran luas, dari utara ke selatan. "Sungai-sungai ini terbentuk oleh akibat patahan-patahan atau sesar sekitar pliosen atau dua juta tahun yang lalu. Patahan-patahan ini terjadi akibat proses tektonik pembentukan Pulau Sulawesi. Sejalan dengan waktu, patahan-patahan tersebut membentuk aliran sungai," lanjut Prof Adi Maulana.

Di daerah hulu, proses pelapukan sangat intens terjadi. Hal ini dibuktikan dengan tebalnya soil atau tanah tutupan yang mencapai 5-7 km. Hasil penelitian yang dilakukan Unhas, menemukan ketebalan soil bisa mencapai delapan meter di titik tertentu.

Ditambah lagi, banyaknya aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan dan pemukiman yang tidak terkontrol di wilayah pegunungan atau hulu sungai menyebabkan terjadinya proses erosi yang sangat signifikan.

Akibatnya, terjadi proses sedimentasi pada sungai yang tinggi. "Kondisi ini menyebabkan kondisi sungai secara umum terganggu. Pembukaan lahan menyebabkan tanah menjadi rentan terhadap erosi permukaan, dan menyebabkan berkurangnya vegetasi," sebut Prof Adi Maulana.

Tanah dibagian hulu pun menjadi jenuh dan tidak mampu lagi untuk menyerap air hujan dengan baik, dalam artian, presipitasi menjadi semakin berkurang. Terbukanya lahan juga menyebabkan proses erosi semakin tinggi dan menghasilkan tumpukan material sedimen yang semakin besar, mengisi saluran sungai dan terendapkan pada dasar sungai, menjadikan kapasitas atau volume sungai menjadi berkurang dan terjadi pendangkalan.

"Kondisi ini menyebabkan, ketika terjadi hujan deras dalam waktu yang singkat, maka banjir akan terjadi. Banjir terjadi dengan cepat, atau yang sering disebut dengan banjir bandang. Banjir ini terjadi akibat ketidakmampuan sungai untuk mengakomodasi volume air yang mengalir dan menyebabkan air akan meluap," ungkap Prof Adi Maulana.

Ia pun berharap,  bencana segera berlalu. Dan mengingatkan, bahwan penanganan banjir di daerah ini memerlukan sinergi dari semua stakeholder, terutama dinas teknis terkait. Tanpa adanya sinergi, akan sangat sulit mengatasi banjir yang kedepannya akan semakin sering terjadi. Semakin ekstrim nya curah hujan akibat perubahan musim global, ditambah dengan alih fungsi lahan yang semakin tidak terkontrol mengakibatkan kejadian banjir bandang akan terus semakin sering dengan intensitas semakin besar.

"Diperlukan kerja keras dan kerja cerdas semua pihak tanpa ada yang saling menyelahkan. Semua pihak, baik provinsi maupun kabupaten yang didukung pemerintah pusat dan masyarakat diharapkan dapat saling bekerja sama untuk mengatasi bencana ini. Jika tidak, maka kejadian akan terus berulang," tutupnya. (OL-13)

Baca Juga: Soal Surat Jalan Joko Tjandra, Polri: Tidak Ada Izin Pimpinan

Baca Juga

 ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

GLZoo Dibuka Kembali Banyak Wisatawan Ditolak Masuk

👤Agus Utantoro 🕔Selasa 04 Agustus 2020, 08:57 WIB
Direktur Utama GLZoo, KMT A.Tirtodiprojo mengakui  banyak wisatawan yang datang ke GL Zoo terpaksa ditolak masuk karena tidak memenuhi...
Humas Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan

Peran KPH Strategis Lindungi Kawasan Hutan Meratus

👤Denny Susanto 🕔Selasa 04 Agustus 2020, 07:45 WIB
Guna melindungi kawasan hutan Meratus Kalimantan Selatan yang masuk kategori paru-paru dunia ini Pemerintah Provinsi Kalsel membentuk...
MI/Lilik Darmawan

Jalan Kesejahteraan di Perbukitan Petahunan

👤Lilik Darmawan 🕔Selasa 04 Agustus 2020, 07:06 WIB
Program Tentara Nasional Indonesia Manunggal Membangun Desa Sengkuyung Reguler ke-108 Kodim 0701 Banyumas menyelesaikan jalan desa yang...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya