Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
ESKALASI militer di Timur Tengah mencapai titik baru setelah militer Amerika Serikat (AS) mengerahkan bom berpemandu seberat 5.000 pon (sekitar 2,3 ton) untuk menghancurkan situs rudal Iran di sepanjang Selat Hormuz pada Selasa waktu setempat.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi serangan tersebut menyasar fasilitas bawah tanah yang menyimpan rudal jelajah anti-kapal. "Beberapa jam lalu, pasukan AS berhasil menggunakan munisi penetrator berat 5.000 pon pada situs rudal Iran yang diperkeras di sepanjang garis pantai dekat Selat Hormuz," tulis CENTCOM melalui platform X.
Langkah ini diambil karena keberadaan rudal tersebut dianggap mengancam keamanan pelayaran internasional di jalur vital perdagangan dunia tersebut.
Pejabat AS mengungkapkan bom yang digunakan adalah GBU-72 Advanced 5K Penetrator. Ini merupakan munisi canggih yang pertama kali diuji coba pada 2021 dan dirancang khusus untuk menembus target yang terkubur jauh di dalam tanah.
"Ini adalah kit berpemandu GPS, bukan laser. Jadi, baik hujan, panas, maupun salju, bom ini akan mengenai target," ujar Staf Sersan Angkatan Udara AS, Zachary Schaeffer, dalam sebuah penjelasan teknis. Laksamana Brad Cooper, komandan CENTCOM, menegaskan bahwa AS akan terus menguras kemampuan Iran yang mengancam kebebasan navigasi.
Tak lama setelah gempuran AS, gelombang serangan balasan menghantam aset-aset sekutu. Di Baghdad, Kedutaan Besar AS di Zona Hijau kembali menjadi sasaran drone dan roket pada Rabu pagi. Meski sistem pertahanan udara berhasil menjatuhkan dua roket, serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan di sekitar area kedutaan.
Militer Irak mengecam keras serangan ini dan menyebutnya sebagai tindakan kriminal kelompok luar angkasa. "Tindakan kriminal ini merupakan serangan teroris terang-terangan terhadap kedaulatan dan otoritas Irak," tegas pernyataan resmi militer Irak.
Sementara itu, ketegangan meluas hingga ke Uni Emirat Arab (UEA). Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengonfirmasi bahwa sebuah proyektil Iran jatuh di dekat pangkalan Al Minhad, yang merupakan markas militer Australia di Timur Tengah.
"Pukul 09.15 pagi ini di pangkalan Al Minhad, terdapat proyektil Iran yang jatuh di dekat pangkalan tersebut. Saya pastikan tidak ada personel Australia yang terluka, dan semua orang dalam keadaan aman," ujar Albanese kepada wartawan.
Kelompok "Perlawanan Islam di Irak", payung bagi milisi yang didukung Iran, mengklaim telah meluncurkan 47 serangan menggunakan puluhan drone dan roket terhadap situs-situs yang terkait dengan AS. Rentetan konflik ini terjadi di tengah kampanye militer AS dan Israel terhadap pengaruh Teheran yang telah berlangsung selama tiga minggu terakhir. (AFP/CNN/BBC/Z-2)
Presiden AS Donald Trump meluapkan kekecewaan setelah negara-negara NATO menolak bantuannya di Selat Hormuz. Trump sebut NATO buat kesalahan konyol.
Pemerintah AS menginginkan Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Australia, Kanada, yordania, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Teluk untuk bergabung dalam koalisi tersebut.
Polandia memiliki fokus tersendiri, membangun pasukan darat, udara, dan angkatan laut untuk menghadapi konflik perbatasan di Ukraina.
Pemerintah kaji opsi WFH untuk tekan konsumsi BBM akibat tensi global. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pastikan stok energi aman hingga Lebaran 2026.
Uni Eropa, Jerman, dan Inggris kompak tolak permintaan AS kirim pasukan ke Selat Hormuz. Fokus pada diplomasi demi cegah lonjakan harga minyak global. Simak!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved