Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Gara-Gara Pernyataan Sanae Takaichi, Tiongkok Tutup Impor Hasil Laut dari Jepang

Basuki Eka Purnama
20/11/2025 03:39
Gara-Gara Pernyataan Sanae Takaichi, Tiongkok Tutup Impor Hasil Laut dari Jepang
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi(AFP/Kazuhiro NOGI )

PEMERINTAH Tiongkok mengakui keputusan untuk kembali menutup keran impor produk akuatik dari Jepang karena pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi soal Taiwan.

"Perlu saya tegaskan kembali bahwa karena tindakan PM Sanae Takaichi yang keterlaluan dan keliru mengenai Taiwan dan isu-isu utama lainnya, telah terjadi kemarahan dan kecaman keras dari rakyat Tiongkok. Dalam situasi saat ini, tidak akan ada pasar untuk produk akuatik Jepang meskipun produk tersebut masuk ke Tiongkok," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (19/11).

Pada 7 November 2025 lalu, PM Jepang Sanae Takaichi, di hadapan parlemen Jepang, mengatakan penggunaan kekuatan militer Tiongkok terhadap Taiwan, dapat 'menimbulkan situasi yang mengancam kelangsungan hidup bagi Jepang' dan menegaskan bahwa ia tidak akan menarik pernyataan itu.

Pernyataan tersebut dianggap dapat mendorong Jepang untuk menggunakan hak bela diri kolektif jika suatu kondisi dinilai 'mengancam kelangsungan hidup', meskipun Konstitusi Jepang menolak perang.

Artinya, pemerintah Jepang mengizinkan Pasukan Bela Diri bertindak untuk mendukung Amerika Serikat (AS) jika Tiongkok memberlakukan blokade maritim terhadap Taiwan atau melakukan bentuk tekanan lainnya.

Tiongkok pertama kali melarang impor hasil laut Jepang pada Agustus 2023 sebagai respons atas pembuangan air yang mengandung kadar rendah tritium radioaktif dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi.

Impor tersebut sempat dibuka sebagian pada 29 Juni 2025, tetapi baru berjalan pada 5 November ketika hanya tiga dari 697 perusahaan terdaftar yang diizinkan mengirimkan produk.

Jepang, kata Mao Ning, berkomitmen untuk memenuhi tanggung jawab regulasi dalam menjamin kualitas dan keamanan produk akuatiknya yang diekspor ke Tiongkok.

"Hal itu merupakan prasyarat bagi Tiongkok untuk mengimpor produk akuatik Jepang, tetapi sejauh ini Jepang belum dapat menyediakan materi teknis sesuai komitmennya," tambah Mao Ning.

Larangan impor produk akuatik oleh Tiongkok merupakan pukulan telak bagi industri makanan laut Jepang, terutama ekspor kerang dan teripang mengingat Tiongkok merupakan pasar luar negeri terbesar untuk makanan laut Jepang.

Menurut Mao Ning, pernyataan PM Takaichi tersebut merupakan alarm yang perlu diwaspadai untuk menghidupkan kembali militerisme di Jepang.

"Padahal Jepang berkomitmen dalam Konstitusinya untuk selamanya meninggalkan perang dan ancaman atau penggunaan kekuatan sebagai cara menyelesaikan sengketa internasional dan menetapkan prinsip yang berorientasi pada pertahanan secara eksklusif. Bersama-sama, mereka mengkodifikasi kewajiban Jepang sebagai negara yang kalah," ungkap Mao Ning.

Ia pun menegaskan bahwa tragedi sejarah tidak boleh terulang dan komunitas internasional harus mewaspadai dan dengan tegas menggagalkan segala upaya untuk menghidupkan kembali militerisme , bersama-sama menegakkan tatanan internasional pasca-Perang Dunia II dan menjaga perdamaian dunia. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik