Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
MARAKNYA penangkapan anemon laut mengancam kerusakan total pada ekosistem terumbu karang di Perairan Pulau Pura, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.
Ketua Pengelola Kawasan Konservasi Suaka Alam Perairan (SAP) Selat Pantar dan sekitarnya di Kabupaten Alor, Muhammad Saleh Goro, menjelaskan, pada 1998-1999, aktivitas penyelaman di sekitar Perairan Pulau Pura masih menemukan terumbu karang dalam kondisi yang sangat sehat.
Namun seiring berjalannya waktu, kata dia, tampak kerusakan yang diakibatkan penempatan bubu atau alat penangkap ikan yang tidak dikontrol.
"Ketika para penyelam kembali lagi di Perairan Pura sekitar 2006-2007, diketahui kerusakan terumbu karang semakin luas dan tersisa hanya patahan karang yang ditutupi alga dan di sela-selanya ditumbuhi anemon," ujar Saleh Goro.
Muhammad Saleh Goro yang juga menjabat Kepala Cabang DKP NTT Wilayah Kabupaten Alor menjelaskan persoalan terjadi ketika populasi anemon semakin banyak tumbuh untuk menggantikan patahan karang dan alga justru ditangkap warga untuk dijual ke luar daerah.
Baca juga: Menghitung Rupiah dari Kerusakan Terumbu Karang
Ia mengaku sangat menyayangkan praktik ini karena anemon yang tumbuh ini sebenarnya menandakan sedang terjadi suksesi dari terumbu karang yang rusak menuju pemulihan secara alami.
"Namun saat warga mengambil anemon dari alam untuk dijual artinya kita mengganggu proses suksesi tadi dan proses tersebut tidak tuntas sampai terumbu karang pulih seperti semula," ungkapnya.
Hal ini yang membuat terumbu karang terancam rusak total karena proses suksesinya mulai kembali dari awal.
Saleh Goro berharap ada surat dari Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi untuk menghentikan praktik ini karena mengancam ekosistem laut sebagai bagian dari potensi kekayaan wisata laut di kawasan konservasi setempat.
"Perairan Pulau Pura ini juga merupakan kawasan zona pemanfaatan pariwisata dalam Kawasan SAP Selat Pantar sehingga harus dilindungi bersama," tuturnya.(OL-5)
Ekspedisi CEFAS mengungkap rahasia laut dalam Karibia. Ditemukan gunung bawah laut, "blue hole" raksasa, hingga terumbu karang purba yang tak tersentuh perubahan iklim.
Keberhasilan instalasi struktur Biorock Garden pertama di wilayah Jawa Timut
Studi terbaru mengungkap evolusi biofluoresensi pada ikan sejak zaman kuno. Ternyata, terumbu karang mempercepat kemunculan "neon" alami ini.
Dari perairan yang sempat minim kehidupan, terumbu karang kini kembali berwarna dan mangrove tumbuh semakin kokoh di pesisir Desa One Ete dan Pulau Bapa, Kabupaten Morowali. Rehabilitasi
Ilmuwan temukan fakta mengejutkan dari fosil telinga ikan: rantai makanan terumbu karang menyusut drastis akibat aktivitas manusia. Simak dampaknya!
KECERDASAN buatan (AI) kini melampaui sekadar asisten digital atau pengolah teks.
Mirkoplastik yang menempel di permukaan fitoplankton dapat menghalangi sinar matahari sehingga menghambat proses fotosintesis dan menurunkan kemampuan fitoplankton menyerap karbon.
PENELITIAN ilmiah terbaru menunjukkan bahwa rumput laut memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida (CO2) jauh lebih cepat dibandingkan hutan daratan.
Sinergi ini bertujuan untuk mendukung agenda pemerintah dalam memberdayakan nelayan pesisir sekaligus membangun budaya keselamatan di laut yang lebih kokoh.
Puisi Aku Laut, Aku Ombak karya Iverdixon Tinungki menggambarkan laut sebagai bagian hidup yang dekat dengan manusia.
ANAK-anak muda Tanah Air berhasil menoreh prestasi dengan menciptakan karya seni yang memanfaatkan sampah platik. Beautiful Raja Ampat karya Dwi Siti Qurrotu Aini dari ITB
Larangan impor produk akuatik oleh Tiongkok merupakan pukulan telak bagi industri makanan laut Jepang, terutama ekspor kerang dan teripang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved