Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Mikroplastik: Ancaman Senyap bagi Kemampuan Laut Menyerap Karbon

Basuki Eka Purnama
21/1/2026 19:47
Mikroplastik: Ancaman Senyap bagi Kemampuan Laut Menyerap Karbon
Ilustrasi(Freepik)

LAUTAN memiliki peran krusial sebagai penyerap karbon Bumi, namun efektivitasnya kini terancam oleh polusi mikroplastik

Pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi IPB University, Prof. Etty Riani, mengungkapkan bahwa keberadaan partikel plastik berukuran mikro ini menjadi salah satu faktor penghambat laut dalam menyimpan karbon.

Meski belum ada penelitian yang menyebut mikroplastik sebagai penyebab tunggal, Prof. Etty menegaskan bahwa sejumlah riset menunjukkan kontribusi negatifnya melalui gangguan pada organisme kunci dan proses biogeokimia.

Gangguan pada Rantai Makanan

Salah satu dampak paling nyata terjadi pada fitoplankton, organisme mikroskopis yang menyerap karbon melalui fotosintesis. 

"Mikroplastik (terutama nanoplastik) yang menempel di permukaan fitoplankton dapat menghalangi sinar matahari sehingga menghambat proses fotosintesis dan menurunkan kemampuan fitoplankton menyerap karbon," jelas Prof. Etty, dikutip Rabu (21/1).

Masalah berlanjut ke tingkat konsumen. Zooplankton sering kali keliru mengonsumsi mikroplastik karena bentuknya yang menyerupai makanan alami mereka. Hal ini memicu malnutrisi yang berujung pada penurunan populasi. Padahal, zooplankton memegang peran vital dalam memindahkan karbon ke dasar laut.

Mekanisme Marine Snow yang Terhambat

Secara alami, karbon dibawa ke dasar laut melalui kotoran dan bangkai organisme yang dikenal sebagai marine snow. Namun, kehadiran mikroplastik mengubah sifat fisik agregat karbon tersebut.

"Keberadaan mikroplastik membuat agregat karbon menjadi lebih ringan sehingga proses tenggelam ke dasar laut berlangsung lebih lambat. Akibatnya, karbon lebih lama berada di permukaan atau kolom air dan berpeluang kembali terlepas ke atmosfer," lanjut Prof. Etty.

Selain itu, mikroplastik bertindak sebagai inang bagi Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), seperti logam berat. Zat-zat ini merusak proses fisiologis dan reproduksi biota laut, yang pada akhirnya memperlemah kemampuan ekosistem dalam menyimpan karbon jangka panjang.

Solusi Holistik dan Ekonomi Sirkular

Guna mengatasi ancaman ini, Prof. Etty mendorong langkah preventif yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Selain mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, ia menekankan pentingnya menghapus penggunaan microbeads pada produk perawatan tubuh.

Ia juga menyoroti perlunya perubahan paradigma masyarakat agar melihat limbah sebagai komoditas bernilai ekonomi melalui ekonomi sirkular. Langkah ini harus dibarengi dengan pengembangan material ramah lingkungan seperti bioplastik serta penguatan sistem 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

"Pengurangan mikroplastik perlu dilakukan melalui kombinasi kebijakan yang efektif, teknologi inovatif yang implementatif, perubahan perilaku masyarakat, serta kolaborasi global. Yang terpenting saat ini adalah implementasi kebijakan yang sudah ada secara terkoordinasi dan konsisten," pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya