AMERIKA Serikat kini menghadapi celah keamanan maritim yang kritis. Di saat ketegangan di Selat Hormuz meningkat akibat ranjau laut yang ditebar Iran, Angkatan Laut AS justru memensiunkan empat kapal penyapu ranjau spesialis (Avenger-class) ke Philadelphia untuk dinonaktifkan.
Langkah ini mengejutkan banyak analis pertahanan. Pasalnya, kemampuan penyapuan ranjau AS dianggap terabaikan selama puluhan tahun, sementara ancaman di jalur perdagangan minyak paling vital di dunia semakin nyata.
Iran dilaporkan menebar sekitar 10 ranjau di Selat Hormuz, jalur yang dilewati seperlima pasokan minyak dunia. Taktik ini bertujuan meningkatkan biaya ekonomi perang dan mengganggu stabilitas pasar energi global.
Meskipun Presiden AS berjanji membuka kembali jalur tersebut dan mengawal tanker minyak, para ahli meragukan efektivitasnya tanpa armada penyapu ranjau yang mumpuni. "Angkatan Laut AS mengabaikan penyapuan ranjau dan jumlah lambung kapal kita yang terbatas akan menyulitkan pengawalan tanker secara kredibel," ujar Eliot Cohen dari Center for Strategic and International Studies.
Ketimpangan kekuatan dalam perang ranjau laut (mine warfare) menjadi sorotan utama bagi para strategis militer:
| Aspek | Amerika Serikat | Tiongkok |
|---|---|---|
| Kapal Spesialis | 4 Kapal (Avenger-class) | 40+ Kapal Dedicated |
| Stok Ranjau | Terbatas/Rahasia | 50.000 - 100.000 Unit |
| Strategi Utama | Drone & AI (Tahap Transisi) | Kombinasi Konvensional & Masif |
Sebagai pengganti kapal berawak, Angkatan Laut AS mulai mengandalkan Littoral Combat Ships (LCS) dan teknologi nirawak:
Namun, tantangannya adalah teknologi ini masih dalam tahap pengujian terbatas dan belum diproduksi dalam jumlah massal untuk menghadapi konflik intensitas tinggi.
Keputusan AS untuk memensiunkan aset penyapu ranjau di tengah meningkatnya ancaman global menciptakan risiko besar. Meski masa depan pertahanan maritim terletak pada drone dan AI, kesenjangan antara penghentian aset lama dan kesiapan teknologi baru dapat menjadi celah yang dimanfaatkan oleh lawan seperti Iran dan Tiongkok. (WSJ/I-2)
Donald Trump nyatakan AS tak butuh bantuan sekutu amankan Selat Hormuz. Klaim sukses militer lawan Iran meski pasokan minyak dunia terancam blokade.
Presiden Emmanuel Macron bantah klaim Donald Trump. Prancis pastikan tidak kirim kapal perang ke Selat Hormuz di tengah perang Iran-AS-Israel 2026.
SAS batalkan 130+ penerbangan di Norwegia akibat lonjakan harga avtur dampak ketegangan di Selat Hormuz. Serikat pekerja soroti masalah staf di tengah krisis energi.
Donald Trump pertimbangkan AS keluar dari NATO setelah sekutu tolak amankan Selat Hormuz. Ia tegaskan militer AS tidak butuh bantuan siapa pun dalam konflik Iran.
Militer AS mengerahkan bom raksasa 5.000 pon untuk hancurkan situs bawah tanah Iran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved