Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
JAJARAN kepolisian daerah (Polda) Aceh dalam dua hari terakhir telah menyita sekitar 22 hektare (ha) kebun ganja. Lahan tanaman narkotika yang dalam bahasa latin disebut cannabis itu ditemukan di kawasan hutan pengunungan Pantan Dedep, Desa Agusen Kecamatan Blang Kejeren, Kabupaten Gayo Lues, dan hutan Perbukitan Desa Lamteuba Droe, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar.
Sesuai informasi diperoleh Media Indonesia pada Selasa (21/7), operasi penyitaan kedua lokasi kebun ganja itu dilakukan pada Senin (20/7).
Puluhan personel Polisi dan dibantu prajurut TNI harus menembus hutan dan naik turun bukit untuk menuju lokasi.
Di Desa Agusen Kecamatan Blang Kejeren Kabupaten Gayo Lues misalnya, diketahui adanya kebun tanaman haram itu setelah beberapa waktu lalu ada laporan masyarakat kepada Polres Gayo Lues.
Baca Juga: Kapolda Aceh Pimpin Langsung Pemusnahan Ladang Ganja
Berkat informasi tersebut lalu dilakukan operasi ke lokasi yang dicurigai. Setelah dilakukan penyisiran pada enam titik baru mendapati sekitar 12 ha kebun ganja siap panen.
Untuk pemusnahan, ribuan batang ganja siap panen itu langsung dibakar di setiap titik penemuan. Ratusan batang di antaranya dijadikan barang bukti pengusutan dan diangkut ke markas Polres Gayo Lues di Kota Blang Kejeren.
Kapolres Gayo Lues, AKBP Carlie Saputra Bustamam, mengatakan, tim operasi juga berhasil menemukan enam karung goni ganja kering saat melakukan operasi itu. Ganja yang sudah siap pakai telah dikemas rapi dan diduga hendak diangkat ke perkampungan oleh pemiliknya.
Sayangnya polisi tidak menemukan petani tanaman haram itu. Pelaku ditenggarai kabur atau sedang tidak berada di lokasi kebun saat patroli polisi.
Baca Juga: Polri Musnahkan 10 Hektar Ladang Ganja di Aceh
Adapun di Desa Lamteuba Droe, Kecamatan Seulimum Kabupaten Aceh Besar, tim operasi yang turun langsung Kapolda Aceh, Irjen Pol Wahyu Widada juga memusnahkan sekitar 10 ha kebun ganja. Ketinggaian batang ganja siap panen itu mulai ukuran sekitar 50 cm hingga 2 m.
Dari total 10 ha lahan ganja itu tanamannya tersebar di beberapa titik yang di antaranya berjarak sekitar 500 meter atau lebih. Tidak jelas apakah petani ganja itu orang yang sama atau berbeda-beda.
Menurut Kapolres Aceh Besar, AKBP Riki Kurniawan SIK, untuk menuju lokasi harus jalan kaki. Lokasi penanaman ganja itu termasuk kawasan lahan hutan industri.
Baca Juga: Ladang Ganja Masih Ditemukan di Sumsel
Tim gabungan personel Poda Aceh, Polres Aceh Besar dan prujurit TNI Kodim 0101 BS juga menemukan bibit ganja yang masih disemai pemiliknya.
Menurut catatan Media Indonesia, kawasan pengunungan Lamteuba Aceh Besar dan Agusen Kabupaten Gayo Lues termasuk paling sering ditanami ganja oleh petani sekitar. Apalagi lokasinya di kawasan pedalaman yang jauh dari pantauan aparat penegak hukum.
Lalu dua lokasi yang saling berjauhan dan berbeda kabupaten itu termasuk kawasan sangat subur di Aceh. Warga sekitar suka bertani tanaman memabukkan itu, selain kawasan setempat cukup subur dan harga ganja asal Aceh diyakini berkualitas bagus dan harganya sangat menjanjikan.
"Di sana dilempar bijinya saja bisa tumbuh subur, apalagi diperlakukan dengan sempurna. Ganja produksi hutan Aceh juga cukup mahal harganya," tutur Nazar, pemerhati masalah sosial di Banda Aceh. (MR/OL-10)
DIREKTORAT Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan memindahkan sebanyak 2.189 warga binaan kategori risiko tinggi (high risk) ke Lapas Nusakambangan
Direktorat Interdiksi Narkotika Bea Cukai bersama Kanwil Bea Cukai Aceh, Bea Cukai Langsa, dan BNN menggagalkan penyelundupan narkotika dalam jumlah besar di Aceh Timur.
Ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kapasitas kelembagaan BNN RI dalam menghadapi tantangan permasalahan narkotika yang semakin kompleks, lintas sektor, dan dinamis.
Langkah ini merupakan bagian dari komitmen zero tolerance terhadap peredaran narkotika di Jakarta.
Badan Narkotika Nasional (BNN) RI bersama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai membongkar keberadaan clandestine laboratory atau pabrik narkotika ilegal milik jaringan internasional.
Dalam operasi tersebut, petugas mengamankan dua warga negara asing (WNA) berinisial TK dan MK yang diduga kuat merupakan bagian dari jaringan narkotika internasional.
Menjelang 12 hari memasuki Bulan Suci ramadan 1457 H, kondisi warga penyintas banjir besar di Aceh Tengah masih sangat memprihatinkan.
Ini merupakan bentuk kepedulian USK terhadap mahasiswa terdampak sekaligus upaya meringankan beban ekonomi mereka.
Mahasiswa diingatkan agar sebaik mungkin menghindari hal-hal yang merugikan.
Untuk menutupi kebutuhan pupuk tanaman padi, mereka harus beralih ke pupuk nonsubsidi.
Sebanyak 20 sumur bor berteknologi RO dibangun di wilayah terdampak banjir Aceh untuk menyediakan air bersih dan mendukung pemulihan warga.
Dampak dari kondisi cuaca ini, kata dia, juga berpotensi terjadi gelombang tinggi yang berkisar antara 1,5 meter hingga 2,5 meter di perairan wilayah Aceh bagian barat dan selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved