Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Antrean BBM Meluas Ke Pesisir Selat Malaka Aceh

Amirudddin Abdullah Reubee
06/3/2026 17:36
Antrean BBM Meluas Ke Pesisir Selat Malaka Aceh
Antrean mobil dan sepeda motor di beberapa SPBU kawasan pesisir Selat Malaka.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)


TERPROVOKASI dengan isu krisis stok Nasional 21 hari, akibat perang AS-Israel vs Iran, antrean BBM (Bahan Bakar Minyak) pada SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) di Provinsi Aceh meluas. Dari empat hari terakhir berawal di kawasan tengah Aceh seperti Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, kini meluas ke lokasi lain. 

Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah adalah dua kawasan bertetangga di wilayah tengah Provinsi Aceh. Itu merupakan lokasi paling parah dilanda banjir besar pada 24-27 November 2025 lalu. 

Warga di dataran tinggi berjulukan Tanah Gayo mudah terprovokasi isu itu terkait pernyataan Mentri ESDM Bahlil Lahadalia pada Senin 2 Februari, yang menyatakan bahwa stok BBM di Indonesia hanyak sampai 20 hari. Sayangnya isu tersebut juga melebar ke kabupaten lain di Jalur Nasional Banda Aceh-Medan.

Amatan Media Indonesia, pada Kamis (6/3) hingga Jumat dini hari, melubernya antrean mobil dan sepeda motor juga terjadi di beberapa SPBU kawasan pesisir Selat Malaka. Antara lain yaitu di beberapa stasiun pengisian di Kabupaten Pidie, Aceh Besar, Bireuen, Aceh Timur dan Kota Banda Aceh Ibukota Provinsi Aceh. 

"Antrean di Kuta Blang, 30 menit belum jalan. Latihan sabar" Tutur Prof Muttaqin Mansur, Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Aceh, yang antrean BBM di SPBU Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, Jumat siang. 

Di Kabupaten Pidie, antrean terjadi di SPBU Pulo Pisang (Kecamatan Pidie), SPBU Bambi (Kecamatan Pidie), SPBU Beureunuen (Kecamatan Mutiara). Lalu SPBU Blang Malu (Kecamatan Mutiara Timur) dan SPBU Ginting (Kecamatan Grong-Grong). 

Antrean yang tidak biasanya juga terjadi di Pertashop (Outlet penjualan skala kecil) Ulee Birah (Kecamatan Indrajaya), Pertashop Keubang (Kecamatan Indrajaya) dan Pertashop Paloh (Kecamatan Pidie). 

Kepanikan warga pada Kamis Sore kemarin meningkat setelah melihat ada beberapa Outlet berskala kecil itu tidak beroperasi seperti Pestashop Keuulibeut (Kecamatan Pidie) dan Pertashop Lampoih Saka (Kecamatan Peukan Baro). 

"Kemarin saya melihat antrean panjang di SPBU Beureunuen, akhirnya balik kanan tidak jadi mengisi bahan minyak. Tadi pagi istri mengingati untuk mengisi kembali. Tapi karena mengingat antrean, malas juga ke SPBU" Kata Tarmizi, warga Lampoih Saka, Kecamatan Peukan Baro, PidiePidie, Jumat (6/3). 

Diakui Tarmizi, akibat terprovokasi isu menyesatkan stok BBM bakal langka, telah mengundang keresahan masyarakat luar biasa. Kepanikan yang tidak terkendali itu bisa merembes ke barang kebutuhan lain seperti bahan pokok. "Ada yang sudah mulai membeli mie instan lebih dari kebutuhan biasa. Katanya untuk stok bahan makanan" tutur Tarmizi. 

TAMBAH STORAGE
Rektor Universitas Batam (UNIBA), Samsul Rizal, kepada Media Indonesia, Jumat (3/6) menggatakan, hendaknya pemerintah atau Kementerian ESDM segera mebangun tambahan strorage BBM (fasilitas penyimpanan minyak) dalam negeri. Itu sangat strategis untuk menambah kapasitas dan memperkuat cadangan energi nasional. 

Strorage BBM yang ada sekarang memang untuk cadangan 21-25 hari kebutuhan nasional. Seharusnya dengan kondisi saat ini paling kurang bisa menampung untuk kebutuhan 90 hari atau tiga bulan. 

"Ini sesuai dengan jumlah kebutuhan, banyaknya industri, membludaknya jumlah kenderaan dan keperluan lainnya sekarang. Kebutuhan terus meningkat, tentu stok energi jangan jalan di tempat" tutur Rektor UNIBA Samsul Rizal yang juga mantan Rektor USK Banda Aceh, dua periode. 

Sesuai dihimpun Media Indonesia, pembangunan storage Plumpang Jakarta yaitu penyimpanan BBM utama nasional pertama digunakan pada 1974. Lalu perluasan selanjutnya pada 1978  untuk peningkatan penampungan 80.000 KL dan penambahan berikutnya tahun 1987 menjadi 200.000 KL. 

Setelah itu ada perluasan lagi 25 depo Baro di wilayah Indonesia timur pada tahun 2016. Stok yang ada itu masih perlu banyak perlu penambahan kalau melihat jumlah kebutuhan dan untuk keamanan ketersediaan energi. 

"Semua yang ada itu dibangun sudah puluhan tahun lalu. Sedangkan kondisi terkini berbanding terbalik dengan kondisi eskalasi politik internasional dan kebutuhan kita," tutur Samsul Rizal yang juga tokoh masyarakat Aceh itu. 

Doktor (Ph.D) lulusan Structural Integrity, Toyohashi University of Technologi, Jepang itu, juga menyoroti cara penyampaian Mentri ESDM, Bahlil Lahadalia yang sempat mengundang kepanikan masyarakat luas. Keliru penyampaian kebutuhan strategis di saat kondisi emergensi, akan bermuara keresahan dan berefek besar ke masyarakat luas. 

"Harus mampu memastikan dan merealisasikan visi misi presiden menjadi kenyataan. Karena untuk merealisasikan keinginan presiden itu ada di tingkat Mentri dan Dirjen. Jadi pembantu presiden itu harus di atas rata-rata," ujar Guru Besar USK dan Dosen Teladan 1994 itu. (E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya